Selasa, 21 Maret 2017

VIII. Iman kepada Malaikat

Iman kepada Malaikat yaitu Yaitu: Beriman terhadap adanya para malaikat dengan keimanan yang pasti tidak disertai dengan keraguan sama sekali.

Ahlussunnah wal Jama’ah mengimani mereka secara global, dan adapun perinciannya adalah yang berdasarkan dalil yang sah, siapa saja yang Allah dan Rosul-Nya shollAllahu ‘alaihi wasallam sebutkan diantaranya seperti: Jibril yang mewakili urusan wahyu, Mika`il yang mewakili urusan hujan, Isrofil yang mewakili urusan peniupan sangkakala, Malaikat Maut yang mewakili urusan pencabutan arwah, Malaikat penjaga neraka, Malaikat Ridhwan penjaga Surga, dan dua Malaikat kubur; Munkar dan Nakir. Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani wujud mereka bahwa mereka adalah hamba Allah yang diciptakan dari cahaya dan berjasad, bukan suatu yang maknawi dan juga bukan merupakan kekuatan yang tersembunyi. Mereka adalah salah satu makhluk Allah dan mereka tinggal di langit. Bentuk Malaikat itu besar dan mempunyai sayap. Di antaranya ada yang mempunyai dua, tiga, empat, dan ada pula yang mempunyai sayap lebih dari itu.

Mereka adalah salah satu dari tentara Allah, mampu menyerupai sesuatu yang lain, dan berbentuk seperti manusia sesuai dengan keadaan yang diizinkan Allah Ta’ala. Mereka itulah makhluk yang dekat kepada Allah dan dimuliakan, tidak berjenis kelamin baik laki-laki ataupun wanita, serta tidak kawin dan tidak pula berketurunan. Para Malaikat tidak makan dan minum, tetapi makanannya adalah tasbih (ucapan Subhanallah) dan tahlil (ucapan Laa Ilaaha Illallah). Mereka tidak pernah merasa bosan, letih, ataupun payah. Mereka disifati dengan kebaikan, keindahan, malu, dan disiplin. Malaikat berbeda dengan manusia karena mereka diciptakan untuk taat dan tidak bermaksiat. Allah menciptakan mereka untuk beribadah kepada-Nya dan melaksanakan perintah-Nya.

Para Malaikat itu bertasbih kepada Allah siang-malam, mereka thawaf di Baitul Ma’mur di langit dan mereka takut kepada Allah.

· Tugas-tugas Malaikat

Di antara Malaikat ada yang bertugas memikul ‘Arsy, menyampaikan wahyu, menjaga gunung, serta menjaga Neraka dan Surga. Ada yang bertugas mencatat perbuatan manusia, mencabut ruh kaum Muslimin dan kaum kafir, serta ada pula yang bertugas memberikan pertanyaan di kubur.

Di antara mereka ada yang bertugas memintakan ampunan bagi kaum Mukmin, mendo’akan, dan mencintai mereka. Ada juga yang bertugas untuk menghadiri majelis ilmu dan mengelilingi mereka dengan sayapsayapnya. Di antaranya ada yang bertugas sebagai qarin (teman) bagi seseorang dan tidak berpisah darinya, ada yang bertugas menyeru para hamba untuk berbuat baik, dan ada yang bertugas menghadiri jenazah orang-orang shalih. Ada pula yang bertugas berperang dengan kaum Muslimin dan meneguhkan mereka dalam jihadnya melawan musuhmusuh Allah.

Di antaranya ada yang bertugas melindungi orang-orang yang shalih dan melapangkan kesulitan-kesulitan mereka. Bahkan, ada yang bertugas mengadzab (orang-orang yang durhaka).

Malaikat tidak akan masuk suatu rumah yang di dalamnya terdapat patung, gambar (foto), anjing, dan lonceng. Mereka merasa terganggu dari hal-hal yang dapat menganggu manusia.

Allah Ta’ala telah menutupi mereka, sehingga kita tidak dapat melihat mereka dalam bentuk aslinya. Akan tetapi, Allah membukanya kepada sebagian hamba-Nya.

