Jumat, 26 Februari 2016

Istilah - Istilah dalam AIKIDO

Seiza : Posisi Duduk


Gi : Seragam Latihan


Dojo : Tempat Latihan


Kyu : Tingkat atau rangking di bawah sabuk


Uke : Orang yang Menyerang


Nage : Orang yang diserang



Waza : Teknik
Kihon Waza : Teknik Dasar


Oyo / Henka Waza : Teknik Variasi


Atemi : Tekanan pada Titik saraf dalam Tehnik


Ken - Suburi : Latihan Pedang / Pedang Kayu


Jo - Dori : Teknik Pembelaan terhadap tongkat


Tanto - Dori : Teknik Pembelaan terhadap Pisau


Tachi Waza : Teknik yang dilakukan oleh Uke dan Nage dalam Posisi berlutut


Suwari Waza / Zagi : Teknik yang dilakukan oleh Uke dan Nage dalam Posisi Berlutut


Hanmi Handachi : Teknik dimana Uke berdiri dan Nage dalam posisi berlutut


Jiyu Waza : Teknik dengan Serangan dan Gerakan Bebas


Randori Waza : Teknik dengan Gerakan Bebas melawan beberapa Penyerang


Sanin Gake : Teknik dengan Gerakan bebas melawan 3 orang Penyerang


Kaeshi Waza : Teknik Balasan


Kamae : Kuda - Kuda


Hanmi : Posisi Berdiri


Migi Hanmi : Kuda-Kuda dengan Kaki kanan di depan


Hidari Hanmi : Kuda-Kuda dengan Kaki kiri di depan


AI Hanmi : Uke dan Nage berdiri dengan Posisi kaki sama


Gyaku Hanmi : Uke dan Nage berdiri dengan Posisi Berlawanan


Irimi : Bergerak Masuk / Teknik memasuki daerah lawan


Tenkan : Gerakan Berputar


Kaiten : Gerakan melingkar dengan melangkahkan kaki belakang


Katate Dori / Gyaku Hanmi : Cengkraman pada Tangan dengan posisi kaki berlawanan


Kosa Dori : Cengkraman Silang pada tangan dengan posisi kaki sama


Tsugi ashi : Melangkah Kaki ke depan


Ma - Ai : Jarak antara uke dan nage waktu berhadapan UKEMI (cara jatuh)


Mae ukemi : Jatuh bergulir ke depan


Ushiro Ukemi : Jatuh bergulir ke belakang


Koho Ukemi : Jatuh bergulir dengan posisi duduk


Yoko Ukemi : Jatuh bergulir ke samping


Nage : jatuh pada waktu meloncat ke depan


Shiko : berjalan dengan Lutut


Mae Shikko : berjalan dengan Lutut ke depan


Ushiro Shikko : berjalan dengan lutut ke belakang


Shikko Kaiten : Berjalan dan berputar dengan lutut



Taiso (Senam / Pemanasan Aiki)
Ikkyo Undo : Gerakan tangan Ke atas


Fune Kogi Undo : Gerakan Mendayung Kapal / perahu


Zengo Undo : Gerakan maju ke depan dan membalik


Happo Undo : Gerakan ikkyo undo ke 8 (delapan) arah


Uchi (Serangan Pukulan)Shomen Uchi : Serangan ke depan muka atau kepala


Yokomen Uchi : Serangan ke arah samping atau Pelipis


Chudan Tsuki : Serangan


Men Tsu ki : Menusuk


Thu ki : Menusuk ke arah uluh hati



Aikido Waza
Katate Dori : Pegangan satu tangan pada satu pergelangan tangan Lawan


