Sabtu, 08 Juli 2017

Fisik bukanlah ukuran Kemuliaan

Suatu ketika, betis Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu'anhu nampak terlihat disebabkan pakaian nya tersingkap. Betis Abdullah bin Mas'ud sangat kecil, sehingga hal tersebut dijadikan bahan tertawaan orang-orang yang berada disana.

Melihat itu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kemudian berkata "Apa yang membuat kalian tertawa"
kemudian mereka menjawab " wahai Rasulullah kami tertawa karna melihat betis nya sangat kecil"
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kemudian berkata "Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, Sesungguhnya kedua betis ini .. dalam timbangan nanti lebih berat timbangan nya dibandingkan dengan Gunung Uhud."

Abdullah bin Mas'ud : Kekurangannya yang dipandang rendah oleh orang lain, Namun Rasulullah shallallahu alaihi wasallam Memuji nya. Pelajaran nya adalah Fisik bukanlah ukuran kemuliaan.

Rabu, 14 Juni 2017

VIII. Definisi Iman Menurut Ahlussunnah

Pengertian Iman :
Dan termasuk prinsip-prinsip / pondasi-pondasi Akidah Salafush Sholih, Ahlussunnah wal Jama'ah : Bahwa Iman menurut mereka adalah :

"Membenarkan dengan kalbu, mengatakan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota-anggota tubuh, bisa bertambah karena ketaatan, dan bisa berkurang karena melakukan kemaksiatan."
Iman adalah : perkataan dan amal perbuatan :

* Perkataan : oleh hati dan lisan
* Amal perbuatan : oleh hati, lisan, dan anggota tubuh

(1) Perkataan oleh hati : yaitu akidahnya, membenarkan, menetapkan, dan meyakini.
(2) Perkataan oleh lisan : yaitu mengikrarkan amal; yaitu : bersyahadatain, dan mengamalkan konsekuensinya.
(3) Amal perbuatan anggota tubuh : melakukan segala perintah dan meninggalkan segala larangan.

"Tidak ada iman, kecuali dengan perbuatan; tidak ada ucapan dan perbuatan, kecuali dengan niat; dan tidak ada ucapan, perbuatan, maupun niat, kecuali dengan tuntunan yang sesuai dengan sunnah."

Allah Ta'ala telah menyebutkan sifat orang-orang Mukmin sejati di dalam Al-Qur-an, Yakni bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih dengan apa yang mereka imani, berupa prinsip-prinsip agama maupun cabangnya, baik yang tercermin dalam 'aqida, ucapan, dan perbuatan mereka, yang zhahir maupun bathin. Allah Ta'ala berfirman :

Yang Artinya :
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman [594] ialah mereka yang bila disebut nama Allah [595] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibackan ayat-ayat Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan sholat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian disisi uhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia. (QS.Al-Anfaal:2-4)
Allah Ta'ala selalu menggandengkan antara iman dengan amal perbuatan dalam banyak ayat Al-Quran Al-karim, seperti dalam firman-Nya :
(yang artinya)
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surge firdaus menjadi tempat tinggal" (QS. Al-Kahfi : 107)


Allah berfirman (yang artinya) :
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan : "Tuhan Kami ialh Allah' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih... ". (QS. Fushilat : 30)

Allah juga berfirman (yang artinya) :
"Dan itulah surge yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan." (QS. Az-Zukhruf : 72)




Nabi صلى الله عليه وسلمbersabda:


"Katakanlah: "Aku beriman kepada Allah kemudian istiqamahlah."


 (HR.Muslim)


 
Nabi bersabda juga :


"Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih. Yang paling tinggi adalh ucapan: ‘Laa ilaaha illallaah’ (Tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar,kecuali Allah) dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan (duri, kotoran,dll.-pent) dari jalan. Adapun sifat malu, itu salah satu dari cabang iman." (HR. Al-Bukhari)


 


Jadi ilmu dan amal itu saling terkait, tidak pernah terpisah antara satu dan yang lainnya. Selain itu, amal merupakan inti dari ilmu.


 


Sesungguhnya iman itu memepunyai beberapa tingkat dan cabang, dapat bertambah dan berkurang, serta orang yang beriman itu mempunyai kelebihan antara satu dengan yang lain, seperti dalam beberapa ayat maupun hadits, diantaranya, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) :


" ...dan supaya orang yang beriman bertambah imannya ..." (QS. Al-Muddatstsir: 31)


 Allah Ta’ala berfirman pula :


"...Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?" Adapun orang-orang yang beriman, Maka surat ini menambah imannya...


(QS. At-Taubah: 124)
 


"..dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan


hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (QS. Al-nfal:2)


 "Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)..."


(QS. Al-Fath:4)


Nabi shallallahu 'alaihi wassalam bersabda :


"Barang siapa mencintai (seseorang) karena Allah dan membenci karena Allah pula, maka telah sempurnalah imannya." (Shahiih Sunan Abi Dawud oleh al-Albani).


 
Nabi juga bersabda :


"Barang siapa diantara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaknya ia mengubahnya dengan tanggannya; jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya (menasehati); dan jika ia tidak mampu-pula, maka dengan hatinya, dan yang demikian itu selemah-lemah iman." (HR. Muslim).


Demikianlah para Sahabat...belajar dan memahami dari Rasulullah..bahwa iman itu adalah i’tiqad, ucapan, amal, dapat bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.


 Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib berkata:


"Sabar adalah bagian dari iman, yang kedudukannya seperti kepala pada badan. Barang siapa yang tidak mempunyai kesabaran, maka tidak sempurna imannya."
 
"Abdullah bin Mas’ud berdo’a :


"Ya Allah, tambahkanlah keimanan, keyakinan, dan pemahaman kami!"


 "Abdullah bin ‘Abbas, Abu Hurairah, dan Abu Darda’ pernah berkata:


"Iman itu bertambah dan berkurang."


Waqi’ bin al-Jarrah berkata :


"Ahlus Sunnah mengatakan bahwa iman itu terdiri dari ucapan dan amal."


Imam Ahlus Sunnah, Ahmad bin Hanbal berkata:


"Iman itu bertambah dan berkurang; bertambah dengan amal (ketaatan) dan berkurang dengan meninggalkan amal (ketaatan)."


 Al-Hasan al-Bashri berkata :


"Bukankah iman itu hanya sekadar hiasan dan angan-angan belaka, tetapi ia adalah apa yang menghukam dalam sanubari dan dibenarkan oleh amal."


 Imam asy-Safi’i berkata :


"Iman itu terdiri dari ucapan dan amal; bertambah dan berkurang; bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan."


Al-Hafizh Abu ‘Umar bin ‘Abdul Barr...berkata dalam kitabnya at-Tamhiid :


"Para ahli fiqih dan hadits sepakat bahwa iman itu terdiri dari ucapan dan amal;


tidak ada amal kecuali dengan niat. Iman itu menurut mereka bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Semua bentuk ketaatan adalah iman."


Inilah paham yang menjadi pijakan para Sahabat, Tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dari kalangan ahli hadits, ahli fiqih dan para Imam. Tiada seorangpun yang berselisih dari kalangan ulama Salaf maupun khalaf, kecuali orang-orang yang telah menyimpang dari kebenaran dalam hal ini.


