Sesungguhnya Ahlussunnah wal Jama’ah -mereka yang berjalan di atas Manhaj Salafush Sholih- mereka ini berjalan di atas pondasi-pondasi/ prinsip-prinsip yang tetap dan jelas di dalam akidah, amal, dan akhlak. Prinsip-prinsip ini diambil dari Kitabulloh Yang Mahatinggi, dan setiap hadits (As Sunnah) yang shahih dari Rasulullah shollAllahu ‘alaihi wasallam; baik itu mutawatir ataupun ahad, dengan cara pemahaman Salaful Ummah (para pendahulu umat ini); baik dari kalangan generasi sahabat, generasi tabi’in, dan generasi tabi’ut tabi’in (orang-orang yang mengikuti mereka) dengan baik.
Maka, berkenaan dengan ushuluddin (pondasi-pondasi/prinsip-prinsip Agama), Nabi shollAllahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskannya secara pasti; maka tidak seorang pun boleh membuat hal baru di dalamnya sedikitpun dan menyangka bahwa itu termasuk bagian dari Agama. Karena itu, Ahlussunnah wal Jama’ah berpegang erat dengan pondasi-pondasi ini, dan
mereka berupaya menghindari istilah-istilah yang bid’ah (baru), dan berpegang teguh dengan istilah-istilah yang syar’i, dari sini maka mereka (Ahlussunnah wal Jama’ah) adalah perpanjangan/ penerus sejati dari kaum Salafush Sholih.
Prinsip-prinsip agama Islam menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah secara global sebagai berikut :
‘Aqidah Salafush Shalih – Ahlus Sunnah wal Jama’ah – dalam prinsip-prinsip keimanan terangkum dalam iman dan tashdiq (pembenaran) terhadap rukun iman yang enam sebagaimana yang disabdakan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam dalam hadits Jibril AS, yakni tatkala ia datang menanyakan tentang iman kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. Maka Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam menjawab (yang artinya) :
"Bahwa engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rosul-rosul-Nya, hari Akhir, dan engkau beriman kepada takdir; yang baik dan buruk."
Keimanan bersendikan pada keenam rukun ini. Jika salah satu rukun jatuh, seseorang tidak dapat menjadi Mukmin sama sekali, karena ia telah kehilangan salah satu dari rukun iman. Barang siapa mengingkari salah satu darinya, maka ia bukanlah seorang Mukmin.
1. Rukun Pertama: Iman Kepada Allah
Beriman kepada Allah Ta’ala ialah membenarkan secara pasti tentang keberadaan (wujud) Allah, semua kesempurnaan dan keagungan yang dimiliki-Nya; hanya Dialah yang berhak untuk diibadahi, hati diiringi dengan kemantapan akan hal itu yang tercermin dari perilakunya, konsekuen dengan perintah-Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya. Iman kepada Allah adalah prinsip dan dasar ‘aqidah Islam. Semua rukun ‘aqidah, bersumber darinya dan mengikutinya.
Termasuk beriman kepada Allah Ta’ala ialah beriman kepada keesaan- Nya, Uluhiyyah-Nya, dan Asma’ dan Sifat-Nya. Yaitu, dengan menetapkan tiga macam tauhid, meyakininya, dan mengamalkannya :
a. Tauhid Rububiyyah.
b. Tauhid Uluhiyyah.
c. Tauhid Asma’ wa Sifat.
a. Tauhid Rububiyyah
Maknanya adalah keyakinan yang pasti bahwa hanya Allah semata Rabb dan Pemilik segala sesuatu, tidak ada sekutu bagi-Nya, Dialah Yang Maha Pencipta, Dialah yang mengatur alam dan yang menjalankannya. Dialah yang menciptakan para hamba, yang memberi rizki kepada mereka, serta menghidupkan dan mematikannya. Selain itu, beriman kepada qada’ dan qadar-Nya serta keesaan-Nya dalam Dzat-Nya. Ringkasnya, bahwa Tauhid Rububiyyah adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam segala perbuatan-Nya.
b. Tauhid Uluhiyyah.
