Minggu, 23 April 2017

Memahami ujian


RosulullohSAW bersabda: "Barangsiapa ada akhirat{ Surga } keinginannya/cita-citanya maka Allah akan memberi rasa cukup/kaya dalam hatinya, dan mengumpulkan Alloh baginya urusannya yang berserakan dan Alloh mendatngakan dunia padanya dengan hina, dan barangsiapa ada dunia keinginannya/cita-citanya maka Allah akan jadikan kefaqiran di antara kedua matanya, maka Alloh akan memisah-misahkan urusannya dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali sekedar apa yang telah ditentukan baginya."HR. Tirmidzi 2389 

Lihat juga Surat an-nahl 97

Orang yang paling banyak mendapatkan ujian/cobaan (di jalan Allah Ta’ala) adalah para Nabi, kemudian orang-orang yang (kedudukannya) setelah mereka (dalam keimanan) dan orang-orang yang (kedudukannya) setelah mereka (dalam keimanan), (setiap) orang akan diuji sesuai dengan (kuat/lemahnya) agama (iman)nya, kalau agamanya kuat maka ujiannya pun akan (makin) besar, kalau agamanya lemah maka dia akan diuji sesuai dengan (kelemahan) agamanya, dan akan terus-menerus ujian itu (Allah Ta’ala) timpakan kepada seorang hamba sampai (akhirnya) hamba tersebut berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak punya dosa (sedikitpun)” (HR At Tirmidzi no. 2398, 

Allah Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai sebab untuk menyempurnakan penghambaan diri dan ketundukan seorang mukmin kepada-Nya, karena Allah Ta’ala mencintai hamba-Nya yang selalu taat beribadah kepada-Nya dalam semua keadaan, susah maupun senang (Lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam Ighaatsatul Lahfan, hal. 424, Mawaaridul amaan) Inilah makna sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Alangkah mengagumkan keadaan seorang mukmin, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HSR Muslim no. 2999)

Allah Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan di dunia sebagai sebab untuk menyempurnakan keimanan seorang hamba terhadap kenikmatan sempurna yang Allah Ta’ala sediakan bagi hamba-Nya yang bertakwa di surga kelak. Inilah keistimewaan surga yang menjadikannya sangat jauh berbeda dengan keadaan dunia, karena Allah menjadikan surga-Nya sebagai negeri yang penuh kenikmatan yang kekal abadi, serta tidak ada kesusahan dan penderitaan padanya selamanya. Sehingga kalau seandainya seorang hamba terus-menerus merasakan kesenangan di dunia, maka tidak ada artinya keistimewaan surga tersebut, dan dikhawatirkan hamba tersebut hatinya akan terikat kepada dunia, sehingga lupa untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang kekal abadi di akhirat nanti (Lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam Ighaatsatul Lahfan, hal. 423, Mawaaridul Amaan dan Ibnu Rajab dalam Jaami’ul ‘Uluumi wal Hikam, hal. 461, Cet. Dar Ibni Hazm). Inilah di antara makna yang diisyaratkan dalam sabda Rasulullah shallallahu

Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.” (HSR Al Bukhari no. 6053)

Gambaran kehidupan ibnu tayymiyah


Ibnul Qayyim bercerita, “Allah Ta’ala yang Maha Mengetahui bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih bahagia hidupnya daripada gurunya, Ibnu Taimiyyah. Padahal kondisi kehidupan beliau sangat susah, jauh dari kemewahan dan kesenangan duniawi, bahkan sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan (siksaan dan penderitaan yang beliau alami di jalan Allah Ta’ala), yang berupa (siksaan dalam) penjara, ancaman dan penindasan (dari musuh-musuh beliau). Tapi bersamaan dengan itu semua, aku mendapati beliau adalah termasuk orang yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling tegar hatinya serta paling tenang jiwanya. Terpancar pada wajah beliau sinar keindahan dan kenikmatan hidup (yang beliau rasakan). Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan takut yang berlebihan, atau timbul (dalam diri kami) prasangka-prasangka buruk, atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, kami (segera) mendatangi beliau (untuk meminta nasehat), maka dengan hanya memandang (wajah) beliau dan mendengarkan ucapan (nasehat) beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.

Sabtu, 15 April 2017

Perkataan & perbuatan Aisyah menampakkan cinta

Aisyah berkata " orang yahudi melintas didepan rumah seraya berkata, Assamu 'alaikum (kebinasaan untukmu).
Kemudian rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam  membalas , "wa 'alaikum" (untukmu juga).'

Mendengar mereka berkata demikian aisyah tidak bisa bersabar. Ia berkata 'Semoga kematian untuk kalian. Semoga Allah melaknat dan murka pada kalian "

Mudah memaafkan merupakan Akhlak mulia

Tidak ada manusia yang suci dan bersih dari kekeliruan,selain rasulullah shallallahu'alihi wassalam. Wajar saja karna manusia memang gudang nya salqh dan lupa. Baik di sengaja ataupun tidak, sebagian kita sering nya menyakiti perasaan orang dan juga menzhalimi orang lain.

Meskipun demikian semua itu tidak akan sampai merusak hubungan apabila setiap kita mudah untuk memaafkan kekeliruan orang lain.
Mudah memaafkan merupakan akhlak yang mulia.

Tidaklah sama antara kebaikan dengan keburukan jadi betapa beruntung nya orang yang mampu untuk memaafkan orang lain. Mampu menutup keburukan dengan kebaikan. Selayaknya kita meminta kemampuan ini kepada Allah.

Abdullah bin Amru menuturkan; seorang laki laki datang kepada nabi seraya menanyakan : " wahaibrasulullah, berapa kali kami harus memqafkan pelayan kami?"