Rabu, 15 Maret 2017

VII. Pendapat Imam Tentang Sifat Allah

Seperti juga yang dikatakan oleh Imam Sufyan bin ‘Uyainah:
"Semua yang Allah Ta’ala sifatkan untuk diri-Nya dalam al-Qur-an, maka bacaannya adalah tafsirnya, tidak perlu bertanya bagaimana dan tidak boleh menyerupakannya dengan sesuatu."

Imam asy-Syafi’i juga berkata:
"Aku beriman kepada Allah dan apa yang datang dari-Nya sesuai dengan apa yang dimaksudkan Allah. Aku beriman kepada Rasul-Nya dan apa yang datang darinya sesuai dengan apa yang dimaksudkan Rasulullah."

Al-Walid bin Muslim berkata:
"Aku bertanya kepada al-Auza’i, Sufyan bin ‘Uyainah, dan Malik bin Anas tentang hadits-hadits dalam masalah sifat dan ru’yah. Maka mereka menjawab:
"Perlakukanlah sebagaimana apa adanya, tanpa menanyakan bagaimananya."

Imam Malik bin Anas – Imam Darul Hijrah – berkata:
"Waspadalah kalian terhadap perbuatan bid’ah!"
 Beliau ditanya: "Apakah bid’ah itu?"
 Beliau menjawab: "Ahli bid’ah adalah mereka yang memperbincangkan asma’
Allah, sifat-sifat-Nya, kalam-Nya, ilmu-Nya, dan kekuasaan-Nya. Mereka tidak diam seperti diamnya para Sahabat dan Tabi’in yaitu orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik."
Seseorang bertanya kepada Imam Malik bin Anas tentang maksud firman
Allah:
"(Yaitu) Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas 'Arsy."(QS. Thaahaa: 5)

Beliau menjawab:
"Istiwa’-nya Allah tidaklah majhul (diketahui maknanya), kaifiyat-nya tidak dapat dicapai akal (tidak diketahui), beriman kepadanya wajib, dan bertanya tentang hal tersebut adalah perbuatan bid’ah. Sungguh, aku tidak melihatmu, kecuali engkau seorang yang sesat."
Kemudian, beliau menyuruh agar orang tersebut dikeluarkan dari majelis ilmu beliau."(Diriwayatkan oleh Imam al-Baghawi, dalam kitab Syarhus Sunnah).

Imam Abu Hanifah berkata: "Seseorang tidak boleh berbicara sedikit pun tentang Dzat Allah, namun hendaknya ia menyifati-Nya dengan sifat-sifat yang telah Allah sifatkan untuk diri-Nya dan tidak mengatakan dalam hal ini dengan pendapatnya semata. Maha Suci Allah lagi Maha Tinggi, Rabb semesta alam."
Ketika beliau ditanya tentang sifat Nuzuul (turunnya Allah ke langit dunia), beliau berkata: "Dia turun dan (jangan bertanya) ‚bagaimana‛ (Dia turun)?"

Imam al-Hafizh Nu’aim bin Hammad al Khuza’i RA berkata:
"Barang siapa menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka ia telah kafir dan barang siapa mengingkari apa yang telah Allah sifatkan untuk diri-Nya, maka ia telah kafir. Apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya maupun (disifatkan oleh) Rasul-Nya bukanlah tasybih (penyerupaan)."
(Diriwayatkan Imam adz-Dzahabi dalam kitab al-‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffaar).

Sebagian Salaf berkata:
"Pijakan Islam tidak akan kokoh, kecuali di atas jembatan taslim (menerima apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya)."

Oleh karena itu, barang siapa mengikuti metode Salaf dalam berbicara Dzat Allah Ta’ala dan sifat-Nya, maka ia akan konsisten dengan manhaj al-Quran tentang asma’ Allah dan sifat-sifat-Nya, baik orang tersebut hidup pada zaman Salaf maupun pada zaman setelahnya.

Sebaliknya, barang siapa berselisih dengan Salaf dalam manhajnya, maka ia tidak akan konsisten dengan manjhaj al-Qur-an walaupun ia berada di zaman Salaf, bahkan sekalipun ia hidup di antara para Sahabat dan Tabi’in





Jumat, 03 Maret 2017

Akhlak Mulia

Bisakah menjadi sosok yang berakhlak mulia ?