 


 

Rabu, 31 Mei 2017

XII. Iman Kepada Taqdir

Ahlussunnah wal Jama’ah: berakidah dengan akidah yang pasti bahwa setiap kebaikan dan keburukan terjadi menurut qodho` dan qodar Allah (takdir). Dan bahwa Allah Maha berbuat apa yang Dia kehendaki, segala sesuatu terjadi menurut kehendak-Nya, dan tidak keluar dari kehendak-Nya (al-masyi`ah) dan pengaturan-Nya. Dan Dia mengetahui sejak zaman azali (zaman dahulu yang tiada batasnya); segala yang telah terjadi, dan segala yang sedang atau akan terjadi sebelum hal itu terjadi. Dan Dia telah menentukan takdir bagi alam semesta dan isinya ini berdasarkan ilmu-Nya yang sudah ada sejak dahulu, dan berdasarkan hikmah-Nya. Dan Dia telah mengetahui keadaan-keadaan hamba-hamba-Nya, dan telah mengetahui rizki-rizki mereka, ajal mereka, amal-amal perbuatan mereka dan perkaraperkara mereka yang lainnya; maka setiap yang terjadi berasal dari ilmu-Nya, kuasa-Nya, dan kehendak-Nya.

Ringkasnya, pengertiannya adalah: apa yang telah didahului oleh ilmu-Nya dan telah ditulis oleh al-Qolam (di Lauhil Mahfudz); yaitu apa saja yang terjadi hingga selamanya.

Firman-Nya:
"....(Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnatullah pada Nabi-Nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku."(QS. Al-Ahzaab: 38)

Firman-Nya pula:
"esungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran."(QS. Al-Qamar: 49)

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
"Tidaklah beriman seseorang hingga dia beriman kepada takdir baik dan buruk; meyakini bahwa apa yang telah ditakdirkan menimpanya tidak akan meleset darinya dan apa yang ditakdirkan tidak menimpanya tidak akan menimpanya."
(Shahiih Sunan at-Trimidzi, oleh al-Albani.)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpendapat bahwa beriman kepada takdir tidak akan sempurna, kecuali dengan empat hal, yang dinamakan Maratibul Qadar (tingkatan takdir) atau disebut juga rukun takdir. Empat hal ini merupakan pengantar untuk memahami masalah takdir. Tidak sempurna keimanan seseorang dengan takdir, kecuali dia mewujudkan semua rukunnya karena satu dengan lainnya berhubungan erat. Barang siapa mengakui semuanya, maka sempurnalah keimanannya kepada takdir. Sebaliknya, barang siapa mengurangi salah satu darinya atau melebihkannya, maka rusaklah keimanannya kepada takdir.


a. Tingkatan pertama: ‘Al-‘Ilm (Ilmu)

Yaitu, beriman bahwa Allah Ta’ala Maha Mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi, sedang terjadi, dan yang belum terjadi; serta seandainya terjadi, Dia Maha Mengetahui bagaimana akan terjadi, secara global dan rinci. Dia mengetahui apa yang dilakukan makhluk –Nya sebelum diciptakan; Dia mengetahui rizki, ajal, amal perbuatan, dan gerak-gerik mereka; Dia mengetahui siapa di antara mereka yang bahagia dan sengsara. Hal tersebut berdasarkan ilmu-Nya yang qadim (dahulu), yang menjadi sifat-Nya sejak zaman azali. Allah Ta’ala berfirman:
"....Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu."
(QS. At-Taubah: 115)

b. Tingkatan kedua: Al-Kitabab (Pencatatan)

Yaitu, mengimani bahwa Allah telah mencatat segala apa yang telah diketahui sebelumnya dari semua takdir makhluk-Nya dalam Lauhul Mahfuzh, yaitu kitab yang tidak ada suatu apa pun luput darinya. Maka segala sesuatu yang telah terjadi sedang terjadi dan akan terjadi sampai hari Kiamat telah tertulis di sisi Allah Ta’ala dalam Ummul Kitaab (kitab induk) yang dinamakan: adz-Dzikr, al-Imaam, dan al-Kitaabul Mubiin. Allah Ta’ala berfirman:

" Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauhul Mahfuzh)." (QS. Yaasiin: 12)

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

"Sesungguhnya pertama kali yang diciptakan Allah adalah al-Qalam (pena). Kemudian Allah berfirman: ‘Tulislah!’ Pena tersebut bertanya: ‘Apa yang harus saya tulis?’ Allah menjawab: ‘Tulislah takdir (semua makhluk): apa yang telah terjadi dan akan terjadi sampai akhir zaman (hari Kiamat)!’ (Shahiih Sunanut Tirmidzi oleh Imam al-Albani)

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
"Sesungguhnya semua kalbu anak keturunan Adam ada diantara dua jari di antara jari-jemari ar-Rahman, bagaikan satu kalbu, Dia mengubah-ubahnya (mengarah-arahkannya, membolak-balikkannya ke mana saja) menurut kehendak-Nya." (HR. Muslim)


c. Tingkatan keempat: Al-Khalq (Penciptaan)

Maksudnya, beriman bahwa sesungguhnya Allah Pencipta segala sesuatu. Tiada Pencipta dan tiada Rabb selain Dia. Segala sesuatu selain Dia adalah makhluk. Dialah yang menciptakan makhluk yang berbuat sekaligus perbuatannya, serta semua yang bergerak sekaligus gerakannya. Allah Ta’ala berfirman:

"....Dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya."(QS. Al-Furqaan: 2)
 
Segala yang terjadi, berupa perbuatan baik atau jelek, iman atau kufur, dan ta’at atau maksiat telah dikehendaki, ditentukan, dan diciptakan oleh Allah. Allah Ta’ala berfiman:

"Dan tidak ada seorangpun akan beriman, kecuali dengan izin Allah...."(QS.Yunus: 100)

Firman-Nya juga:
"Katakanlah: ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami, melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami...." (QS. At-Taubah: 51)

Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Pencipta, hanya milik-Nya menciptakan dan mengadakan. Dia Yang Maha Menciptakan segala sesuatu tanpa pengecualian, tiada Pencipta, dan tiada Rabb selain Dia. Allah Ta’ala berfirman:
"Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu." (QS. Az-Zumar: 62)

Sesungguhnya Allah menyukai ketaatan dan membenci kemaksiatan, memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki dengan karunia-Nya, dan menyesatkan orang yang dikehendaki karena keadilan-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

"Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya. Dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain...." (QS. Az-Zumar: 7)

Tidak ada hujjah dan alasan bagi siapa yang telah disesatkan-Nya karena Allah telah mengutus para Rasul-Nya untuk mematahkan alasan (agar manusia tidak dapat membantah Allah). Dia menyandarkan perbuatan manusia kepadanya dan menjadikan perbuatan itu sebagai upayanya. Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kemampuannya.
Allah Ta’ala berfirman:
 
"Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini...."(QS. Al-Mu’min: 17)

Firman-Nya:

"Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir." (QS. Al-Insaan: 3)

 
Serta Firman-Nya:
"....(Para Rasul diutus) supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-Rasul itu...." (QS. An-Nisaa’: 165)

Firman-Nya yang lain menyatakan:
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya...." (QS. Al-Baqarah: 286)


Namun, keburukan tidak boleh dinisbatkan kepada Allah karena kesempurnaan rahmat-Nya. Sebab Dia telah memerintahkan kebaikan dan melarang keburukan. Meskipun demikian, keburukan itu terjadi dalam halhal yang telah menjadi ketentuan-Nya dan sesuai dengan hikmah

kebijaksanaan-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
"Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri...." (QS. An-Nisaa’: 79)

Allah Ta’ala Maha Suci dari kezhaliman dan bersifat Maha Adil. Maka dari itu Allah tidak akan pernah sekali-kali menzhalimi seorang pun dari hamba-Nya walaupun hanya sebesar biji sawi. Semua perbuatan-Nya adalah keadilan dan rahmat. Allah Ta’ala berfirman:


"....Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku." (QS. Qaaf: 29)

Firman-Nya pula:

"....Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun." (QS. Al-Kahfi: 49)
 
Firman-Nya pula:
"Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar dzarrah...." (QS. An-Nisaa’: 41)


Allah Ta’ala tidak ditanya tentang apa yang diperbuat dan dikehendaki-Nya, berdasarkan firman-Nya:

"Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai." (QS. Al-Anbiyaa’: 92)

Maka Allah Ta’alalah yang menciptakan manusia dan perbuatannya. Dia memberikan kepadanya kemauan, kemampuan, ikhtiar, dan kehendak yang telah Allah berikan kepadanya agar segala perbuatannya itu benarbenar berasal darinya. Kemudian, Allah menjadikan bagi manusia akal untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk. Allah tidak menghisabnya, melainkan atas amal yang ia perbuat dengan kehendak dan ikhtiarnya sendiri. Manusia tidak dipaksa tetapi dia mempunyai ikhtiar dan kehendak, maka dia bebas memilih dalam segala perbuatan dan keyakinannya. Hanya saja, kehendak manusia mengikuti kehendak Allah. Segala yang Allah kehendaki-Nya pasti akan terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki pasti tidak akan terjadi. Jadi, Allah Ta’ala sebagai Pencipta segala perbuatan hamba-Nya, sedangkan mereka yang melakukan perbuatan itu. Intinya, perbuatan itu diciptakan dan ditakdirkan oleh Allah, namun diperbuat dan dilakukan oleh manusia. Allah Ta’ala berfirman:

"(Al-Qur-an sebagai peringatan) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam."(QS. At-Takwiir: 28-29)

Allah telah membantah orang-orang musyrikin ketika mereka berhujjah dengan takdir. Mereka berkata:

"....Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun...."(QS. Al-An’aam: 148)

Allah membantah kebohongan mereka dalam firman-Nya:

"....Katakanlah: ‘Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada kami?’ Kamu tidak mengikuti, kecuali persangkaan belaka dan kamu tidak lain hanyalah berdusta." (QS. Al-An’aam:148)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani bahwa takdir itu merupakan rahasia Allah terhadap makhluk-Nya. Tidak ada seorang Malikat yang terdekat maupun Nabi yang diutus-Nya yang mengetahui hal itu. Mendalami dan menyelaminya adalah sesat karena Allah Ta’ala telah merahasiakan ilmu takdir dari makhluk-Nya dan melarang mereka untuk mencapainya. Allah Ta’ala berfirman:

"Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai."(QS. Al-Anbiyaa’: 23)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah berdialog dan berdebat dengan orang orang yang menyelisihi mereka dari golongan-golongan sesat, dengan berlandaskan firman Allah Ta’ala:
"....Katakanlah: ‘Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?" (QS. An-Nisaa’: 78)


 

 







Senin, 29 Mei 2017

XI. Iman Kepada Hari Akhir

Ahlussunnah wal Jama’ah berakidah dan beriman kepada hari Akhir, maknanya: Akidah (keyakinan) yang pasti, dan membenarkan secara sempurna; terhadap hari Kiamat, dan mengimani segala apa yang diberitakan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung di dalam kitab-Nya yang mulia, dan apa yang diberitakan oleh Rosul-Nya yang terpercaya (Al-Amin) shollAllahu ‘alaihi wasallam berupa hal-hal yang akan terjadi setelah kematian, hingga penduduk surga masuk ke surga, dan penduduk neraka masuk ke neraka.


Ahlus Sunnah wal Jama’ah beriman bahwa ilmu tentang waktu terjadinya hari Kiamat hanya pada Allah Ta’ala, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya, kecuali Dia.


Allah Ta’ala berfirman (Yang Artinya):

"Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat"


(Luqman: 34)



Allah telah merahasiakan waktu terjadinya hari Kimat kepada hamba-Nya, tetapi Dia memberikan tanda-tanda yang menunjukkan dekatnya kejadian tersebut. Ahlus Sunnah wal Jama’ah beriman kepada segala hal yang akan terjadi dari tanda-tanda hari Kiamat itu, baik tanda-tanda shughra (kecil) maupun kubra (besar). Tanda-tanda tersebut sebagai isyarat akan terjadinya hari Kiamat, dan beriman terhadapnya termasuk dalam cakupan iman kepada hari Akhir.


a. Tanda-tanda kecil hari Kiamat

Yaitu tanda-tanda yang munculnya sebelum hari Kiamat dengan kurun waktu yang cukup panjang; kadang pula sebagian tandanya muncul bersamaan dengan tanda-tanda kubra (besar). Tanda-tanda Kiamat kecil banyak sekali dan sekarang akan kami sebutkan sebagian yang shahih, di antaranya:


* Diutusnya Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, ditutupnya kenabian dan risalah dengannya, meninggalnya beliau صلى الله عليه وسلم, ditaklukkannya Baitul Maqdis, munculnya banyak fitnah, ummat Islam mengikuti tata cara ummat terdahulu dari orang Yahudi dan Nasrani, munculnya para dajjal (para pembohong) dan orang-orang yang mengaku sebagai Nabi.


* Pemalsuan hadits-hadits dengan mengatasnamakan Rasulullah ,صلى الله عليه وسلم penolakan sunnahnya, banyak kebohongan, tidak hati-hati dalam menukil kabar, miskin ilmu, menuntut ilmu dari orang yang tidak berilmu (bukan ahlinya), menyebarnya kebodohan dan kerusakan, meninggalnya orang-orang shalih, terkikisnya sendi-sendi Islam, sedikit demi sedikit, dan semua ummat mengerumuni ummat Muhammad صلى الله عليه وسلم kemudian Islam dan pemeluknya dianggap asing.


* Banyak terjadi pembunuhan, berharap mati karena musibah yang dahsyat, ghibthah (keinginan agar dirinya seperti) orang-orang yang sudah mati dan berandai-andai, andaikan ia sudah mati, karena dahsyatnya malapetaka (yang dia hadapi), banyak orang yang meninggal tiba-tiba, meninggal karena gempa bumi dan penyakit, jumlah laki-laki sedikit, jumlah wanita banyak, munculnya para wanita dengan berpakaian tetapi telanjang, menyebarnya prostitusi di jalanjalan,


dan munculnya pendukung orang-orang zhalim dari kalangan petugas keamanan yang mendera manusia.


* Munculnya alat-alat musik, arak, perzinaan, riba, pemakaian sutera dan menganggap hal tersebut halal (bagi laki-laki), serta terbenamnya salah satu bagian bumi dengan segala yang ada di atasnya, munculnya perubahan bentuk (tubuh) dan merajalelanya fitnah.


* Disia-siakannya amanah menyerahkan suatu perkara kepada yang bukan ahlinya, kepemimpinan dikuasai oleh orang-orang hina, diangkatnya orang-orang yang hina daripada orang-orang yang baik, seorang hamba sahaya wanita melahirkan tuannya, bermegah-megahan


dalam bangunan, manusia berbangga-bangga dengan dekorasi masjid, berubahnya zaman sehingga berhala disembah, dan merajalelanya kesyirikan di tengah ummat manusia.


* Memberikan salam hanya kepada orang-orang yang dikenal saja, banyaknya perniagaan, pasar-pasar yang saling berdekatan, kekayaan yang melimpah di tangan manusia tetapi tidak bersyukur, menyebarkan kekikiran, banyaknya persaksian palsu, menyembunyikan persaksian


yang benar, munculnya perbuatan keji, saling berselisih, saling membenci, bertengkar, memutus tali persaudaraan, dan perlakukan yang jelek terhadap tetangga.


* Waktu semakin terasa cepat, sedikitnya keberkahan dalam waktu, bulan sabit menggelembung, terjadinya fitanh seperti bagian malam yang gelap gulita, terjadinya permusuhan di antara manusia, meremehkan sunnah-sunnah yang telah ditekankan oelh Islam, dan orang tua menyerupai anak muda.


* Binatang buas dan benda-benda mati dapat berbicara kepada manusia, surutnya air Sungai Eufrat karena munculnya gunung emas, dan benarnya mimpi seorang Mukmin.


