Rabu, 31 Mei 2017

XII. Iman Kepada Taqdir

Ahlussunnah wal Jama’ah: berakidah dengan akidah yang pasti bahwa setiap kebaikan dan keburukan terjadi menurut qodho` dan qodar Allah (takdir). Dan bahwa Allah Maha berbuat apa yang Dia kehendaki, segala sesuatu terjadi menurut kehendak-Nya, dan tidak keluar dari kehendak-Nya (al-masyi`ah) dan pengaturan-Nya. Dan Dia mengetahui sejak zaman azali (zaman dahulu yang tiada batasnya); segala yang telah terjadi, dan segala yang sedang atau akan terjadi sebelum hal itu terjadi. Dan Dia telah menentukan takdir bagi alam semesta dan isinya ini berdasarkan ilmu-Nya yang sudah ada sejak dahulu, dan berdasarkan hikmah-Nya. Dan Dia telah mengetahui keadaan-keadaan hamba-hamba-Nya, dan telah mengetahui rizki-rizki mereka, ajal mereka, amal-amal perbuatan mereka dan perkaraperkara mereka yang lainnya; maka setiap yang terjadi berasal dari ilmu-Nya, kuasa-Nya, dan kehendak-Nya.

Ringkasnya, pengertiannya adalah: apa yang telah didahului oleh ilmu-Nya dan telah ditulis oleh al-Qolam (di Lauhil Mahfudz); yaitu apa saja yang terjadi hingga selamanya.

Firman-Nya:
"....(Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnatullah pada Nabi-Nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku."(QS. Al-Ahzaab: 38)

Firman-Nya pula:
"esungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran."(QS. Al-Qamar: 49)

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
"Tidaklah beriman seseorang hingga dia beriman kepada takdir baik dan buruk; meyakini bahwa apa yang telah ditakdirkan menimpanya tidak akan meleset darinya dan apa yang ditakdirkan tidak menimpanya tidak akan menimpanya."
(Shahiih Sunan at-Trimidzi, oleh al-Albani.)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpendapat bahwa beriman kepada takdir tidak akan sempurna, kecuali dengan empat hal, yang dinamakan Maratibul Qadar (tingkatan takdir) atau disebut juga rukun takdir. Empat hal ini merupakan pengantar untuk memahami masalah takdir. Tidak sempurna keimanan seseorang dengan takdir, kecuali dia mewujudkan semua rukunnya karena satu dengan lainnya berhubungan erat. Barang siapa mengakui semuanya, maka sempurnalah keimanannya kepada takdir. Sebaliknya, barang siapa mengurangi salah satu darinya atau melebihkannya, maka rusaklah keimanannya kepada takdir.


a. Tingkatan pertama: ‘Al-‘Ilm (Ilmu)

Yaitu, beriman bahwa Allah Ta’ala Maha Mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi, sedang terjadi, dan yang belum terjadi; serta seandainya terjadi, Dia Maha Mengetahui bagaimana akan terjadi, secara global dan rinci. Dia mengetahui apa yang dilakukan makhluk –Nya sebelum diciptakan; Dia mengetahui rizki, ajal, amal perbuatan, dan gerak-gerik mereka; Dia mengetahui siapa di antara mereka yang bahagia dan sengsara. Hal tersebut berdasarkan ilmu-Nya yang qadim (dahulu), yang menjadi sifat-Nya sejak zaman azali. Allah Ta’ala berfirman:
"....Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu."
(QS. At-Taubah: 115)

b. Tingkatan kedua: Al-Kitabab (Pencatatan)

Yaitu, mengimani bahwa Allah telah mencatat segala apa yang telah diketahui sebelumnya dari semua takdir makhluk-Nya dalam Lauhul Mahfuzh, yaitu kitab yang tidak ada suatu apa pun luput darinya. Maka segala sesuatu yang telah terjadi sedang terjadi dan akan terjadi sampai hari Kiamat telah tertulis di sisi Allah Ta’ala dalam Ummul Kitaab (kitab induk) yang dinamakan: adz-Dzikr, al-Imaam, dan al-Kitaabul Mubiin. Allah Ta’ala berfirman:

" Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauhul Mahfuzh)." (QS. Yaasiin: 12)

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

"Sesungguhnya pertama kali yang diciptakan Allah adalah al-Qalam (pena). Kemudian Allah berfirman: ‘Tulislah!’ Pena tersebut bertanya: ‘Apa yang harus saya tulis?’ Allah menjawab: ‘Tulislah takdir (semua makhluk): apa yang telah terjadi dan akan terjadi sampai akhir zaman (hari Kiamat)!’ (Shahiih Sunanut Tirmidzi oleh Imam al-Albani)

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
"Sesungguhnya semua kalbu anak keturunan Adam ada diantara dua jari di antara jari-jemari ar-Rahman, bagaikan satu kalbu, Dia mengubah-ubahnya (mengarah-arahkannya, membolak-balikkannya ke mana saja) menurut kehendak-Nya." (HR. Muslim)


c. Tingkatan keempat: Al-Khalq (Penciptaan)

Maksudnya, beriman bahwa sesungguhnya Allah Pencipta segala sesuatu. Tiada Pencipta dan tiada Rabb selain Dia. Segala sesuatu selain Dia adalah makhluk. Dialah yang menciptakan makhluk yang berbuat sekaligus perbuatannya, serta semua yang bergerak sekaligus gerakannya. Allah Ta’ala berfirman:

"....Dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya."(QS. Al-Furqaan: 2)
 
Segala yang terjadi, berupa perbuatan baik atau jelek, iman atau kufur, dan ta’at atau maksiat telah dikehendaki, ditentukan, dan diciptakan oleh Allah. Allah Ta’ala berfiman:

"Dan tidak ada seorangpun akan beriman, kecuali dengan izin Allah...."(QS.Yunus: 100)

Firman-Nya juga:
"Katakanlah: ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami, melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami...." (QS. At-Taubah: 51)

Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Pencipta, hanya milik-Nya menciptakan dan mengadakan. Dia Yang Maha Menciptakan segala sesuatu tanpa pengecualian, tiada Pencipta, dan tiada Rabb selain Dia. Allah Ta’ala berfirman:
"Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu." (QS. Az-Zumar: 62)

Sesungguhnya Allah menyukai ketaatan dan membenci kemaksiatan, memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki dengan karunia-Nya, dan menyesatkan orang yang dikehendaki karena keadilan-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

"Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya. Dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain...." (QS. Az-Zumar: 7)

Tidak ada hujjah dan alasan bagi siapa yang telah disesatkan-Nya karena Allah telah mengutus para Rasul-Nya untuk mematahkan alasan (agar manusia tidak dapat membantah Allah). Dia menyandarkan perbuatan manusia kepadanya dan menjadikan perbuatan itu sebagai upayanya. Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kemampuannya.
Allah Ta’ala berfirman:
 
"Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini...."(QS. Al-Mu’min: 17)

Firman-Nya:

"Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir." (QS. Al-Insaan: 3)

 
Serta Firman-Nya:
"....(Para Rasul diutus) supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-Rasul itu...." (QS. An-Nisaa’: 165)

Firman-Nya yang lain menyatakan:
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya...." (QS. Al-Baqarah: 286)


Namun, keburukan tidak boleh dinisbatkan kepada Allah karena kesempurnaan rahmat-Nya. Sebab Dia telah memerintahkan kebaikan dan melarang keburukan. Meskipun demikian, keburukan itu terjadi dalam halhal yang telah menjadi ketentuan-Nya dan sesuai dengan hikmah

kebijaksanaan-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
"Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri...." (QS. An-Nisaa’: 79)

Allah Ta’ala Maha Suci dari kezhaliman dan bersifat Maha Adil. Maka dari itu Allah tidak akan pernah sekali-kali menzhalimi seorang pun dari hamba-Nya walaupun hanya sebesar biji sawi. Semua perbuatan-Nya adalah keadilan dan rahmat. Allah Ta’ala berfirman:


"....Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku." (QS. Qaaf: 29)

Firman-Nya pula:

"....Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun." (QS. Al-Kahfi: 49)
 
Firman-Nya pula:
"Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar dzarrah...." (QS. An-Nisaa’: 41)


Allah Ta’ala tidak ditanya tentang apa yang diperbuat dan dikehendaki-Nya, berdasarkan firman-Nya:

"Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai." (QS. Al-Anbiyaa’: 92)

Maka Allah Ta’alalah yang menciptakan manusia dan perbuatannya. Dia memberikan kepadanya kemauan, kemampuan, ikhtiar, dan kehendak yang telah Allah berikan kepadanya agar segala perbuatannya itu benarbenar berasal darinya. Kemudian, Allah menjadikan bagi manusia akal untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk. Allah tidak menghisabnya, melainkan atas amal yang ia perbuat dengan kehendak dan ikhtiarnya sendiri. Manusia tidak dipaksa tetapi dia mempunyai ikhtiar dan kehendak, maka dia bebas memilih dalam segala perbuatan dan keyakinannya. Hanya saja, kehendak manusia mengikuti kehendak Allah. Segala yang Allah kehendaki-Nya pasti akan terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki pasti tidak akan terjadi. Jadi, Allah Ta’ala sebagai Pencipta segala perbuatan hamba-Nya, sedangkan mereka yang melakukan perbuatan itu. Intinya, perbuatan itu diciptakan dan ditakdirkan oleh Allah, namun diperbuat dan dilakukan oleh manusia. Allah Ta’ala berfirman:

"(Al-Qur-an sebagai peringatan) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam."(QS. At-Takwiir: 28-29)

Allah telah membantah orang-orang musyrikin ketika mereka berhujjah dengan takdir. Mereka berkata:

"....Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun...."(QS. Al-An’aam: 148)

Allah membantah kebohongan mereka dalam firman-Nya:

"....Katakanlah: ‘Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada kami?’ Kamu tidak mengikuti, kecuali persangkaan belaka dan kamu tidak lain hanyalah berdusta." (QS. Al-An’aam:148)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani bahwa takdir itu merupakan rahasia Allah terhadap makhluk-Nya. Tidak ada seorang Malikat yang terdekat maupun Nabi yang diutus-Nya yang mengetahui hal itu. Mendalami dan menyelaminya adalah sesat karena Allah Ta’ala telah merahasiakan ilmu takdir dari makhluk-Nya dan melarang mereka untuk mencapainya. Allah Ta’ala berfirman:

"Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai."(QS. Al-Anbiyaa’: 23)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah berdialog dan berdebat dengan orang orang yang menyelisihi mereka dari golongan-golongan sesat, dengan berlandaskan firman Allah Ta’ala:
"....Katakanlah: ‘Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?" (QS. An-Nisaa’: 78)


 

 







Tidak ada komentar:

Posting Komentar