Yaitu, mengesakan Allah Ta'ala melalui perbuatan para hamba, dinamakan juga dengan tauhid ibadah. Maknanya adalah keyakinan yang pasti bahwa Allah جل جلاله adalah ilah (sesembahan) yang haq dan tidak ada ilah selain-Nya, segala yang diibadahi selain-Nya adalah bathil, hanya Dialah yang patut diibadahi, bagi-Nya ketundukkan dan ketaatan secara mutlak. Tidak boleh siapapun dijadikan sebagai sekutu-Nya dan tidak boleh bentuk ibadah apa pun diperuntukkan kepada selain-Nya, seperti shalat, puasa, zakat, haji, do’a, isti’anah (meminta pertolongan), nadzar, menyembelih, tawakkal, khauf (takut), harap, cinta dan lain-lain dari macam-macam
ibadah yang zhahir (tampak) maupun bathin. Ibadah kepada Allah harus dilandasi dengan rasa cinta, cemas, dan harap secara bersamaan. Beribadah kepada-Nya dengan sebagian saja dan meninggalkan sebagian lainnya adalah kesesatan. Tauhid Uluhiyyah merupakan awal dan akhir agama, bathin dan lahirnya, juga merupakan tema pertama dakwah para Rasul dan yang terakhir.
Yang menjadi Rabb Yang Maha Pencipta, Pemberi rizki, Yang Menguasai,Yang Mengatur, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan, yang disifatidengan semua sifat kesempurnaan, yang suci dari segala kekurangan, segala sesuatu (berada) di tangan-Nya, maka pastilah Dia Rabb Yang Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan tidak boleh ibadah itu dipalingkan, kecuali kepada-Nya semata.
Tauhid Uluhiyyah merupakan konsekuensi dari tauhid Rububiyyah. ‘aqidah Salafush Shalih – Ahlus Sunnah wal Jama’ah – berbeda dengan yang lainnya dalam hal tauhid Uluhiyyah. Ahlus Sunnah tidak mengartikan tauhid seperti pendapat sebagian kelompok yang mengatakan
bahwa makna tauhid itu adalah‚ tidak ada Pencipta kecuali Allah.‛ Akan tetapi, menurut mereka tauhid Uluhiyyah tidak terlealisir kecuali bila ada dua prinsip.
Pertama:
Agar semua bentuk ibadah hanya ditujukan kepada-Nya جل جلاله tidak boleh kepada yang selain-Nya dan makhluk tidak diberikan hak apa pun dari hak-hak Pencipta dan ciri-ciri khas-Nya.
Maka tidak boleh diibadahi kecuali Allah, tidak boleh shalat kepada selain-Nya, tidak boleh sujud kepada selain-Nya, tidak bernadzar kepada selain-Nya, dan tidak bertawakkal kepada selain-Nya. Tauhid Uluhiyyah itu menuntut pengesaan Allah dalam ibadah.
Ibadah: Mencakup perkataan hati dan lisan, atau juga berupa perbuatan hati dan anggota tubuh. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) :
"Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)." (QS. Al-An’aam: 169-163)
Kedua:
Ibadah itu harus sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wassalam.
- Mentauhidkan Allah جل جلاله dalam ibadah, tunduk, dan taat adalah realisasi dari syahadat: "Laa ilaaha illallah (tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah)."
- Mutaba’ah (mengikuti) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasalam dan mentaati apa yang diperintahkannya serta yang dilarangnya adalah realisasi dari syhadat: "Muhammadara Rasulullah (Muhammad adalah utusan Allah)."
Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah: Mereka beribadah hanya kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apa pun. Mereka tidak memohon kecuali hanya kepada Allah dan tidak meminta pertolongan kecuali kepada-Nya. Mereka tidak meminta bantuan (ber-istighatsah) kecuali kepada Allah, tidak bertawakkal kecuali kepada Allah, tidak takut kecuali kepada Allah dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan (melakukan) ketaatan dan ibadah kepada Allah serta dengan melakukan amalan-amalan yang shalih.
c. Tauhid Asma’ wa Sifat.
