Kenaikan harga BBM pada level US$ 120/barel yang merupakan level tertinggi sepanjang sejarah disatu sisi, dan disisi lain kita menyaksikan kenyataan antrian masyarakat atas kebutuhan minyak tanah, serta lemahnya daya beli masyarakat atas kebutuhan dasarnya merupakan kenyataan yang harus dihadapi saat ini, termasuk Indonesia.
Selain faktor-faktor global yang harus diantisipasi, akan tetapi juga system dan konsep pembangunan dimasing-masing Negara juga perlu diperbaiki. Apa yang dialami Indonesia pada tahun 1997, krisis multidimensi yang tidak terbendung merupakan konsekuensi logis dari penerapan system pertumbuhan ekonomi yang dijalankan. Ditambah lagi krisis ekologi yang sampai saat ini berlangsung seolah menggambarkan kebobrokan system dan pengelolaan Negara terhadap sumber daya alamnya.
Keadaan ini mau tidak mau akan selalu memunculkan sentiment regional, kritik dan keresahan social akan selalu menantang perbaikan-perbaikan kedepan. Akan tetapi, reformasi yang didengungkan sampai saat ini belum juga memberikan perbaikan yang signifikan terhadap masalah bangsa. Justru malah mengembalikan dan melanggengkan pada persoalan-persoalan klasik seperti diatas.
Yang tidak terelakan lagi adalah kapitalisme internasional saat ini telah mencengkram kuat, mendominasi dan mengendalikan Negara-negara didunia.Kapitalisme internasional merupakan salah satu factor yang menyebabkan peradaban barat menjadi dominan,selain factor lainnya seperti sains dan teknologi. kapitalisme itu diikuti penaklukan,kolonialisasi, perbudakan,ekspoitasi,perpindahan ekses populasi, serta genosida khususnya di Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Australia.
Dalam hal ini, sepak terjang Indonesia di tingkat internasional serta kebijakan yang diambil atas kondisi yang dihadapi tetap menjadi pertaruhan dalam membawa nasib dan masa depan bangsa dan Negara.
Krisis Global Terhadap Nilai Rupiah
Krisis ekonomi global telah terjebak pada sistem kapitalisme internasional.krisis global yang berawal dari runtuhnya industri keuangan di Amerika Serikat. Mereka yang krisis kita yang ’’hancur-hancuran’’ jatuhnya nilai rupiah akibat runtuhnya industri keuangan di Amerika Serikat yang dipastikan berdampak pada banyak negara, termasuk Indonesia.
Kalau tidak ada upaya sungguh-sungguh maka krisis ekonomi seperti tahun 1998 dipastikan akan terulang lagi.salah satu fakta dari krisis ini dapat kita lihat dari anjlok nya nilai rupiah baru-baru ini yang sempat menembus Rp9600 per dolarnya.saat ini rupiah makin melemah lantas masyarakat memborong dolar maka yang terjadi adalah kepanikan di pasar uang.Di sinilah Bank Indonesia berperan untuk menstabilkan rupiah agar jangan sampai menembus Rp10.000 per dolarnya sebagai ambang batas toleransi. Kalau level Rp 10.000 itu terlewati maka dampaknya akan sangat luar biasa, karena masyarakat tidak akan percaya lagi dengan pemerintah dan Bank Indonesia dan mengakibatkan pertahanan pemerintah ikut rontok,kalau hal itu terjadi maka kehidupan rakyat semakin parah. Sungguh ’apes’ nasib rakyat kecil yang kehidupannya sudah sangat parah sekarang ini bila imbas krisis global sampai menghancurkan perekonomian Indonesia .
Dampak Krisis Global Terhadap Produk Ekspor Indonesia
Krisis global memang membuat banyak pesanan produk ekspor asal Indonesia dihentikan atau ditunda pengirimannya. Tapi di sisi lain, harga sejumlah produk ekspor Indonesia justru naik. Meski demikian, jika krisis global terus berlanjut, bukan tak mungkin daya beli masyarakat luar negeri ikut merosot.
“PENDAPAT SAYA TENTANG KRISIS GLOBAL”
“ Dampak yang paling dirasakan warga Indonesia pada umumnya MENURUNNYA KESEJAHTERAAN....(Kemiskinan).Sudah Terasa ....
perlahan namun PASTI ... Lihat berapa banyak buruh yang dirumahkan, berapa banyak pabrik colaps, berapa banyak investor yang menarik dana ....”
Jadi……………… ?!! .....
tidak dapat di pungkiri imbas dari krisis global sangat besar pengaruhnya bagi siapa saja, terutama kepada pelaku bisnis yang ada di indonesia...
Untuk Itu………….. ?!! .....
“ Dengan adanya krisis global ini seharusnya kita semua sadar bahwa negara kita ini jangan sampai bergantung pada negara adi kuasa,sebenarnya kita harus bangga karena SDA kita lebih baik dari negara lain termasuk adi kuasa. sekarang tergantung SDM nya bagaimana cara mengolah SDA dengan baik. “