Beberapa ulama berpendapat bahwa akhlak mulia sebagai tabiat alami, artinya tidak bisa dibuat buat karena merupakan karunia Allah. Sedangkan para ulama lain menganggapnya sebagai watak bentukan, artinya ia dapat diraih dengan latihan dan pembiasaan diri secara teratur.

Pada sebagian orang, mulia menjadi tabiat alaminya yang dianugrahkan Allah sehingga tidak diperlukan latihan atau pembiasaan diri untuk bisa berperilaku sesuai akhlak itu. Meski demikian orang yang tidak dikaruniai kelebihan ini tetap bisa meraihnya, asalkan mau berupaya maksimal dalam melawan hawa nafsu dan tekun melatih diri.

Suatu ketika rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada asyaj abdul qais : " sunguh, engkau memiliki dua sifat yang dicintai Allah : murah hati dan sabar."
Asyaj pun bertanya : wahai rasulullah, apakah aku memiliki kedua sifat itu karena pembiasaan diri, atau karena Allah menjadikannya sebagai tabiatku sejak aku diciptakan?"
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasalam menjawab : " karena Allah menjadikannya sebagai tabiatmu,"
Kemudia  asyaj dengan mendengar jawaban ini bersyukur dan berucap " segala puji bagi Allah yang menganugerahiku dua akhlak yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.

Apakah akhlak bisa dirubah ?
Seandainya akhlak tidak dapat diubah, tentu wasiat agar berbuat baik, nasihat, dan pengajaran adab tidak ada gunanya.

Ini artinya bahwa akhlak pada diri seseeorang mungkin saja dirubah.

VI. Pokok Aqidah Ahlussunnah

Sesungguhnya Ahlussunnah wal Jama’ah -mereka yang berjalan di atas Manhaj Salafush Sholih- mereka ini berjalan di atas pondasi-pondasi/ prinsip-prinsip yang tetap dan jelas di dalam akidah, amal, dan akhlak. Prinsip-prinsip ini diambil dari Kitabulloh Yang Mahatinggi, dan setiap hadits (As Sunnah) yang shahih dari Rasulullah shollAllahu ‘alaihi wasallam; baik itu mutawatir ataupun ahad, dengan cara pemahaman Salaful Ummah (para pendahulu umat ini); baik dari kalangan generasi sahabat, generasi tabi’in, dan generasi tabi’ut tabi’in (orang-orang yang mengikuti mereka) dengan baik.

Maka, berkenaan dengan ushuluddin (pondasi-pondasi/prinsip-prinsip Agama), Nabi shollAllahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskannya secara pasti; maka tidak seorang pun boleh membuat hal baru di dalamnya sedikitpun dan menyangka bahwa itu termasuk bagian dari Agama. Karena itu, Ahlussunnah wal Jama’ah berpegang erat dengan pondasi-pondasi ini, dan
mereka berupaya menghindari istilah-istilah yang bid’ah (baru), dan berpegang teguh dengan istilah-istilah yang syar’i, dari sini maka mereka (Ahlussunnah wal Jama’ah) adalah perpanjangan/ penerus sejati dari kaum Salafush Sholih.

Prinsip-prinsip agama Islam menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah secara global sebagai berikut :

‘Aqidah Salafush Shalih – Ahlus Sunnah wal Jama’ah – dalam prinsip-prinsip keimanan terangkum dalam iman dan tashdiq (pembenaran) terhadap rukun iman yang enam sebagaimana yang disabdakan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam dalam hadits Jibril AS, yakni tatkala ia datang menanyakan tentang iman kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. Maka Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam menjawab (yang artinya) :

"Bahwa engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rosul-rosul-Nya, hari Akhir, dan engkau beriman kepada takdir; yang baik dan buruk."

Keimanan bersendikan pada keenam rukun ini. Jika salah satu rukun jatuh, seseorang tidak dapat menjadi Mukmin sama sekali, karena ia telah kehilangan salah satu dari rukun iman. Barang siapa mengingkari salah satu darinya, maka ia bukanlah seorang Mukmin.

1. Rukun Pertama: Iman Kepada Allah

Beriman kepada Allah Ta’ala ialah membenarkan secara pasti tentang keberadaan (wujud) Allah, semua kesempurnaan dan keagungan yang dimiliki-Nya; hanya Dialah yang berhak untuk diibadahi, hati diiringi dengan kemantapan akan hal itu yang tercermin dari perilakunya, konsekuen dengan perintah-Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya. Iman kepada Allah adalah prinsip dan dasar ‘aqidah Islam. Semua rukun ‘aqidah, bersumber darinya dan mengikutinya.