Katate ryo dori : Pegangan dua tangan pada dua tangan lawan


Morote Dori : Pegangan dua tangan pada satu tangan Lawan


Kata Dori : Cengkraman pada satu bahu


Ryo Kata Dori : Cengkeraman pada Kedua bahu


Ushiro Ryo Katate Dori : Cengkeraman dari belakang pada kedua pergelangan tangan


Ushiro Ryo Kata Dori : Cengkraman dari belakang pada kedua bahu


Ushiro Ryo Hiji Dori : Cengkraman dari belakang pada kedua siku


Ushiro Tekubi Shime : Cengkraman dari belakang pada leher dan pergelangan tangan


Hiji Dori KubiShime : Cengkraman dari belakang pada leher dan Siku


Eri Dori : Cengkraman pada Kerah baju


Sode Dori : Pegangan pada lengan Baju


Mune Tori : Pegangan pada Kerah baju


Gyakute Dori : Pegangan Menyilang pada pergelangan


Ushiro Kubi Shime : Cekikkan dari Belakang


Kaeshi Waza : Teknik serangan Balasan


Ren Zoku Waza : Teknik Rangkaian


Katame Waza : Teknik Kuncian


Jiyu Waza : Teknik bentuk bebas



Nage Waza (Teknik Bantingan)
Irimi Nage : Teknik bantingan dengan mengkait kepala lawan


Kokyu Nage : Teknik bantingan dengan membuang nafas


Shiho Nage : Teknik bantingan dengan menekuk siku lawan pada bahu


Tenchi Nage : Teknik Bantingan dengan 1 tangan di atas dan 1 tangan dibawah


Kaiten Nage : Teknik bantingan dengan 1 tangan menekan kepala ke bawa dan tangan satunya memegang pergelangan lawan ke atas


Koshi Nage : Teknik bantingan degan menggunakan Pinggul


Kote Gaeshi : Teknik bantingan dengan memutar pergelangan tangan


Tenbin Nage : Teknik bantingan dengan mengunci siku bawah


Sumi Otoshi : Teknik bantingan dengan menjatuhkan ke sudut


Aiki Otoshi : Teknik bantingan dengan Mengangkat dua lutut lawan


Juji Garami : Teknik Bantingan dengan menyilangkan dua tangan pada siku



Reigi (Adab dalam Latihan)
Arigato Gozaimasita : Terima kasih


Yame : Berhenti


Matte : Tunggu


Hajime : Mulai


Dozo : Silahkan


Rei : Hormat


Onegai Shimashu : Mohon Bantuan


Ritsurei : Hormat sambil duduk


Zarei : Hormat sambil duduk


Sensei : pelatih


Sempai : senior
















Senin, 15 Februari 2016

Tata Cara Ma’mum masbuk

Ini saya COPY dari sumber Website berikut :
https://jalansunnah.wordpress.com/2010/05/03/tata-cara-mamum-masbuk/
Posted on


Pertanyaan 1:
Bismillahirrahmanirrahim,
Yang terhormat Asatidzah hafidzhakumullaah,
Saya ingin bertanya tentang tata cara shalat masbuk yang sebagian masih samar bagi saya.
Sebelumnya saya sudah pernah membaca artikel Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain Dikutip dari http://www.an-nashihah.com berjudul : “Posisi Duduk Masbuk” yang pernah dikirim di milis “artikel_salafy”.
Namun ada hal yang masih ingin saya tanyakan , yaitu setelah imam salam dan ma’mum masbuk melengkapi rakaat yang tertinggal :
1.Misal masbuk pada shalat isya (4 rakaat) dan tertinggal 3 rakaat. Setelah imam salam, kita bangun dan tentunya melengkapi 3 rakaat lagi. Urutan yang biasa saya lakukan adalah :
– Rakaat pertama : melakukan tasyahud awal
– Rakaat kedua : tidak ada tasyahud
– Rakaat ketiga : tasyahud akhir dan duduk tawarruk
Namun saya pernah sekali melihat ada yang melakukan dengan urutan berikut :
– Rakaat pertama : tidak ada tasyahud
– Rakaat kedua : melakukan tasyahud awal
– Rakaat ketiga : tasyahud akhir dan duduk tawarruk
Manakah diantara kedua cara tersebut yang benar ?

