Rabu, 31 Mei 2017

XII. Iman Kepada Taqdir

Ahlussunnah wal Jama’ah: berakidah dengan akidah yang pasti bahwa setiap kebaikan dan keburukan terjadi menurut qodho` dan qodar Allah (takdir). Dan bahwa Allah Maha berbuat apa yang Dia kehendaki, segala sesuatu terjadi menurut kehendak-Nya, dan tidak keluar dari kehendak-Nya (al-masyi`ah) dan pengaturan-Nya. Dan Dia mengetahui sejak zaman azali (zaman dahulu yang tiada batasnya); segala yang telah terjadi, dan segala yang sedang atau akan terjadi sebelum hal itu terjadi. Dan Dia telah menentukan takdir bagi alam semesta dan isinya ini berdasarkan ilmu-Nya yang sudah ada sejak dahulu, dan berdasarkan hikmah-Nya. Dan Dia telah mengetahui keadaan-keadaan hamba-hamba-Nya, dan telah mengetahui rizki-rizki mereka, ajal mereka, amal-amal perbuatan mereka dan perkaraperkara mereka yang lainnya; maka setiap yang terjadi berasal dari ilmu-Nya, kuasa-Nya, dan kehendak-Nya.

Ringkasnya, pengertiannya adalah: apa yang telah didahului oleh ilmu-Nya dan telah ditulis oleh al-Qolam (di Lauhil Mahfudz); yaitu apa saja yang terjadi hingga selamanya.

Firman-Nya:
"....(Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnatullah pada Nabi-Nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku."(QS. Al-Ahzaab: 38)

Firman-Nya pula:
"esungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran."(QS. Al-Qamar: 49)

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
"Tidaklah beriman seseorang hingga dia beriman kepada takdir baik dan buruk; meyakini bahwa apa yang telah ditakdirkan menimpanya tidak akan meleset darinya dan apa yang ditakdirkan tidak menimpanya tidak akan menimpanya."
(Shahiih Sunan at-Trimidzi, oleh al-Albani.)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpendapat bahwa beriman kepada takdir tidak akan sempurna, kecuali dengan empat hal, yang dinamakan Maratibul Qadar (tingkatan takdir) atau disebut juga rukun takdir. Empat hal ini merupakan pengantar untuk memahami masalah takdir. Tidak sempurna keimanan seseorang dengan takdir, kecuali dia mewujudkan semua rukunnya karena satu dengan lainnya berhubungan erat. Barang siapa mengakui semuanya, maka sempurnalah keimanannya kepada takdir. Sebaliknya, barang siapa mengurangi salah satu darinya atau melebihkannya, maka rusaklah keimanannya kepada takdir.


a. Tingkatan pertama: ‘Al-‘Ilm (Ilmu)

Yaitu, beriman bahwa Allah Ta’ala Maha Mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi, sedang terjadi, dan yang belum terjadi; serta seandainya terjadi, Dia Maha Mengetahui bagaimana akan terjadi, secara global dan rinci. Dia mengetahui apa yang dilakukan makhluk –Nya sebelum diciptakan; Dia mengetahui rizki, ajal, amal perbuatan, dan gerak-gerik mereka; Dia mengetahui siapa di antara mereka yang bahagia dan sengsara. Hal tersebut berdasarkan ilmu-Nya yang qadim (dahulu), yang menjadi sifat-Nya sejak zaman azali. Allah Ta’ala berfirman:
"....Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu."
(QS. At-Taubah: 115)

b. Tingkatan kedua: Al-Kitabab (Pencatatan)

Yaitu, mengimani bahwa Allah telah mencatat segala apa yang telah diketahui sebelumnya dari semua takdir makhluk-Nya dalam Lauhul Mahfuzh, yaitu kitab yang tidak ada suatu apa pun luput darinya. Maka segala sesuatu yang telah terjadi sedang terjadi dan akan terjadi sampai hari Kiamat telah tertulis di sisi Allah Ta’ala dalam Ummul Kitaab (kitab induk) yang dinamakan: adz-Dzikr, al-Imaam, dan al-Kitaabul Mubiin. Allah Ta’ala berfirman:

" Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauhul Mahfuzh)." (QS. Yaasiin: 12)