Termasuk beriman kepada Allah Ta’ala ialah beriman kepada keesaan- Nya, Uluhiyyah-Nya, dan Asma’ dan Sifat-Nya. Yaitu, dengan menetapkan tiga macam tauhid, meyakininya, dan mengamalkannya : 
a. Tauhid Rububiyyah.
b. Tauhid Uluhiyyah.
c. Tauhid Asma’ wa Sifat.

a. Tauhid Rububiyyah
Maknanya adalah keyakinan yang pasti bahwa hanya Allah semata Rabb dan Pemilik segala sesuatu, tidak ada sekutu bagi-Nya, Dialah Yang Maha Pencipta, Dialah yang mengatur alam dan yang menjalankannya. Dialah yang menciptakan para hamba, yang memberi rizki kepada mereka, serta menghidupkan dan mematikannya. Selain itu, beriman kepada qada’ dan qadar-Nya serta keesaan-Nya dalam Dzat-Nya. Ringkasnya, bahwa Tauhid Rububiyyah adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam segala perbuatan-Nya.

b. Tauhid Uluhiyyah.
Yaitu, mengesakan Allah Ta'ala melalui perbuatan para hamba, dinamakan juga dengan tauhid ibadah. Maknanya adalah keyakinan yang pasti bahwa Allah جل جلاله adalah ilah (sesembahan) yang haq dan tidak ada ilah selain-Nya, segala yang diibadahi selain-Nya adalah bathil, hanya Dialah yang patut diibadahi, bagi-Nya ketundukkan dan ketaatan secara mutlak. Tidak boleh siapapun dijadikan sebagai sekutu-Nya dan tidak boleh bentuk ibadah apa pun diperuntukkan kepada selain-Nya, seperti shalat, puasa, zakat, haji, do’a, isti’anah (meminta pertolongan), nadzar, menyembelih, tawakkal, khauf (takut), harap, cinta dan lain-lain dari macam-macam
ibadah yang zhahir (tampak) maupun bathin. Ibadah kepada Allah harus dilandasi dengan rasa cinta, cemas, dan harap secara bersamaan. Beribadah kepada-Nya dengan sebagian saja dan meninggalkan sebagian lainnya adalah kesesatan. Tauhid Uluhiyyah merupakan awal dan akhir agama, bathin dan lahirnya, juga merupakan tema pertama dakwah para Rasul dan yang terakhir.

Yang menjadi Rabb Yang Maha Pencipta, Pemberi rizki, Yang Menguasai,Yang Mengatur, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan, yang disifatidengan semua sifat kesempurnaan, yang suci dari segala kekurangan, segala sesuatu (berada) di tangan-Nya, maka pastilah Dia Rabb Yang Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan tidak boleh ibadah itu dipalingkan, kecuali kepada-Nya semata.

Tauhid Uluhiyyah merupakan konsekuensi dari tauhid Rububiyyah. ‘aqidah Salafush Shalih – Ahlus Sunnah wal Jama’ah – berbeda dengan yang lainnya dalam hal tauhid Uluhiyyah. Ahlus Sunnah tidak mengartikan tauhid seperti pendapat sebagian kelompok yang mengatakan
bahwa makna tauhid itu adalah‚ tidak ada Pencipta kecuali Allah.‛ Akan tetapi, menurut mereka tauhid Uluhiyyah tidak terlealisir kecuali bila ada dua prinsip. 

Pertama: 
Agar semua bentuk ibadah hanya ditujukan kepada-Nya جل جلاله tidak boleh kepada yang selain-Nya dan makhluk tidak diberikan hak apa pun dari hak-hak Pencipta dan ciri-ciri khas-Nya.

Maka tidak boleh diibadahi kecuali Allah, tidak boleh shalat kepada selain-Nya, tidak boleh sujud kepada selain-Nya, tidak bernadzar kepada selain-Nya, dan tidak bertawakkal kepada selain-Nya. Tauhid Uluhiyyah itu menuntut pengesaan Allah dalam ibadah.