Yaitu, keyakinan dengan pasti bahwa Allah AwJ mempunyai Asma-‘ul Husna (nama-nama yang baik) dan sifat-sifat yang mulia. Dia memiliki semua sifat yang sempurna dan suci dari segala kekurangan. Dialah Yang Maha Esa dengan sifat-sifat tersebut, yang tidak dimiliki oleh makhluk-Nya.
Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengetahui Rabb mereka dengan sifat-sifat-Nya yang terdapat dalam al-Qur-an dan as-Sunnah. Mereka menyifati Rabbnya seperti apa yang Allah telah sifatkan untuk diri-Nya dan seperti apa yang disifatkan oleh Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wasakam, tanpa melakukan tahrif (penyelewengan) ungkapan-ungkapan dari konteks pengertian yang sebenarnya.
Ahlus Sunnah wal Jama’ah: Tidak membatasi kaifiyyah (bagaimanakah) sifat-sifat Allah Ta’ala karena Dia – Tabaaraka wa Ta’aala – tidak mengabarkan tentang kaifiyyah-Nya dan karena tiada seorang pun yang lebih mengetahui daripada Allah tentang diri-Nya.
Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani bahwa Allah Yang Awal, yaitu yang telah ada sebelum segala sesuatu ada; Yang Akhir, yaitu yang tetap ada setelah segala sesuatu musnah; Yang Zhahir, yakni tiada di atas-Nya suatu apa pun; dan Yang Bathin, yakni tiada suatu apa pun yang
menghalangi-Nya.
Sebagaimana Dzat-Nya tidak menyerupai dzat-dzat yang lain, demikian juga Sifat-Sifat-Nya tidak menyerupai sifat-sifat (makhluk-Nya). Tidak ada yang menyamai-Nya, tidak ada yang setara dengan-Nya, tidak ada yang sebanding dengan-Nya, dan Dia tidak boleh dianalogikan dengan ciptaan- Nya. Maka Ahlus Sunnah wal Jama’ah benar-benar menetapkan bagi Allah
apa yang telah ditetapkan Allah untuk diri-Nya dengan penetapan tanpa tamtsil dan menyucikan tanpa ta’thil. Jadi, ketika mereka menetapkan bagi Allah apa yang ditetapkan Allah untuk diri-Nya, mereka tidak men-tamtsil. Begitu pula jika menyucikan-Nya, mereka tidak men-ta’thil sifat-sifat-Nya yang telah Allah sifatkan untuk diri-Nya.
Bahwasanya Allah Ta’ala Maha Mengetahui segala sesuatu, Maha Pencipta
segala sesuatu, dan Maha Pemberi rizki semua yang hidup. Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani bahwa Allah Ta’ala itu ber-istiwa’ di atas ‘Arsy yang berada di atas langit yang ketujuh, terpisah dari makhluk-Nya, namun mengetahui segala sesuatu.
Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui kadar besarnya al-‘Arsy kecuali Allah, sedangkan al-Kursi dibandingkan al-‘Arsy bagaikan gelang yang terletak di padang pasir, ukurannya seluas langit dan bumi. Allah tidak membutuhkan al-‘Arsy dan al-Kursi, Allah ber-istiwa’ di atas al-‘Arsy bukan karena membutuhkannya, tetapi hal itu karena ada hikmah yang
hanya diketahui oleh Allah. Allah Maha Suci dari sifat membutuhkan kepada al-‘Arsy dan al-Kursi itu diangkat dengan kekuasaan dan keagungan-Nya.
Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani bahwa orang-orang Mukminin akan melihat Rabb mereka di akhirat dengan mata kepala mereka. Mereka akan melihat-Nya seperti halnya melihat bulan pada malam bulan purnama.
Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani bahwa Allah Ta’ala datang pada hari akhir untuk mengadili di antara para hamba-Nya secara hakiki sesuai dengan keagungan-Nya.
Maka manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam semua hal tersebut adalah mengimani secara sempurna dan menerima (taslim) apa yang dikabarkan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.