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

"Sesungguhnya pertama kali yang diciptakan Allah adalah al-Qalam (pena). Kemudian Allah berfirman: ‘Tulislah!’ Pena tersebut bertanya: ‘Apa yang harus saya tulis?’ Allah menjawab: ‘Tulislah takdir (semua makhluk): apa yang telah terjadi dan akan terjadi sampai akhir zaman (hari Kiamat)!’ (Shahiih Sunanut Tirmidzi oleh Imam al-Albani)

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
"Sesungguhnya semua kalbu anak keturunan Adam ada diantara dua jari di antara jari-jemari ar-Rahman, bagaikan satu kalbu, Dia mengubah-ubahnya (mengarah-arahkannya, membolak-balikkannya ke mana saja) menurut kehendak-Nya." (HR. Muslim)


c. Tingkatan keempat: Al-Khalq (Penciptaan)

Maksudnya, beriman bahwa sesungguhnya Allah Pencipta segala sesuatu. Tiada Pencipta dan tiada Rabb selain Dia. Segala sesuatu selain Dia adalah makhluk. Dialah yang menciptakan makhluk yang berbuat sekaligus perbuatannya, serta semua yang bergerak sekaligus gerakannya. Allah Ta’ala berfirman:

"....Dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya."(QS. Al-Furqaan: 2)
 
Segala yang terjadi, berupa perbuatan baik atau jelek, iman atau kufur, dan ta’at atau maksiat telah dikehendaki, ditentukan, dan diciptakan oleh Allah. Allah Ta’ala berfiman:

"Dan tidak ada seorangpun akan beriman, kecuali dengan izin Allah...."(QS.Yunus: 100)

Firman-Nya juga:
"Katakanlah: ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami, melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami...." (QS. At-Taubah: 51)

Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Pencipta, hanya milik-Nya menciptakan dan mengadakan. Dia Yang Maha Menciptakan segala sesuatu tanpa pengecualian, tiada Pencipta, dan tiada Rabb selain Dia. Allah Ta’ala berfirman:
"Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu." (QS. Az-Zumar: 62)

Sesungguhnya Allah menyukai ketaatan dan membenci kemaksiatan, memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki dengan karunia-Nya, dan menyesatkan orang yang dikehendaki karena keadilan-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

"Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya. Dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain...." (QS. Az-Zumar: 7)

Tidak ada hujjah dan alasan bagi siapa yang telah disesatkan-Nya karena Allah telah mengutus para Rasul-Nya untuk mematahkan alasan (agar manusia tidak dapat membantah Allah). Dia menyandarkan perbuatan manusia kepadanya dan menjadikan perbuatan itu sebagai upayanya. Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kemampuannya.
Allah Ta’ala berfirman:
 
"Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini...."(QS. Al-Mu’min: 17)

Firman-Nya:

"Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir." (QS. Al-Insaan: 3)

 
Serta Firman-Nya:
"....(Para Rasul diutus) supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-Rasul itu...." (QS. An-Nisaa’: 165)

Firman-Nya yang lain menyatakan:
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya...." (QS. Al-Baqarah: 286)


Namun, keburukan tidak boleh dinisbatkan kepada Allah karena kesempurnaan rahmat-Nya. Sebab Dia telah memerintahkan kebaikan dan melarang keburukan. Meskipun demikian, keburukan itu terjadi dalam halhal yang telah menjadi ketentuan-Nya dan sesuai dengan hikmah

kebijaksanaan-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
"Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri...." (QS. An-Nisaa’: 79)

Allah Ta’ala Maha Suci dari kezhaliman dan bersifat Maha Adil. Maka dari itu Allah tidak akan pernah sekali-kali menzhalimi seorang pun dari hamba-Nya walaupun hanya sebesar biji sawi. Semua perbuatan-Nya adalah keadilan dan rahmat. Allah Ta’ala berfirman:


"....Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku." (QS. Qaaf: 29)

Firman-Nya pula:

"....Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun." (QS. Al-Kahfi: 49)
 
Firman-Nya pula:
"Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar dzarrah...." (QS. An-Nisaa’: 41)


Allah Ta’ala tidak ditanya tentang apa yang diperbuat dan dikehendaki-Nya, berdasarkan firman-Nya:

"Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai." (QS. Al-Anbiyaa’: 92)

Maka Allah Ta’alalah yang menciptakan manusia dan perbuatannya. Dia memberikan kepadanya kemauan, kemampuan, ikhtiar, dan kehendak yang telah Allah berikan kepadanya agar segala perbuatannya itu benarbenar berasal darinya. Kemudian, Allah menjadikan bagi manusia akal untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk. Allah tidak menghisabnya, melainkan atas amal yang ia perbuat dengan kehendak dan ikhtiarnya sendiri. Manusia tidak dipaksa tetapi dia mempunyai ikhtiar dan kehendak, maka dia bebas memilih dalam segala perbuatan dan keyakinannya. Hanya saja, kehendak manusia mengikuti kehendak Allah. Segala yang Allah kehendaki-Nya pasti akan terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki pasti tidak akan terjadi. Jadi, Allah Ta’ala sebagai Pencipta segala perbuatan hamba-Nya, sedangkan mereka yang melakukan perbuatan itu. Intinya, perbuatan itu diciptakan dan ditakdirkan oleh Allah, namun diperbuat dan dilakukan oleh manusia. Allah Ta’ala berfirman:

"(Al-Qur-an sebagai peringatan) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam."(QS. At-Takwiir: 28-29)

Allah telah membantah orang-orang musyrikin ketika mereka berhujjah dengan takdir. Mereka berkata:

"....Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun...."(QS. Al-An’aam: 148)

Allah membantah kebohongan mereka dalam firman-Nya:

"....Katakanlah: ‘Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada kami?’ Kamu tidak mengikuti, kecuali persangkaan belaka dan kamu tidak lain hanyalah berdusta." (QS. Al-An’aam:148)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani bahwa takdir itu merupakan rahasia Allah terhadap makhluk-Nya. Tidak ada seorang Malikat yang terdekat maupun Nabi yang diutus-Nya yang mengetahui hal itu. Mendalami dan menyelaminya adalah sesat karena Allah Ta’ala telah merahasiakan ilmu takdir dari makhluk-Nya dan melarang mereka untuk mencapainya. Allah Ta’ala berfirman:

"Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai."(QS. Al-Anbiyaa’: 23)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah berdialog dan berdebat dengan orang orang yang menyelisihi mereka dari golongan-golongan sesat, dengan berlandaskan firman Allah Ta’ala:
"....Katakanlah: ‘Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?" (QS. An-Nisaa’: 78)


 

 







Senin, 29 Mei 2017

XI. Iman Kepada Hari Akhir

Ahlussunnah wal Jama’ah berakidah dan beriman kepada hari Akhir, maknanya: Akidah (keyakinan) yang pasti, dan membenarkan secara sempurna; terhadap hari Kiamat, dan mengimani segala apa yang diberitakan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung di dalam kitab-Nya yang mulia, dan apa yang diberitakan oleh Rosul-Nya yang terpercaya (Al-Amin) shollAllahu ‘alaihi wasallam berupa hal-hal yang akan terjadi setelah kematian, hingga penduduk surga masuk ke surga, dan penduduk neraka masuk ke neraka.


Ahlus Sunnah wal Jama’ah beriman bahwa ilmu tentang waktu terjadinya hari Kiamat hanya pada Allah Ta’ala, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya, kecuali Dia.


Allah Ta’ala berfirman (Yang Artinya):

"Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat"


(Luqman: 34)



Allah telah merahasiakan waktu terjadinya hari Kimat kepada hamba-Nya, tetapi Dia memberikan tanda-tanda yang menunjukkan dekatnya kejadian tersebut. Ahlus Sunnah wal Jama’ah beriman kepada segala hal yang akan terjadi dari tanda-tanda hari Kiamat itu, baik tanda-tanda shughra (kecil) maupun kubra (besar). Tanda-tanda tersebut sebagai isyarat akan terjadinya hari Kiamat, dan beriman terhadapnya termasuk dalam cakupan iman kepada hari Akhir.