Ibadah: Mencakup perkataan hati dan lisan, atau juga berupa perbuatan hati dan anggota tubuh. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) :

"Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)." (QS. Al-An’aam: 169-163)

Kedua:
Ibadah itu harus sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wassalam.

- Mentauhidkan Allah جل جلاله dalam ibadah, tunduk, dan taat adalah realisasi dari syahadat: "Laa ilaaha illallah (tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah)."

- Mutaba’ah (mengikuti) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasalam dan mentaati apa yang diperintahkannya serta yang dilarangnya adalah realisasi dari syhadat: "Muhammadara Rasulullah (Muhammad adalah utusan Allah)."


Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah: Mereka beribadah hanya kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apa pun. Mereka tidak memohon kecuali hanya kepada Allah dan tidak meminta pertolongan kecuali kepada-Nya. Mereka tidak meminta bantuan (ber-istighatsah) kecuali kepada Allah, tidak bertawakkal kecuali kepada Allah, tidak takut kecuali kepada Allah dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan (melakukan) ketaatan dan ibadah kepada Allah serta dengan melakukan amalan-amalan yang shalih.

c. Tauhid Asma’ wa Sifat.

Yaitu, keyakinan dengan pasti bahwa Allah AwJ mempunyai Asma-‘ul Husna (nama-nama yang baik) dan sifat-sifat yang mulia. Dia memiliki semua sifat yang sempurna dan suci dari segala kekurangan. Dialah Yang Maha Esa dengan sifat-sifat tersebut, yang tidak dimiliki oleh makhluk-Nya.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengetahui Rabb mereka dengan sifat-sifat-Nya yang terdapat dalam al-Qur-an dan as-Sunnah. Mereka menyifati Rabbnya seperti apa yang Allah telah sifatkan untuk diri-Nya dan seperti apa yang disifatkan oleh Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wasakam, tanpa melakukan tahrif (penyelewengan) ungkapan-ungkapan dari konteks pengertian yang sebenarnya.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah: Tidak membatasi kaifiyyah (bagaimanakah) sifat-sifat Allah Ta’ala karena Dia – Tabaaraka wa Ta’aala – tidak mengabarkan tentang kaifiyyah-Nya dan karena tiada seorang pun yang lebih mengetahui daripada Allah tentang diri-Nya.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani bahwa Allah Yang Awal, yaitu yang telah ada sebelum segala sesuatu ada; Yang Akhir, yaitu yang tetap ada setelah segala sesuatu musnah; Yang Zhahir, yakni tiada di atas-Nya suatu apa pun; dan Yang Bathin, yakni tiada suatu apa pun yang
menghalangi-Nya.

Sebagaimana Dzat-Nya  tidak menyerupai dzat-dzat yang lain, demikian juga Sifat-Sifat-Nya tidak menyerupai sifat-sifat (makhluk-Nya). Tidak ada yang menyamai-Nya, tidak ada yang setara dengan-Nya, tidak ada yang sebanding dengan-Nya, dan Dia tidak boleh dianalogikan dengan ciptaan- Nya. Maka Ahlus Sunnah wal Jama’ah benar-benar menetapkan bagi Allah
apa yang telah ditetapkan Allah untuk diri-Nya dengan penetapan tanpa tamtsil dan menyucikan tanpa ta’thil. Jadi, ketika mereka menetapkan bagi Allah apa yang ditetapkan Allah untuk diri-Nya, mereka tidak men-tamtsil. Begitu pula jika menyucikan-Nya, mereka tidak men-ta’thil sifat-sifat-Nya yang telah Allah sifatkan untuk diri-Nya.

Bahwasanya Allah Ta’ala Maha Mengetahui segala sesuatu, Maha Pencipta
segala sesuatu, dan Maha Pemberi rizki semua yang hidup. Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani bahwa Allah Ta’ala itu ber-istiwa’ di atas ‘Arsy yang berada di atas langit yang ketujuh, terpisah dari makhluk-Nya, namun mengetahui segala sesuatu.

Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui kadar besarnya al-‘Arsy kecuali Allah, sedangkan al-Kursi dibandingkan al-‘Arsy bagaikan gelang yang terletak di padang pasir, ukurannya seluas langit dan bumi. Allah tidak membutuhkan al-‘Arsy dan al-Kursi, Allah ber-istiwa’ di atas al-‘Arsy bukan karena membutuhkannya, tetapi hal itu karena ada hikmah yang
hanya diketahui oleh Allah. Allah Maha Suci dari sifat membutuhkan kepada al-‘Arsy dan al-Kursi itu diangkat dengan kekuasaan dan keagungan-Nya.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani bahwa orang-orang Mukminin akan melihat Rabb mereka di akhirat dengan mata kepala mereka. Mereka akan melihat-Nya seperti halnya melihat bulan pada malam bulan purnama.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani bahwa Allah Ta’ala datang pada hari akhir untuk mengadili di antara para hamba-Nya secara hakiki sesuai dengan keagungan-Nya.

Maka manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam semua hal tersebut adalah mengimani secara sempurna dan menerima (taslim) apa yang dikabarkan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

Rabu, 01 Maret 2017

V. Kekhususan Aqidah Ahlussunnah


Mengapa Aqidah Salafush Shalih lebih Utama untuk Di ikuti?

Akidah yang shahih (benar) adalah asas agama ini. Dan apa saja yang tidak dibangun di atas asas ini; maka dia akan roboh. Dan dari sini , kita melihat adanya perhatian Nabi Shollallahu 'Alaihi Wasallam sepanjang hidup beliau terhadap pengikatan dan perletakkan Akidah ini di hati mereka di atas pondasi yang kokoh dan asas yang kuat.
Urgensi studi 'aqidah Salafush Shalih bertumpu pada urgensi penjelasan 'aqidah yang murni, keharusan beramal dengan sungguh-sungguh dalam rangka mengembalikan manusia kepadanya ('aqidah tersebut) dan menyelamatkan mereka dari kesesatan-kesesatan firqah dan perbedaan kelompok.

Oleh karena itu, 'aqidah menurut manhaj Salafush Shalih mempunyai beberapa keistimewaan dan ciri khas yang unik, yang menjelaskan ketinggian nilainya dan keharusan untuk berpegang teguh padanya.
Di antara keistimewaanya :
1. 'Aqidah Salafush Shalih adalah satu-satunya cara untuk mencegah berbagai perselisihan dan timbulnyya golongan-golongan, menyatukan barisan kaum Muslimin pada umumnya dan ulama serta para juru dakwah pada khususnya. Sebab Aqidah yang benar itu merupakan wahyu Allah Ta'ala dan petunjuk Nabi-Nya Shallallahu 'alaihi wassalam, serta jalan yang ditempuh oleh generasi pertama, yaitu para sahabat yang mulia. Perkumpulan apa pun yang berlandaskan kepada selain 'aqidah yang benar ini pasti akan berakhir dengan perpecahan dan pertentangan di antara kaum muslimin sebagaimana yang kita saksikan saat ini.
2. 'Aqidah Salafush Shalih menyatukan dan menguatkan barisan kaum Muslimin, serta memperkokoh persatuan mereka di atas kebenaran.
3. 'Aqidah Salafush Shalih menghubungkan seorang Muslim secara langsung dengan Allah Ta'ala dan Rasul-Nya. Yaitu dengan kecintaan dan pengaggungan keduanya serta tidak mendahului Allah Ta'ala dan Rasul-Nya (dalam menetapkan suatu hukum). yang demikian itu karena sumber hukum 'Aqidah Salaf adalah firman Allah dan sabda Rasul Nya, jauh dari permainan hawa nafsu dan Syubhat, serta bersih dari pengaruh-pengaruh luar, baik itu filsafat, ilmu kalam, maupun rasionalisme. jadi Sumber Aqidah ahlus sunnah waljamaah tiada lain adalah Al-Quran dan As-sunnah.

4. Sesungguhnya 'Aqidah salafush shalih mudah, praktis, dan jelas, tidak ada kesamaran dan kesukaran didalamnya, dan tidak bertele-tele. Orang yang ber'aqidah semacam ini akan senang hatinya, tenang jiwanya, jauh dari kebimbingan, prasangka, was-was bisikan syaitan, dan hatinya menjadi sejuk karena ia berjalan diatas petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wassalam ummat ini dan para sahabat yang mulia.

5. 'Aqidah Salafush Shalih merupakan faktor yang paling agung untuk dapat mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala dan mendapatkan keridhaan-Nya.