2.Posisi duduk Tasyahud pada saat kita menyempurnakan rakaat yang tertinggal , apakah cara duduknya selalu tawarruk atau ada juga yang harus iftirasy atau ada perinciannya ?.
3.Pada saat imam melakukan tasyahud akhir, apakah ma’mum masbuk boleh membaca doa setelah tasyahud (sebelum salam) atau apakah doa itu hanya boleh dibaca diakhir, yaitu ketika kita tasyahud terakhir dlm menyempurnakan rakaat yang tertinggal , sebab itu akhir shalat kita ?
Jazakumullahu khair
Abu Usamah Wahid
Jawaban 1:
Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh
Al-Akh Wahid Abu Usamah -semoga selalu dalam lindungan Allah-, jawaban pertanyaan sebagai berikut:
Satu, Apabila seorang makmum terlambat (masbuk) maka kewajibannya adalah menyempurnakan sholatnya dengan menambah raka’at yang kurang. Karena Nabi shollallahu alaihi wa sallam bersabda, “Dan apa yang kalian luput maka sempurnakanlah.” (Hadits Abu Hurairah riwayat Al-Bukhari dan Muslim)
Sabda beliau “sempurnakanlah” artinya lengkapi apa yang kurang dengan menambah kekurangannya, bukan dengan cara memulai dari awal raka’at.
Maka disini insya Allah telah jelas bahwa apa yang biasa antum lakukan sudah benar.
Dua, Telah dimaklumi bahwa dalam sholat yang punya dua tasyahhud terdapat dua kaifiat (cara) duduk, yaitu dengan cara iftirasy pada tasyahhud awal (dengan menancapkan kaki kanan dan duduk di atas kaki kiri) dan dengan cara tawarruq pada tasyahhud terakhir (dengan menancapkan kaki kanan dan menyelipkan kaki kiri dibawah kaki kanan sambil langsung duduk meyentuh lantai). Demikian diterangkan dalam beberapa hadits.
Jadi tasyahhud yang bukan pada akhir sholat maka duduknya adalah dengan iftirasy sebab penyebutan tawarruq hanya diterangkan pada akhir tasyahhud saja.
Tapi para ulama berbeda pendapat, bagi masbuk yang mendapati imam sedang duduk tawarruq di akhir sholatnya, apakah dia ikut duduk tawarruq atau dia tetap duduk iftirasy?
Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini,
Diantara masyaikh kami ada menguatkan duduknya adalah duduk tawarruq dengan mengambil zhohir dari hadits “Imam itu dijadikan untuk diikuti”, karena imam duduk tawarruq maka kita juga mesti duduk tawarruq mengikutinya.
Diantara mereka, ada yang menguatkan duduk iftirasy, dan mereka menganggap bahwa duduk imam pada tasyahhud akhri yang dianggap gerakan zhohir adalah duduknya saja, bukan kaifiat duduknya. Karena tidak hubungannya dengan kaifiat duduk, maka harusnya dia duduk iftirasy sebagaimana yang telah dituntunkan. Dan pendapat ini adalah pandangan yang sangat tajam karena mungkin sang imam berpendapat bahwa duduk pada tasyahhud terakhir adalah dengan cara iftirasy (sebagaimana pendapat sebagian ulama).
Dan diantara mereka ada yang mengambil jalan tengah bahwa duduknya adalah duduk tawarruq tapi tidak diwajibkan.
Bagi saya, pendapat yang mengatakan duduknya adalah dengan duduk iftirasy lebih kuat dan lebih tenang ke dalam hati. Dan itu adalah pendapat yang dikuat oleh Guru kami, Syaikh Muqbil dan guru kami, Syaikh Ubaid Al-Jabiry.
Tiga, Dari uraian di atas, nampak bahwa makmum yang masbuk belum terhitung duduk tawarruq (belum tasyahhdu akhir) sedangkan doa dalam tasyahhud hanya diajarkan oleh Nabi shollallahu alaihi wa sallam dalam tasyahhud akhir.
Wallahu A’lam
Ditulis oleh
Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi
Kamis, pagi 3 Shofar 1430 H
Pertanyaan 2:
Ustadz Dzulkarnain,
Masalah masbuk ini saya ingin mendapatkan penjelasan bagaimana kalau seseorang yang terlambat ini saat tiba di Masjib dia mendapati bahwa shaft telah penuh dan dia ini tidak mendapatkan lagi jamaah yang yang lain untuk bersama-sama membikin shaft yang baru. Apa yang harus dilakukan bagi orang yang masbuk ini, apakah sholat sendirin dibelakang shaft yang telah penuh, menunggu  kedatangan jamaah lain, atau mentowel shaft paling kanan  supaya mundur dan bersama-sama bikin shaft baru (Ini yang saya dapatkan waktu masih kecil saat belum mengenal Salafy dan di tempat kami di desa kecil di Sidoarjo dimana hampir 99% warganya adalah Muhammadiyah) .
Untuk Sholat 2 rokaat misalnya shubuh dan sholat sunnah2 yang lain, duduk tasyahud yang benar apa Iftiras atau tawarruq.
Jazakalloh khoiron katsiron wabarokalloh fiikum
Sulton Amrullah
Jawaban 2:
Bismillah,
Dalam pertanyaan Al-Akh Sulton Amrullah -Waffaqahullah- ada dua hal yang perlu saya jelaskan.
Pertama, Adalah hal yang dimaklumi bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk sholat di belakang shof sendirian. Maka yang wajib bagi seorang masbuk untuk sholat bersama shoff yang telah ada. Bila tidak ada celah lagi dalam shoff, maka di sini letak ijtihad. Bila seorang yakin akan ada masbuk yang segera datang dan dia tetap mendapatkan rakaat, maka sebaiknya dia menunggu.. Bila dikhawatirkan imam akan segera ruku’ maka Insya Allah tidak mengapa sholat di belakang shoff, karena itu adalah batas kemampuannya dan Allah tidak membebani hamba kecuali sesuai dengan kemampuannya.
Kedua, Sholat yang hanya mempunyai satu tasyahhud, duduknya adalah duduk iftirasy seperti duduk tasyahhud awal, yaitu dengan menancapkan kaki kanan dan duduk di atas kaki kiri. Ada dua hadits yang menjelaskan hal tersebut.
Pertama : Hadits ‘Abdullah bin Zubair, beliau berkata,
“Adalah Rasulullah r apabila beliau duduk dalam dua raka’at, beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan yang kanan …” [Dikeluarkan oleh Ibnu Hibban -sebagaimana dalam Al-Ihsan 5/370 no.1943- dengan sanad yang hasan.]
Kedua : Hadits Wail bin Hujr,
“Dan apabila ia duduk dalam dua raka’at beliau membaringkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya…”” [Dikeluarkan oleh An-Nasai 2/586-587 no.1158 dengan sanad yang shohih..]
Demikian kaifiat duduk pada sholat yang hanya dua raka’at seperti sholat subuh, sholat sunnah rawatib dan sebagainya.
Walaupun ada silang pendapat di kalangan ulama terdahulu tentang cara duduk pada sholat dua raka’at, namun di masa ini, saya tidak mengetahui ada seorang alim pun yang melakukan selain dari kaifiat di atas yaitu duduk iftirasy. Demikian saya saksikan kaifiat sholat para ulama besar di masa ini, seperti Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Muqbil, Syaikh Sholih Al-Fauzan, Syaikh Abdul ‘Azizi Alu Asy-Syaikh, Syaikh Ahmad An-Najmi, Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad, Syaikh Zaid Al-Madkhaly, Syaikh Rabi, Syaikh Ubaid Al-Jabiry, Syaikh Abdullah Al-Gudayyan dan banyak lagi dari ulama besar di zaman ini.
Dan saya menganggap tidak pantas untuk seorang penuntut ilmu keluar dari pemahaman ulama-ulama terkemuka yang lebih paham liku-liku dan kedetailan agama dari kita semua.
Wallahu A’lam
Ditulis oleh
Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi
Senin, Pagi berkabut debu pada 7 Shofar 1430H
Riyadh, KSA

