Kamis, 27 Juni 2013

Muhammad sebagai Suami Teladan

 
Menurut sejarah kehidupan beliau selalu bersih, berakhlak mulia, dan disukai orang. Pada masa kanak-kanak nya jibril membelah dada beliau, daerah yang menjadi obyek setan dalam kalbunya dikeluarkan, sehingga beliau hidup dengan hati yang suci dan bersih. Ketika beliau berumur 10 tahun peristiwa itu berulang kembali, untuk menjadikan Muhammad sebagai manusia sempurna dan suri teladan umat di seluruh dunia. Beliau sering pergi ke gua Hira, disana beliau beribadat dan berfikir sehingga menambah kebijakan dalam dirinya dan menguatkan semangat ke imanannya. Beliau selalu mendengarkan dengan baik orang-orang yang berbicara kepadanya. Kata-kata lembut dan menyenangkan.

Beruntung sekali pada istri-istri beliau yang mempunyai suami seperti Muhammad SAW. Mereka orang yang sangat mujur mendapatkan suami yang sangat luhur sifat dan akhlak nya. Siapa yang tidak akan berbahagia hidup serumah dan seatap dengan seorang suami yang berperangai lembut dan penuh semangat seperti yang dimiliki Muhammad Saw itu.

Dalam rumah nabi muhamad terdapat kebahagian yang tidak akan dapat dicapai siapapun. Rumahnya indah meski sangat sederhana. Ia lebih mengutamakan hidup dalam rumahnya sebagai orang yang zuhud. Beliau tidak pernah memaksakan sesuatu apapun terhadap istri-istrinya. Beliau selalu memberikan kebebasan kepada para istrinya untuk mengatur dan mengembangkan kreasi mereka.

Muhammad tidak menjadikan wibawa kenabiannya sebagai perintang dan penghalang antara beliau dan para istrinya. Malah kadang-kadang beliau terlalu bersikap lunak kepada para istrinya, tegur sapa manis, dan selalu mengalah.

Muhammad tidak seperti lelaki lainnya yang hidup sesuka hatinya, menuruti nafsu yang menggoda. Ia sangat menjaga dirinya, tidak makan semua makanan, tidak minum semua minuman, tidak memakai semua pakaian dan tidak berhias dengan semua perhiasan. Ia lebih senang hidup menyepi dan menyendiri, banyak diam dan tafakkur. Tentu saja sikap beliau yang demikian itu harus difahami dan di mengerti oleh isteri dan keluarganya. Khadijah si isteri yang setia itu mengerti akan sikap suaminya, malah dia memberikan kebebasan kepada lelaki pujaannya itu untuk bertafakur lebih khusyu.

Agar terwujud perkawinan yang ideal dan harmonis maka kedua suami-isteri itu harus saling terbuka. Masing-masing pihak harus mencurahkan suka-dukanya kepada pihak yang lain.

Mengutarakan apa yang terlintas dibenaknya dan apa yang berdetak dalam kalbunya, kepada kawan hidupnya , hal ini akan menimbulkan ke akraban hati dan fikiran. Maka seketika itu juga sebagian duka deritanya terlepas. Meski cara ini terlihat sepele namun menimbulkan dampak positif yang mujarab. Melalui tukar-menukar fikiran sering kali ditemukan pemecehan berbagai problema.



Kesetiaan

Bahwa kehidupan ini hanya dapat di tegakkan atas dasar saling menerima dan memberi. Kemurahan hati dalam memberi menghantarkan orang pada kesetiaan.