Mendengar hal ini, beliau rasulullah diam saja. Laki laki itu mengulangi pertanyaanya, namun beliau tetap diam. Ketika pertanyaan diulang untuk ketiga kalinya, barulah rasulullah shallallahualaihi wassalam menjawab :

"Maafkanlah dia (meskipun hingga) tujuh puluh kalibsetiap harinya."

Selasa, 11 April 2017

Kamis, 06 April 2017

IX. Iman Kepada Kitab-Kitab-Nya



Ahlussunnah wal Jama'ah beriman kepada Allah, dan berkeyakinan dengan keyakinan yang pasti bahwa Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Agung telah menurunkan kitab-kitab atas para rosul-Nya di dalamnya mengandung: Perintahnya-Nya, Janji-Nya tentang nikmat, ancaman-Nya, dan apa yang Allah kehendaki penciptaannya, dan di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya.


Al-Qur-anul Karim merupakan kalam (firman) Rabb semesta alam, Kitab-Nya yang nyata, dan talinya yang kokoh. Allah Ta’ala menurunkannya kepada Rasul-Nya, Muhammad bin ‘Abdullah صلى الله عليه وسلم, agar menjadi pedoman hukum bagi ummat manusia, mangeluarkan mereka dari kegelapan menuju terang benderang, dan sebagai petunjuk bagi mereka kepada jalan yang benar dan lurus.


Allah telah mengabarkan di dalamnya tentang cerita orang-orang zaman dahulu dan akhir serta tentang penciptaan langit dan bumi. Allah telah menjelaskan tentang halal dan haram, dasar-dasar budi pekerti, akhlak, hukum ibadah dan muamalah, sirah (biografi) para Nabi dan orang-orang shalih, balasan bagi kaum Muslimin maupun orang kafir, serta menerangkan sifat-sifat Surga sebagai tempat tinggal kaum Mukminin dan sifat-sifat Neraka sebagai tempat tinggal kaum kafirin. Allah telah menjadikan al-Qur-an sebagai obat bagi penyakit yang ada di dalam jiwa, penjelas bagi segala sesuatu, dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi kaum Mukminin.




Wajib bagi semua ummat untuk mengikuti (ajarannya) dan berhukum dengannya bersamaan dengan sunnah yang shahih dari Nabi صلى الله عليه وسلم. Sebab, Allah telah mengutus Rasul-Nya kepada menusia dan jin untuk menjelaskan kepada mereka apa yang telah diturunkan-Nya kepada mereka.



Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani bahwa al-Qur-an adalah Kalamullah, baik huruf ataupun maknanya, berasal dari Allah dan kepada-Nya akan kembali, yang diturunkan, dan bukan makhluk. Allah memfirmankannya dengan sebenar-benarnya dan mewahyukannya melalui Jibril lalu Jibril ‘alaihi wasallam turun dengannya untuk disampaikan kepada Muhammad .صلى الله عليه وسلم.




Al-Qur-anul Karim merupakan mukjizat yang paling besar dan kekal bagi Nabi Muhammad bin ‘Abdullah صلى الله عليه وسلم. Selain itu, al-Qur-an adalah kitab samawi terakhir yang tidak dihapus atau diubah. Allah telah menjamin untuk memeliharanya dari segala bentuk penyelewengan, perubahan, penambahan, dan pengurangan sampai pada suatu hari Allah akan mengangkatnya, yaitu sebelum hari Kiamat.




Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengkafirkan orang yang mengingkari satu huruf darinya atau menambah maupun menguranginya. Atas dasar ini, kita beriman dengan tegas bahwa setiap ayat dari al-Qur-an diturunkan dari sisi Allah dan sampai kepada kita dengan jalan mutawatir yang qath’i (pasti). Al-Qur-anul Karim tidak turun sekaligus kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم, tetapi turun secara berangsur-angsur sesuai dengan kejadian atau sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ataupun sesuai dengan tuntutan keadaan; dalam kurun waktu 23 tahun.




Al-Qur-anul Karim terdiri dari 114 surat, 86 surat di turunkan di Makkah dan 28 surat diturunkah di Madinah. Surat-surat yang diturunkan diMakkah (sebelum hijrah) dinamakan ‚surat-surat Makkiyyah‛, sedangkan surat yang diturunkan di Madinah (sesudah hijrah) dinamakan ‚surat-surat Madaniyyah‛. Di dalam al-Qur-an terdapat 29 surat yang dibuka dengan huruf-huruf yang terputus.



Al-Qur-an sudah ditulis pada zaman Nabi صلى الله عليه وسلمdi bawah pengawasan langsung dari beliau. Penulisan wahyu tersebut ditangani oleh orang-orang ahli dari para Sahabat pilihan RA. Mereka menulis setiap ayat al-Qur-an turun atas perintah Nabi صلى الله عليه وسلم, kemudian dikumpulkan pada zaman Abu Bakar dalam mush-haf, dan pada zaman ‘Utsman RA disatukan dengan menggunakan satu macam huruf (satu dialek).




Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak memperbolehkan penafsiran ayat-ayat al- Qur-an dengan pendapat (logika) semata karena hal itu termasuk mengatakan tentang Allah tanpa dasar ilmu, bahkan hal itu termasuk perbuatan syaitan.

Hendaknya al-Qur-an ditafsirkan dengan al-Qur-an, lalu dengan as-Sunnah, lalu dengan ucapan para Sahabat, kemudian dengan ucapan para Tabi’in, dan kemudian dengan bahasa Arab, yakni al-Qur-an diturunkan dengan bahasa tersebut.