Jumat, 12 Februari 2016

Dibalik Syukur Terdapat Tauhid


Bersyukur dan bersabarlah atas segala ujian dari Allah, jangan pernah menyalahkan Allah terhadap apa yang terjadi terhadap kita.
Sifat buruk manusia adalah apabila dia mendapat nikmat lalu kemudian diuji oleh Allah langsung putus asa dan tidak mensyukuri nikmat yg terdahulu. Padahal nikmat yg dicabut hanya sedikit saja. Menuduh Allah tidak adil dan sebagainya. Selalulah bersyukur kepada Allah di setiap keadaan.

Surah Hud 9
وَلَئِنْ أَذَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً ثُمَّ نَزَعْنَاهَا مِنْهُ إِنَّهُ لَيَئُوسٌ كَفُورٌ
Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih.

Manusia tidak pernah lepas dari dosa. Selalu melakukan kesalahan. Sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah orang yang bertobat kepada Allah.
Kita banyak mengucapkan Alhamdulillah pada saat kita memperoleh nikmat harta , duit, padahal nikmat harta adalah nikmat yang paling bawah. Nikmat yang paling tinggi adalah nikmat mata, nikmat kesehatan. Rubahlah cara berpikir kita tentang nikmat. Banyak nikmat Allah yang harus disyukuri selain harta.

Manusia melakukan dosa bukan hanya karena iblis (setan dan jin). Buktinya kemaksiatan tetap terjadi di bulan ramadhan walaupun setan dan jin telah dibelenggu. Penyebab dosa adalah sifat2 yang buruk dari manusia itu sendiri.
Target utama iblis terhadap kita yaitu membuat manusia tidak bersyukur, sedikit-sedikit mengeluh tentang keadaan dirinya.
Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan men-dapati kebanyakan mereka bersyukur (ta’at).'” (QS. Al A’raf : 16-17)

Maka,
Ingat-ingatlah tentang target target iblis tersebut, karena dibalik bersyukur terdapat tauhid.









Pemegang Kunci Kebaikan



Beruntunglah siapa saja yang di tangan nya di berikan kunci kebaikan.
Meskipun Hanya memberi makan atau Men-traktir kawan-kawan.

Dari Anas Bin Malik RA berkata: bahwa Rasululloh bersabda
“ Sesungguhnya diantara manusia ada orang yg menjadi pembuka pintu-pintu kebaikan dan penutup pintu-pintu keburukan, dan diantara manusia pula ada yang menjadi pembuka pintu-pintu keburukan dan penutup pintu-pintu kebaikan maka berbahagialah bagi siapa yg Alloh jadikan sebagai kunci pembuka pintu2 kebaikan ada di tangannya dan celakalah orang yg Alloh jadikan kunci pembuka pintu keburukan di tangannya,(HR, Ibnu Majah)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah , ia berkata, Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Siapa di antara kalian yang berpuasa di pagi ini?"
Abu Bakar menjawab, "aku."
Beliau bertanya, "Siapa di antara kalian yang sudah menjenguk orang sakit hari ini?"
Abu Bakar menjawab, "aku."
Beliau bertanya lagi, "Siapa di antara kalian yang telah mengantarkan jenazah hari ini?"
Abu Bakar menjawab, "aku."
Beliau bertanya lagi, "Siapa di antara kalian yang telah memberi makan orang miskin hari ini?
Abu Bakar menjawab, "aku".

Kemudian Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidaklah semua ini terkumpul dalam diri seseorang melainkan ia pasti masuk surga." (H.R; Muslim, no: 1028).