* Apa yang terjadi di kota Madinah Nabawiyah ketika ia menolak kejelekan, maka tidak akan tinggal di Madinah, kecuali orang-orang yang bertakwa lagi shalih, kembalinya Jazirah Arab menjadi daerah yang subur dan banyaknya sungai yang mengalir, dan keluarnya seorang laki-laki dari suku Qahthan.


* Banyaknya orang-orang Romawi yang dipatuhi banyak orang dan peperangan mereka terhadap kaum Muslimin, juga peperangan kaum Muslimin terhadap orang Yahudi sehingga bebatuan dan tumbuh tumbuhan berkata:

"Wahai, orang Muslim, ada orang Yahudi, kemarilah dan bunuhlah dia."


* Penaklukan kota Romawi seperti ditaklukkannya kota Konstantinopel (Istanbul, Turki) dan tanda-tanda Kiamat kecil lainnya yang terdapat dalam hadits-hadits shahih.




b. Tanda-tanda besar hari Kiamat

Tanda-tanda ini yang menunjukkan dekatnya kejadian hari Kiamat. Jika sudah tampak, hari Kiamat tidak lama lagi akan terjadi. Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani hal itu, seperti yang telah dijelaskan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم,


diantaranya:

* Munculnya Imam Mahdi, dia adalah Muhammad bin ‘Abdullah dari keturunan Ahlul Bait Rasulullah صلى الله عليه وسلم, dia keluar dari arah timur dan berkuasa selama tujuh tahun. Bumi akan diliputi dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi kezhaliman dan kejahatan. Di saat itu ummat akan merasakan kenikmatan yang luar biasa. Bumi akan mengeluarkan tumbuhan-tumbuhan, langit menurunkan hujan dan kekayaan melimpah-ruah.

* Keluarnya al-Masih ad-Dajjal, turunnya Nabi ‘Isa bin Maryam AS pada Menara Putih di bagian timur Damaskus Syam. Beliau turun sebagai hakim yang memutuskan dan menjalankan syari’at Muhammad ,صلى الله عليه وسلم dia akan membunuh Dajjal, dan berkuasa di muka bumi dengan syari’at Islam. Turunnya Nabi ‘Isa di tengah kelompok yang didukung Allah, yang berperang di jalan kebenaran. Mereka akan berkumpul untuk memerangi Dajjal. Nabi ‘Isa akan turun pada saat iqamah shalat (Shubuh) dikumandangkan dan beliau shalat di belakang pemimpin kelompok tersebut.


* Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj. Selain itu, terjadi tiga peristiwa:


terbenamnya salah satu bagian bumi yaitu timur, di barat, dan di Jazirah Arab; keluarnya asap tebal; terbitnya matahari dari arah barat; keluarnya binatang melata dari bumi dan berbicara dengan manusia; serta keluarnya api yang mengumpulkan manusia.


Ahlus Sunnah wal Jama’ah beriman kepada segala sesuatu yang terjadi dari seluruh perkara yang ghaib setelah kematian dari sumber yang telah dikabarkan oleh Allah dan Rasul-Nya صلى الله عليه وسلم, baik yang meliputi sakaratul maut, hadirnya Malaikat Maut, gembiranya orang Mukmin karena akan bertemu dengan Rabbnya, hadirnya syaitan ketika kematian, tidak diterimanya iman orang kafir ketika mati, adzab kubur dan fitnah di sisi Rabb mereka dalam keadaan diberikan rizki, dan ruh orang yang berbahagia diberi nikmat sedang ruh orang yang celaka diberi adzab.


Ahlus Sunnah juga mengimani hari Kiamat kubra ketika Allah akan menghidupkan orang-orang yang sudah mati dan membangkitkan mereka dari kuburnya kemudian Dia menghisabnya.


Ahlus Sunnah mengimani pula adanya tiupun sangkakal sebanyak tiga tiupan, yaitu:


Pertama: Tiupan yang mengejutkan dan menakutkan.


Kedua: Tiupan kematian yang dengan tiupan tersebut alam tampak berubah dan aturannya berbeda. Saat itulah akan terjadi kehancuran dan kematian. Saat itu juga terjadinya kebinasaan bagi makhluk yang telah Allah tentukan kebinasaannya.


Ketiga: Tiupan kebangkitan untuk menghadap kepada Rabb semesta alam.




Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani adanya kebangkitan. Allah akan membangkitkan mayat-mayat dari dalam kubur, maka bangkitlah semua manusia untuk menghadap Rabb semesta alam dengan tanpa alas kaki, telanjang, dan tidak dikhitan. Matahari dekat dengan mereka; di antara mereka ada yang peluhnya bercucuran sampai ke mulutnya. Orang yang pertama kali dibangkitkan dari bumi adalah Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم
 
Pada hari yang besar itulah manusia keluar dari kuburnya; mereka seperti belalang yang bertebaran, mereka datang dengan cepat kepada Sang Penyeru itu. Semuanya terdiam tak bergerak ketika ditebarkan kitab catatan amal. Maka akan terlihat semua yang tersembunyi, tampaklah segala yang tertutup, dan terbukalah kejelekan yang tersimpan dalam hati. Allah akan berbicara langsung dengan manusia pada hari Kiamat; tidak ada penerjemah antara Allah dan mereka. Pada hari itu manusia dipanggil dengan nama mereka dan nama ayahnya.


Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani al-Mizan (timbangan) yang


mempunyai dua piringan neraca, yang dengannya perbuatan manusia ditimbang.


Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani tentang pembagian kitab catatan amal. Ada orang yang mengambil kitab catatan amalnya dengan tangan kanan dan ada pula yang mengambil kitab catatan amalnya dengan tangan kiri atau dari belakang punggunnya.


Adapun Shirath (jalan) akan dibentangkan di tengah-tengah Neraka


Jahannam. Orang yang baik akan dapat melaluinya dengan selamat,


sedangkan orang yang jahat akan tergelincir ke dalam api Neraka.


Surga dan Neraka telah tercipta dan telah ada wujudnya, tidak akan musnah selamanya. Surga adalah tempat orang-orang yang beriman,


bertauhid, dan bertakwa; sedangkan Neraka adalah tempat orang-orang kafir, termasuk orang-orang musyrik, Yahudi, Nasrani, munafik, penyembah berhala, dan orang-orang yang berdosa.


Surga dan Neraka tidak akan musnah selama-lamanya. Allah telah


menciptakan keduanya sebelum menciptakan manusia.


Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani bahwa ummat Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah yang pertama kali dihisab pada hari Kiamat dan pertama kali masuk Surga daripada ummat-ummat lain. Jumlah mereka adalah setengah penghuni Surga. Di antara mereka ada tujuh puluh ribu orang yang memasukinya tanpa hisab.


Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani bahwa orang yang bertauhid


(kepada Allah) tidak akan kekal sebagai penghuni Neraka. Mereka masuk Neraka disebabkan kemaksiatan yang mereka lakukan selain perbuatan syirik kepada Allah Ta’ala, sedangkan orang-orang musyrik berada kekal abadi di Neraka dan tidak akan keluar dari Neraka selama-lamanya.Wal’iyadzu billah.


Ahlus Sunnah juga mengimani adalanya al-Haudh (telaga) yang diperuntukkan bagi Nabi kita صلى الله عليه وسلم di hari Kiamat, airnya berwarna leibh putih dairpada susu, rasanya lebih manis daripada madu, aromanya lebih harum daripada minyak kesturi, jumlah benjananya sebanyak bintangbintang di langit, serta panjang perjalanan sebulan. Barang siapa yang meminum seteguk air darinya, dia tidak akan dahaga untuk selamanya. Yang demikian itu diharamkan bagi orang yang berbuat bid’ah dalam agama.


Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda (Yang Artinya) :


"Telagaku seluas perjalanan sebulan. Warna airnya lebih putih daripada susu, aromanya lebih haruh daripada aroma minyak kesturi, dan bejananya sejumlah bintang-bintang di langit. Barang siapa minum darinya, maka tidak akan merasa dahaga selamanya." (HR. Al-Bukhari)


Beliau juga bersabda (Yang artinya) :
"Sesungguhnya aku adalah orang yang mendahului ke telega. Barang siapa melewatiku, pasti dia meminumnya. Barang siapa meminumnya, pasti tidak akan merasa dahaga selamanya. Beberapa kaum pasti akan datang kepadaku, aku mengetahui mereka dan merekapun mengetahui aku, kemudian dihalangi antara aku dan mereka." Dalam riwayat lain: "Maka aku (Rasulullah) bersabda: ‘Sesungguhnya mereka itu termasuk ummatku."" Lalu dikatakan: "Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan (dalam agama ini) setelah engkau (Rasulullah)."


Maka aku katakan: "Menjauhlah! Menjauhlah! Bagi orang yang mengubah (ajaran agama) setelahku."" (HR. Al-Bukhari)


Syafa’at dan al-maqam al-mahmud (kedudukan terpuji) diperuntukkan bagi Nabi kita Muhammad bin ‘Abdullah صلى الله عليه وسلم pada hari Kiamat.


Syafa’at beliau صلى الله عليه وسلم yaitu:




* Syafa’at untuk ummat manusia di al-mauqif (tempat dikumpulkannya ummat manusia di Padang Mahsyar) agar diberi keputusan hukum diantara mereka, yaitu yang disebut maqam mahmud (kedudukan terpuji).


* Syafa’at untuk ahli Surga agar mereka masuk Surga, sedang Rasulullah صلى الله عليه وسل adalah orang yang pertama kali memasukinya.


* Syafa’at untuk pamannya, Abu Thalib, agar diringankan adzabnya. Ketiga syafa’at ini khusus untuk Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, tidak ada seorang pun yang memilikinya selain beliau.


* Syafa’at beliau صلى الله عليه وسلم untuk mengangkat derajat sebagian ummatnya yang memasuki Surga ke derajat yang lebih tinggi.


* Syafa’at beliau صلى الله عليه وسلم bagi segolongan dari ummatnya untuk memasuki Surga tanpa hisab.


* Syafa’at beliau صلى الله عليه وسلم untuk beberapa kaum yang antara kebaikan dan kejahatannya sebanding, maka beliau meberikan syafa’atnya kepada mereka agar masuk Surga. Syafa’at beliau untuk beberapa kaum lainnya yang mereka telah diputuskan masuk ke Neraka, namun karena syafa’at beliau meraka tidak jadi memasukinya.


Syafa’at beliau untuk mengeluarkan dari Neraka orang-orang ahli maksiat yang bertauhid. Maka beliau memberikan syafa’atnya kepada mereka sehingga mereka masuk Surga.


Macam sayfa’at terakhir ini juga dapat dilakukan oleh para Malaikat,


Nabi, syuhada, shiddiqun (orang-orang yang teguh memegang kebenaran), shalihin, dan kaum Mukminin. Kemudian Allah Ta’ala mengeluarkan beberapa kaum dari Neraka tanpa melalui syafa’at, akan tetapi berkat karunia dan rahmat-Nya. 


Amalan orang Mukmin pada hari Kiamat juga menjadi syafa’at baginya, sebagaimana yang dikabarkan Nabi صلى الله عليه وسلم tentang hal itu, seraya bersabda (yang artinya) :


"Puasa dan al-Qur-an akan memberikan syafa’at bagi seseorang pada hari Kiamat."


Pada hari Kiamat, kematian akan didatangkan lalu disembelih seperti yang telah dikabarkan Nabi :صلى الله عليه وسلم


"Jika penghuni Surga telah masuk Surga dan penghuni Neraka telah masuk Neraka, akan didatangkan kematian sehingga diletakkan di antara Surga dan Neraka. Kemudian, kematian itu disembelih. Setelah itu, ada seorang yang menyeru: ‘Hai, penghuni Surga, tidak ada kematian (setelah ini)! Hai, penghuni Neraka, tidak ada kematian (setelah ini)!’ Maka dari itu penghuni Surga bertambah gembira, sedangkan penghuni Neraka bertambah sedih." (HR. Muslim)


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 





Rabu, 03 Mei 2017

X.Iman Kepada Para Rasul-Nya

Ahlussunnah wal Jama’ah mengimani dan berakidah dengan pasti bahwa Allah Yang Mahasuci telah mengutus kepada hamba-hamba-Nya rosul-rosul sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, sebagai para penyeru kepada Agama yang hak, untuk memberikan petunjuk kepada manusia, dan mengeluarkan mereka dari kegelapankegelapan menuju cahaya, dakwah mereka waktu itu adalah menyelamatkan manusia dari kesyirikan dan penyembahan berhala, mensucikan masyarakat dari kebiadaban dan kerusakan. Dan bahwa mereka telah menyampaikan pesan, menunaikan amanah, menasehati ummat, dan berjuang di jalan Allah dengan sungguh-sungguh.
Dan sungguh mereka telah datang dengan membawa mukjizat-mukjizat yang nyata yang menunjukkan bahwa mereka itu benar. Siapa saja yang kafir terhadap salah satu dari mereka; maka sungguh dia telah kafir kepada Allah Yang Maha tinggi, dan kafir terhadap seluruh rosul ‘alaihimussalaam.





Allah telah mengutus para Rasul dan Nabi yang sangat banyak, di antara mereka ada yang Allah sebutkan kepada kita dalam kitab-Nya ataupun melalui lisan Nabi-Nya صلى الله عليه وسلم.



Nama-nama mereka yang tersebut dalam al-Qur-anul Karim ada 25 Rasul dan Nabi, yaitu Adam (bapak semua manusia), Idris, Nuh (Rasul yang pertama), Hud, Shalih, Ibrahim, Luth, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Syua’ib, Ayyub, Dzul Kifli, Musa, Harun, Dawud, Sulaiman, Ilyas, al-Yasa’, Yunus, Zakariya, Yahya, ‘Isa, dan Muhammad sebagai penutup para Nabi dan Rasul shalawaatullaahi wa salaamuhu ‘alaihim ajma’iin.




Allah Ta’ala telah memuliakan sebagian para Nabi dan Rasul atas sebagian lainnya. Kaum Muslimin telah sepakat bahwa para Rasul itu lebih utama daripada para Nabi. Setelah itu Rasul pun bertingkat-tingkat derajat keutamaannya. Di antara para Rasul dan Nabi yang paling utama adalah Ulul ‘Azmi, mereka ada lima yaitu Muhammad, Nuh, Ibrahim, Musa, dan ‘Isa shalawaatullahi wa salaamuhu’alaihim ajma’iin.




Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani mereka seluruhnya baik yang disebut oleh Allah maupun tidak, dari yang pertama, yaitu Adam AS sampai Nabi terakhir, penutup, dan termulia, yaitu Muhammad bin ‘Abdullah shalawaatullaahi ‘alaihim ajma’iin.




Beriman kepada seluruh Rasul berarti beriman secara global, sedangkan beriman kepada Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم harus dengan keimanan yang rinci, yang menuntut ummatnya untuk ittiba’ mengikutinya dengan apa yang beliau bawa scara rinci.





· Muhammad Adalah Rasulullah صلى الله عليه وسلم


Beliau adalah Abul Qasim Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Muththalib bin Hasyim bin ‘Abdil Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu-ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan dari anak Nabi Ismail bin Ibrahim – ‘ala nabiyyina wa‘alaihimas salaam (semoga salam terlimpah kepada Nabi kita dan kepada keduanya).