a. Tanda-tanda kecil hari Kiamat

Yaitu tanda-tanda yang munculnya sebelum hari Kiamat dengan kurun waktu yang cukup panjang; kadang pula sebagian tandanya muncul bersamaan dengan tanda-tanda kubra (besar). Tanda-tanda Kiamat kecil banyak sekali dan sekarang akan kami sebutkan sebagian yang shahih, di antaranya:


* Diutusnya Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, ditutupnya kenabian dan risalah dengannya, meninggalnya beliau صلى الله عليه وسلم, ditaklukkannya Baitul Maqdis, munculnya banyak fitnah, ummat Islam mengikuti tata cara ummat terdahulu dari orang Yahudi dan Nasrani, munculnya para dajjal (para pembohong) dan orang-orang yang mengaku sebagai Nabi.


* Pemalsuan hadits-hadits dengan mengatasnamakan Rasulullah ,صلى الله عليه وسلم penolakan sunnahnya, banyak kebohongan, tidak hati-hati dalam menukil kabar, miskin ilmu, menuntut ilmu dari orang yang tidak berilmu (bukan ahlinya), menyebarnya kebodohan dan kerusakan, meninggalnya orang-orang shalih, terkikisnya sendi-sendi Islam, sedikit demi sedikit, dan semua ummat mengerumuni ummat Muhammad صلى الله عليه وسلم kemudian Islam dan pemeluknya dianggap asing.


* Banyak terjadi pembunuhan, berharap mati karena musibah yang dahsyat, ghibthah (keinginan agar dirinya seperti) orang-orang yang sudah mati dan berandai-andai, andaikan ia sudah mati, karena dahsyatnya malapetaka (yang dia hadapi), banyak orang yang meninggal tiba-tiba, meninggal karena gempa bumi dan penyakit, jumlah laki-laki sedikit, jumlah wanita banyak, munculnya para wanita dengan berpakaian tetapi telanjang, menyebarnya prostitusi di jalanjalan,


dan munculnya pendukung orang-orang zhalim dari kalangan petugas keamanan yang mendera manusia.


* Munculnya alat-alat musik, arak, perzinaan, riba, pemakaian sutera dan menganggap hal tersebut halal (bagi laki-laki), serta terbenamnya salah satu bagian bumi dengan segala yang ada di atasnya, munculnya perubahan bentuk (tubuh) dan merajalelanya fitnah.


* Disia-siakannya amanah menyerahkan suatu perkara kepada yang bukan ahlinya, kepemimpinan dikuasai oleh orang-orang hina, diangkatnya orang-orang yang hina daripada orang-orang yang baik, seorang hamba sahaya wanita melahirkan tuannya, bermegah-megahan


dalam bangunan, manusia berbangga-bangga dengan dekorasi masjid, berubahnya zaman sehingga berhala disembah, dan merajalelanya kesyirikan di tengah ummat manusia.


* Memberikan salam hanya kepada orang-orang yang dikenal saja, banyaknya perniagaan, pasar-pasar yang saling berdekatan, kekayaan yang melimpah di tangan manusia tetapi tidak bersyukur, menyebarkan kekikiran, banyaknya persaksian palsu, menyembunyikan persaksian


yang benar, munculnya perbuatan keji, saling berselisih, saling membenci, bertengkar, memutus tali persaudaraan, dan perlakukan yang jelek terhadap tetangga.


* Waktu semakin terasa cepat, sedikitnya keberkahan dalam waktu, bulan sabit menggelembung, terjadinya fitanh seperti bagian malam yang gelap gulita, terjadinya permusuhan di antara manusia, meremehkan sunnah-sunnah yang telah ditekankan oelh Islam, dan orang tua menyerupai anak muda.


* Binatang buas dan benda-benda mati dapat berbicara kepada manusia, surutnya air Sungai Eufrat karena munculnya gunung emas, dan benarnya mimpi seorang Mukmin.


* Apa yang terjadi di kota Madinah Nabawiyah ketika ia menolak kejelekan, maka tidak akan tinggal di Madinah, kecuali orang-orang yang bertakwa lagi shalih, kembalinya Jazirah Arab menjadi daerah yang subur dan banyaknya sungai yang mengalir, dan keluarnya seorang laki-laki dari suku Qahthan.