Beliau sebagai penutup para Nabi dan Rasul. Beliau adalah Rasulullah (utusan Allah) kepada semua manusia. Beliau seorang hamba yang tidak berhak diibadahi dan Rasul yang tidak boleh didustakan. Beliau adalah sebaik-baik makhluk, yang paling utama dan paling mulia di antara mereka di sisi Allah Ta’ala, paling tinggi derajatnya serta paling dekat kedudukannya di sisi Allah. Beliau diutus kepada manusia dan jin dengan membawa agama yang haq dan petunjuk. Allah mengutusnya sebagai rahmat bagi alam semesta.






Allah menurunkan al-Qur-an kepadanya, Dia memberikan amanah atas agama-Nya, dan Dia memberikan tugas untuk menyampaikan risalah-Nya. Sungguh, Allah telah memeliharanya dari kesalahan dalam menyampaikan risalah-Nya.






Maka tidak sah iman seorang hamba hingga ia beriman dengan kerasulannya dan bersaksi atas kenabiannya. Barang siapa taat kepadanya, ia akan masuk Surga, dan sebalikna, barang siapa durhaka kepadanya, maka pasti ia masuk Neraka.






Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani bahwa Allah Ta’ala menguatkan Nabi-Nya صلى الله عليه وسلم dengan mukjizat yang nyata dan ayat-ayat yang terang :


· Di antara mukjizat-mukjizat tersebut yang paling agung adalah al-Quran, yang Allah menantang orang-orang (Arab) yang paling fasih, ahli balaghah (sastra Arab), dan yang paling pandai berbicara.


· Mukjizat yang paling besar – setelah al-Qur-an – adalah Allah menguatkan Nabi-Nya صلى الله عليه وسلمdengan mukjizat Isra’ Mi’raj.






Maka Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani bahwa Nabi صلى الله عليه وسلمdinaikkan ke langit dalam keadaan sadar dengan ruhnya dan jasadnya, yang hal tersebut terjadi ketika malam Isra’. Dan beliau telah diperjalankan pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha (Palestina) berdasarkan nash al-Qur-an.


Kemudian, beliau صلى الله عليه وسلم dinaikkan ke langit. Beliau naik sampai langit ketujuh kemudian setelah itu berada di sisi tempat yang Dia kehendaki, yaitu Sidratul Muntaha, dan di dekatnya ada Surga tempat tinggal (bagi kaum Mukminin kelak).






Allah memuliakan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dengan apa yang Dia kehendaki, mewahyukan kepadanya, berbicara dengannya, dan mensyari’atkan shalat lima waktu dalam sehari semalam. Beliau memasuki Surga dan melihat apa yang ada di dalamnya, melihat Neraka, melihat Malaikat, dan melihat Jibril dalam bentuk aslinya sebagaimana yang diciptakan oleh Allah. Hati Nabi صلى الله عليه وسل tidak bisa membohongi terhadap apa yang beliau lihat, bahkan apa yang beliau lihat adalah benar-benar dengan kedua matanya. Hal tersebut sebagai tanda keagungan dan kemuliaan beliau di atas seluruh para Nabi. Hal tersebut juga untuk menunjukkan tingginya kedudukan beliau صلى الله عليه وسلم di atas seluruh para Nabi.


Kemudian, beliau singgah di Baitul Maqdis, shalat berjamaah bersama para Nabi sebagai imam, lalu kembali ke Makkah sebelum fajar.

 

Di antara mukjizat beliau صلى الله عليه وسلم juga berupa :


· Terbelahnya bulan. Ini merupakan tanda kenabian yang agung, yang Allah telah berikan kepada Nabi-Nya صلى الله عليه وسلمsebagai bukti atas kenabian beliau. Hal itu terjadi di Makkah ketika kaum musyrikin memintanya sebagai bukti atas kenabian beliau.




· Memperbanyak makanan. Sungguh, hal ini terjadi dari beliau صلى الله عليه وسلم lebih dari satu kali.





· Memperbanyak air dan air bercucuran dari jari-jari tangan beliau yang mulia. Selain itu makanan tersebut bertasbih kepada beliau ketika hendak dimakan. Hal tersebut sering terjadi pada diri Rasulullah .صلى الله عليه وسلم





· Menyembuhkan orang sakit dan sebagian para Sahabatnya melalui tangan beliau صلى الله عليه وسلم tanpa obat.





· Hewan (bersikap) sopan di hadapan beliau, patuhnya pepohonan kepadanya, dan ucapan salam dari batu-batu kepada beliau صلى الله عليه وسلم





· Balasan yang disegerakan kepada sebagian orang-orang yang mengkhianati dan menantang beliau صلى الله عليه وسلم





· Beliau menyampaikan kabar tentang sebagian perkara yang ghaib dan perkara yang baru saja terjadi di tempat jauh. Beliau juga menyampaikan kabar tentang perkara yang ghaib yang belum terjadi, kemudian hal tersebut terjadi setelah itu, sebagaimana yang beliau صلى الله عليه وسلم kabarkan.





· Dikabulkan do’a beliau صلى الله عليه وسلمsecara umum.





· Allah menjaga beliau صلى الله عليه وسلم dari gangguan para musuh. Abu Hurairah RA meriwayatkan, seraya berkata: ‚Abu Jahal berkata: ‘Apakah Muhammad menyembunyikan wajahnya di hadapan kalian?’ Dijawab: ‘Ya!’ Abu Jahal berkata lagi: ‘Demi Latta dan Uzza, seandainya aku melihat Muhammad berbuat semacam itu, pasti akan aku injak lehernya atau akan aku kotori wajahnya dengan tanah.
’ Abu Hurairah RA berkata: ‘Maka Abu Jahal mendatangi Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Ketika itu beliau sedang shalat, lalu dia ingin menginjak lehar beliau.’ Abu Hurairah RA




berkata: ‘Maka tidaklah Abu Jahal mendatangi beliau dengan tiba-tiba, melainkan dia segera kembali mundur dan berlindung dengan kedua tangannya.’ Perawi berkata: ‘Abu Jahal ditanya, ‘Apa yang terjadi pada dirimu?’ Abu Jahal menjawab: ‘Sesungguhnya di antara aku dan dia ada

parit dari api, sesuatu yang menakutkan dan sayap-sayap (Malaikat).’‛ Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: "Seandainya dia (Abu Jahal) mendekatiku, pasti Malaikat akan


menyambar satu demi satu organ (tubuhnya)." (HR. Muslim).

Antara Kemaksiatanmu dan Ketaatanmu


Al Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,
"Setiap kemaksiatan yang karenanya engkau mencela saudaramu, maka kemaksiatan itu (dosanya) akan kembali kepadamu".
 
Kemudian beliau rahimahullah berkata,
"Sesungguhnya celaanmu terhadap saudaramu (karena dosa yang dilakukannya), itu lebih besar dosanya daripada dosa yang dilakukan oleh saudaramu dan lebih dahsyat kemaksiatannya, karena terkandung padanya (anggapan bahwa dirimu memiliki) kehebatan untuk melakukan ketaatan, penyucian diri, serta pujian atas dirimu sendiri dan anggapan bahwa dirimu terbebas dari dosa, dalam keadaan (kamu memandang) saudaramu kembali dengan memikul dosa-dosa.

Mungkin saja penyesalan saudaramu atas dosa-dosanya dan segala yang terlahir dari dosa-dosa tersebut seperti : rasa hina, ketundukan, kecaman atas dirinya sendiri, dan selamatnya dia dari penyakit ingin diakui, sombong serta bangga diri dan (ditambah lagi) dengan dia senantiasa mengahadap kepada Allah dengan kepala yang tertunduk, pandangannya yang khusyu, dan hatinya yang luluh lantah (itu semua) adalah lebih bermanfaat dibandingkan dengan kehebatanmu untuk melakukan ketaatan, upaya kerasmu memperbanyak ketaatan, rasa banggamu dengan ketaatan, dan anggapanmu bahwa dirimu telah memberikan nikmat kepada Allah dan makhluknya dengan ketaatan tersebut.

Sungguh alangkah dekatnya pelaku kemaksiatan ini kepada rahmat Allah dan alangkah dekatnya orang yang sombong dengan amalannya ini kepada kemurkaan Allah".

Minggu, 23 April 2017

Memahami ujian


RosulullohSAW bersabda: "Barangsiapa ada akhirat{ Surga } keinginannya/cita-citanya maka Allah akan memberi rasa cukup/kaya dalam hatinya, dan mengumpulkan Alloh baginya urusannya yang berserakan dan Alloh mendatngakan dunia padanya dengan hina, dan barangsiapa ada dunia keinginannya/cita-citanya maka Allah akan jadikan kefaqiran di antara kedua matanya, maka Alloh akan memisah-misahkan urusannya dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali sekedar apa yang telah ditentukan baginya."HR. Tirmidzi 2389 

Lihat juga Surat an-nahl 97

Orang yang paling banyak mendapatkan ujian/cobaan (di jalan Allah Ta’ala) adalah para Nabi, kemudian orang-orang yang (kedudukannya) setelah mereka (dalam keimanan) dan orang-orang yang (kedudukannya) setelah mereka (dalam keimanan), (setiap) orang akan diuji sesuai dengan (kuat/lemahnya) agama (iman)nya, kalau agamanya kuat maka ujiannya pun akan (makin) besar, kalau agamanya lemah maka dia akan diuji sesuai dengan (kelemahan) agamanya, dan akan terus-menerus ujian itu (Allah Ta’ala) timpakan kepada seorang hamba sampai (akhirnya) hamba tersebut berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak punya dosa (sedikitpun)” (HR At Tirmidzi no. 2398, 

Allah Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai sebab untuk menyempurnakan penghambaan diri dan ketundukan seorang mukmin kepada-Nya, karena Allah Ta’ala mencintai hamba-Nya yang selalu taat beribadah kepada-Nya dalam semua keadaan, susah maupun senang (Lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam Ighaatsatul Lahfan, hal. 424, Mawaaridul amaan) Inilah makna sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Alangkah mengagumkan keadaan seorang mukmin, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HSR Muslim no. 2999)

Allah Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan di dunia sebagai sebab untuk menyempurnakan keimanan seorang hamba terhadap kenikmatan sempurna yang Allah Ta’ala sediakan bagi hamba-Nya yang bertakwa di surga kelak. Inilah keistimewaan surga yang menjadikannya sangat jauh berbeda dengan keadaan dunia, karena Allah menjadikan surga-Nya sebagai negeri yang penuh kenikmatan yang kekal abadi, serta tidak ada kesusahan dan penderitaan padanya selamanya. Sehingga kalau seandainya seorang hamba terus-menerus merasakan kesenangan di dunia, maka tidak ada artinya keistimewaan surga tersebut, dan dikhawatirkan hamba tersebut hatinya akan terikat kepada dunia, sehingga lupa untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang kekal abadi di akhirat nanti (Lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam Ighaatsatul Lahfan, hal. 423, Mawaaridul Amaan dan Ibnu Rajab dalam Jaami’ul ‘Uluumi wal Hikam, hal. 461, Cet. Dar Ibni Hazm). Inilah di antara makna yang diisyaratkan dalam sabda Rasulullah shallallahu

Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.” (HSR Al Bukhari no. 6053)

Gambaran kehidupan ibnu tayymiyah


Ibnul Qayyim bercerita, “Allah Ta’ala yang Maha Mengetahui bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih bahagia hidupnya daripada gurunya, Ibnu Taimiyyah. Padahal kondisi kehidupan beliau sangat susah, jauh dari kemewahan dan kesenangan duniawi, bahkan sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan (siksaan dan penderitaan yang beliau alami di jalan Allah Ta’ala), yang berupa (siksaan dalam) penjara, ancaman dan penindasan (dari musuh-musuh beliau). Tapi bersamaan dengan itu semua, aku mendapati beliau adalah termasuk orang yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling tegar hatinya serta paling tenang jiwanya. Terpancar pada wajah beliau sinar keindahan dan kenikmatan hidup (yang beliau rasakan). Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan takut yang berlebihan, atau timbul (dalam diri kami) prasangka-prasangka buruk, atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, kami (segera) mendatangi beliau (untuk meminta nasehat), maka dengan hanya memandang (wajah) beliau dan mendengarkan ucapan (nasehat) beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.

Sabtu, 15 April 2017

Perkataan & perbuatan Aisyah menampakkan cinta

Aisyah berkata " orang yahudi melintas didepan rumah seraya berkata, Assamu 'alaikum (kebinasaan untukmu).
Kemudian rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam  membalas , "wa 'alaikum" (untukmu juga).'

Mendengar mereka berkata demikian aisyah tidak bisa bersabar. Ia berkata 'Semoga kematian untuk kalian. Semoga Allah melaknat dan murka pada kalian "

Mudah memaafkan merupakan Akhlak mulia

Tidak ada manusia yang suci dan bersih dari kekeliruan,selain rasulullah shallallahu'alihi wassalam. Wajar saja karna manusia memang gudang nya salqh dan lupa. Baik di sengaja ataupun tidak, sebagian kita sering nya menyakiti perasaan orang dan juga menzhalimi orang lain.

Meskipun demikian semua itu tidak akan sampai merusak hubungan apabila setiap kita mudah untuk memaafkan kekeliruan orang lain.
Mudah memaafkan merupakan akhlak yang mulia.

Tidaklah sama antara kebaikan dengan keburukan jadi betapa beruntung nya orang yang mampu untuk memaafkan orang lain. Mampu menutup keburukan dengan kebaikan. Selayaknya kita meminta kemampuan ini kepada Allah.

Abdullah bin Amru menuturkan; seorang laki laki datang kepada nabi seraya menanyakan : " wahaibrasulullah, berapa kali kami harus memqafkan pelayan kami?"

Mendengar hal ini, beliau rasulullah diam saja. Laki laki itu mengulangi pertanyaanya, namun beliau tetap diam. Ketika pertanyaan diulang untuk ketiga kalinya, barulah rasulullah shallallahualaihi wassalam menjawab :

"Maafkanlah dia (meskipun hingga) tujuh puluh kalibsetiap harinya."

Selasa, 11 April 2017

Kamis, 06 April 2017

IX. Iman Kepada Kitab-Kitab-Nya



Ahlussunnah wal Jama'ah beriman kepada Allah, dan berkeyakinan dengan keyakinan yang pasti bahwa Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Agung telah menurunkan kitab-kitab atas para rosul-Nya di dalamnya mengandung: Perintahnya-Nya, Janji-Nya tentang nikmat, ancaman-Nya, dan apa yang Allah kehendaki penciptaannya, dan di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya.


Al-Qur-anul Karim merupakan kalam (firman) Rabb semesta alam, Kitab-Nya yang nyata, dan talinya yang kokoh. Allah Ta’ala menurunkannya kepada Rasul-Nya, Muhammad bin ‘Abdullah صلى الله عليه وسلم, agar menjadi pedoman hukum bagi ummat manusia, mangeluarkan mereka dari kegelapan menuju terang benderang, dan sebagai petunjuk bagi mereka kepada jalan yang benar dan lurus.


Allah telah mengabarkan di dalamnya tentang cerita orang-orang zaman dahulu dan akhir serta tentang penciptaan langit dan bumi. Allah telah menjelaskan tentang halal dan haram, dasar-dasar budi pekerti, akhlak, hukum ibadah dan muamalah, sirah (biografi) para Nabi dan orang-orang shalih, balasan bagi kaum Muslimin maupun orang kafir, serta menerangkan sifat-sifat Surga sebagai tempat tinggal kaum Mukminin dan sifat-sifat Neraka sebagai tempat tinggal kaum kafirin. Allah telah menjadikan al-Qur-an sebagai obat bagi penyakit yang ada di dalam jiwa, penjelas bagi segala sesuatu, dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi kaum Mukminin.




Wajib bagi semua ummat untuk mengikuti (ajarannya) dan berhukum dengannya bersamaan dengan sunnah yang shahih dari Nabi صلى الله عليه وسلم. Sebab, Allah telah mengutus Rasul-Nya kepada menusia dan jin untuk menjelaskan kepada mereka apa yang telah diturunkan-Nya kepada mereka.



Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani bahwa al-Qur-an adalah Kalamullah, baik huruf ataupun maknanya, berasal dari Allah dan kepada-Nya akan kembali, yang diturunkan, dan bukan makhluk. Allah memfirmankannya dengan sebenar-benarnya dan mewahyukannya melalui Jibril lalu Jibril ‘alaihi wasallam turun dengannya untuk disampaikan kepada Muhammad .صلى الله عليه وسلم.




Al-Qur-anul Karim merupakan mukjizat yang paling besar dan kekal bagi Nabi Muhammad bin ‘Abdullah صلى الله عليه وسلم. Selain itu, al-Qur-an adalah kitab samawi terakhir yang tidak dihapus atau diubah. Allah telah menjamin untuk memeliharanya dari segala bentuk penyelewengan, perubahan, penambahan, dan pengurangan sampai pada suatu hari Allah akan mengangkatnya, yaitu sebelum hari Kiamat.




Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengkafirkan orang yang mengingkari satu huruf darinya atau menambah maupun menguranginya. Atas dasar ini, kita beriman dengan tegas bahwa setiap ayat dari al-Qur-an diturunkan dari sisi Allah dan sampai kepada kita dengan jalan mutawatir yang qath’i (pasti). Al-Qur-anul Karim tidak turun sekaligus kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم, tetapi turun secara berangsur-angsur sesuai dengan kejadian atau sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ataupun sesuai dengan tuntutan keadaan; dalam kurun waktu 23 tahun.




Al-Qur-anul Karim terdiri dari 114 surat, 86 surat di turunkan di Makkah dan 28 surat diturunkah di Madinah. Surat-surat yang diturunkan diMakkah (sebelum hijrah) dinamakan ‚surat-surat Makkiyyah‛, sedangkan surat yang diturunkan di Madinah (sesudah hijrah) dinamakan ‚surat-surat Madaniyyah‛. Di dalam al-Qur-an terdapat 29 surat yang dibuka dengan huruf-huruf yang terputus.



Al-Qur-an sudah ditulis pada zaman Nabi صلى الله عليه وسلمdi bawah pengawasan langsung dari beliau. Penulisan wahyu tersebut ditangani oleh orang-orang ahli dari para Sahabat pilihan RA. Mereka menulis setiap ayat al-Qur-an turun atas perintah Nabi صلى الله عليه وسلم, kemudian dikumpulkan pada zaman Abu Bakar dalam mush-haf, dan pada zaman ‘Utsman RA disatukan dengan menggunakan satu macam huruf (satu dialek).




Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak memperbolehkan penafsiran ayat-ayat al- Qur-an dengan pendapat (logika) semata karena hal itu termasuk mengatakan tentang Allah tanpa dasar ilmu, bahkan hal itu termasuk perbuatan syaitan.

Hendaknya al-Qur-an ditafsirkan dengan al-Qur-an, lalu dengan as-Sunnah, lalu dengan ucapan para Sahabat, kemudian dengan ucapan para Tabi’in, dan kemudian dengan bahasa Arab, yakni al-Qur-an diturunkan dengan bahasa tersebut.





 

 

Selasa, 21 Maret 2017

VIII. Iman kepada Malaikat

Iman kepada Malaikat yaitu Yaitu: Beriman terhadap adanya para malaikat dengan keimanan yang pasti tidak disertai dengan keraguan sama sekali.

Ahlussunnah wal Jama’ah mengimani mereka secara global, dan adapun perinciannya adalah yang berdasarkan dalil yang sah, siapa saja yang Allah dan Rosul-Nya shollAllahu ‘alaihi wasallam sebutkan diantaranya seperti: Jibril yang mewakili urusan wahyu, Mika`il yang mewakili urusan hujan, Isrofil yang mewakili urusan peniupan sangkakala, Malaikat Maut yang mewakili urusan pencabutan arwah, Malaikat penjaga neraka, Malaikat Ridhwan penjaga Surga, dan dua Malaikat kubur; Munkar dan Nakir. Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani wujud mereka bahwa mereka adalah hamba Allah yang diciptakan dari cahaya dan berjasad, bukan suatu yang maknawi dan juga bukan merupakan kekuatan yang tersembunyi. Mereka adalah salah satu makhluk Allah dan mereka tinggal di langit. Bentuk Malaikat itu besar dan mempunyai sayap. Di antaranya ada yang mempunyai dua, tiga, empat, dan ada pula yang mempunyai sayap lebih dari itu.

Mereka adalah salah satu dari tentara Allah, mampu menyerupai sesuatu yang lain, dan berbentuk seperti manusia sesuai dengan keadaan yang diizinkan Allah Ta’ala. Mereka itulah makhluk yang dekat kepada Allah dan dimuliakan, tidak berjenis kelamin baik laki-laki ataupun wanita, serta tidak kawin dan tidak pula berketurunan. Para Malaikat tidak makan dan minum, tetapi makanannya adalah tasbih (ucapan Subhanallah) dan tahlil (ucapan Laa Ilaaha Illallah). Mereka tidak pernah merasa bosan, letih, ataupun payah. Mereka disifati dengan kebaikan, keindahan, malu, dan disiplin. Malaikat berbeda dengan manusia karena mereka diciptakan untuk taat dan tidak bermaksiat. Allah menciptakan mereka untuk beribadah kepada-Nya dan melaksanakan perintah-Nya.

Para Malaikat itu bertasbih kepada Allah siang-malam, mereka thawaf di Baitul Ma’mur di langit dan mereka takut kepada Allah.

· Tugas-tugas Malaikat

Di antara Malaikat ada yang bertugas memikul ‘Arsy, menyampaikan wahyu, menjaga gunung, serta menjaga Neraka dan Surga. Ada yang bertugas mencatat perbuatan manusia, mencabut ruh kaum Muslimin dan kaum kafir, serta ada pula yang bertugas memberikan pertanyaan di kubur.

Di antara mereka ada yang bertugas memintakan ampunan bagi kaum Mukmin, mendo’akan, dan mencintai mereka. Ada juga yang bertugas untuk menghadiri majelis ilmu dan mengelilingi mereka dengan sayapsayapnya. Di antaranya ada yang bertugas sebagai qarin (teman) bagi seseorang dan tidak berpisah darinya, ada yang bertugas menyeru para hamba untuk berbuat baik, dan ada yang bertugas menghadiri jenazah orang-orang shalih. Ada pula yang bertugas berperang dengan kaum Muslimin dan meneguhkan mereka dalam jihadnya melawan musuhmusuh Allah.

Di antaranya ada yang bertugas melindungi orang-orang yang shalih dan melapangkan kesulitan-kesulitan mereka. Bahkan, ada yang bertugas mengadzab (orang-orang yang durhaka).

Malaikat tidak akan masuk suatu rumah yang di dalamnya terdapat patung, gambar (foto), anjing, dan lonceng. Mereka merasa terganggu dari hal-hal yang dapat menganggu manusia.

Allah Ta’ala telah menutupi mereka, sehingga kita tidak dapat melihat mereka dalam bentuk aslinya. Akan tetapi, Allah membukanya kepada sebagian hamba-Nya.