* Banyaknya orang-orang Romawi yang dipatuhi banyak orang dan peperangan mereka terhadap kaum Muslimin, juga peperangan kaum Muslimin terhadap orang Yahudi sehingga bebatuan dan tumbuh tumbuhan berkata:

"Wahai, orang Muslim, ada orang Yahudi, kemarilah dan bunuhlah dia."


* Penaklukan kota Romawi seperti ditaklukkannya kota Konstantinopel (Istanbul, Turki) dan tanda-tanda Kiamat kecil lainnya yang terdapat dalam hadits-hadits shahih.




b. Tanda-tanda besar hari Kiamat

Tanda-tanda ini yang menunjukkan dekatnya kejadian hari Kiamat. Jika sudah tampak, hari Kiamat tidak lama lagi akan terjadi. Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani hal itu, seperti yang telah dijelaskan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم,


diantaranya:

* Munculnya Imam Mahdi, dia adalah Muhammad bin ‘Abdullah dari keturunan Ahlul Bait Rasulullah صلى الله عليه وسلم, dia keluar dari arah timur dan berkuasa selama tujuh tahun. Bumi akan diliputi dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi kezhaliman dan kejahatan. Di saat itu ummat akan merasakan kenikmatan yang luar biasa. Bumi akan mengeluarkan tumbuhan-tumbuhan, langit menurunkan hujan dan kekayaan melimpah-ruah.

* Keluarnya al-Masih ad-Dajjal, turunnya Nabi ‘Isa bin Maryam AS pada Menara Putih di bagian timur Damaskus Syam. Beliau turun sebagai hakim yang memutuskan dan menjalankan syari’at Muhammad ,صلى الله عليه وسلم dia akan membunuh Dajjal, dan berkuasa di muka bumi dengan syari’at Islam. Turunnya Nabi ‘Isa di tengah kelompok yang didukung Allah, yang berperang di jalan kebenaran. Mereka akan berkumpul untuk memerangi Dajjal. Nabi ‘Isa akan turun pada saat iqamah shalat (Shubuh) dikumandangkan dan beliau shalat di belakang pemimpin kelompok tersebut.


* Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj. Selain itu, terjadi tiga peristiwa:


terbenamnya salah satu bagian bumi yaitu timur, di barat, dan di Jazirah Arab; keluarnya asap tebal; terbitnya matahari dari arah barat; keluarnya binatang melata dari bumi dan berbicara dengan manusia; serta keluarnya api yang mengumpulkan manusia.


Ahlus Sunnah wal Jama’ah beriman kepada segala sesuatu yang terjadi dari seluruh perkara yang ghaib setelah kematian dari sumber yang telah dikabarkan oleh Allah dan Rasul-Nya صلى الله عليه وسلم, baik yang meliputi sakaratul maut, hadirnya Malaikat Maut, gembiranya orang Mukmin karena akan bertemu dengan Rabbnya, hadirnya syaitan ketika kematian, tidak diterimanya iman orang kafir ketika mati, adzab kubur dan fitnah di sisi Rabb mereka dalam keadaan diberikan rizki, dan ruh orang yang berbahagia diberi nikmat sedang ruh orang yang celaka diberi adzab.


Ahlus Sunnah juga mengimani hari Kiamat kubra ketika Allah akan menghidupkan orang-orang yang sudah mati dan membangkitkan mereka dari kuburnya kemudian Dia menghisabnya.


Ahlus Sunnah mengimani pula adanya tiupun sangkakal sebanyak tiga tiupan, yaitu:


Pertama: Tiupan yang mengejutkan dan menakutkan.


Kedua: Tiupan kematian yang dengan tiupan tersebut alam tampak berubah dan aturannya berbeda. Saat itulah akan terjadi kehancuran dan kematian. Saat itu juga terjadinya kebinasaan bagi makhluk yang telah Allah tentukan kebinasaannya.


Ketiga: Tiupan kebangkitan untuk menghadap kepada Rabb semesta alam.




Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani adanya kebangkitan. Allah akan membangkitkan mayat-mayat dari dalam kubur, maka bangkitlah semua manusia untuk menghadap Rabb semesta alam dengan tanpa alas kaki, telanjang, dan tidak dikhitan. Matahari dekat dengan mereka; di antara mereka ada yang peluhnya bercucuran sampai ke mulutnya. Orang yang pertama kali dibangkitkan dari bumi adalah Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم
 
Pada hari yang besar itulah manusia keluar dari kuburnya; mereka seperti belalang yang bertebaran, mereka datang dengan cepat kepada Sang Penyeru itu. Semuanya terdiam tak bergerak ketika ditebarkan kitab catatan amal. Maka akan terlihat semua yang tersembunyi, tampaklah segala yang tertutup, dan terbukalah kejelekan yang tersimpan dalam hati. Allah akan berbicara langsung dengan manusia pada hari Kiamat; tidak ada penerjemah antara Allah dan mereka. Pada hari itu manusia dipanggil dengan nama mereka dan nama ayahnya.


Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani al-Mizan (timbangan) yang


mempunyai dua piringan neraca, yang dengannya perbuatan manusia ditimbang.


Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani tentang pembagian kitab catatan amal. Ada orang yang mengambil kitab catatan amalnya dengan tangan kanan dan ada pula yang mengambil kitab catatan amalnya dengan tangan kiri atau dari belakang punggunnya.


Adapun Shirath (jalan) akan dibentangkan di tengah-tengah Neraka


Jahannam. Orang yang baik akan dapat melaluinya dengan selamat,


sedangkan orang yang jahat akan tergelincir ke dalam api Neraka.


Surga dan Neraka telah tercipta dan telah ada wujudnya, tidak akan musnah selamanya. Surga adalah tempat orang-orang yang beriman,


bertauhid, dan bertakwa; sedangkan Neraka adalah tempat orang-orang kafir, termasuk orang-orang musyrik, Yahudi, Nasrani, munafik, penyembah berhala, dan orang-orang yang berdosa.


Surga dan Neraka tidak akan musnah selama-lamanya. Allah telah


menciptakan keduanya sebelum menciptakan manusia.


Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani bahwa ummat Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah yang pertama kali dihisab pada hari Kiamat dan pertama kali masuk Surga daripada ummat-ummat lain. Jumlah mereka adalah setengah penghuni Surga. Di antara mereka ada tujuh puluh ribu orang yang memasukinya tanpa hisab.


Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani bahwa orang yang bertauhid


(kepada Allah) tidak akan kekal sebagai penghuni Neraka. Mereka masuk Neraka disebabkan kemaksiatan yang mereka lakukan selain perbuatan syirik kepada Allah Ta’ala, sedangkan orang-orang musyrik berada kekal abadi di Neraka dan tidak akan keluar dari Neraka selama-lamanya.Wal’iyadzu billah.


Ahlus Sunnah juga mengimani adalanya al-Haudh (telaga) yang diperuntukkan bagi Nabi kita صلى الله عليه وسلم di hari Kiamat, airnya berwarna leibh putih dairpada susu, rasanya lebih manis daripada madu, aromanya lebih harum daripada minyak kesturi, jumlah benjananya sebanyak bintangbintang di langit, serta panjang perjalanan sebulan. Barang siapa yang meminum seteguk air darinya, dia tidak akan dahaga untuk selamanya. Yang demikian itu diharamkan bagi orang yang berbuat bid’ah dalam agama.


Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda (Yang Artinya) :


"Telagaku seluas perjalanan sebulan. Warna airnya lebih putih daripada susu, aromanya lebih haruh daripada aroma minyak kesturi, dan bejananya sejumlah bintang-bintang di langit. Barang siapa minum darinya, maka tidak akan merasa dahaga selamanya." (HR. Al-Bukhari)


Beliau juga bersabda (Yang artinya) :
"Sesungguhnya aku adalah orang yang mendahului ke telega. Barang siapa melewatiku, pasti dia meminumnya. Barang siapa meminumnya, pasti tidak akan merasa dahaga selamanya. Beberapa kaum pasti akan datang kepadaku, aku mengetahui mereka dan merekapun mengetahui aku, kemudian dihalangi antara aku dan mereka." Dalam riwayat lain: "Maka aku (Rasulullah) bersabda: ‘Sesungguhnya mereka itu termasuk ummatku."" Lalu dikatakan: "Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan (dalam agama ini) setelah engkau (Rasulullah)."


Maka aku katakan: "Menjauhlah! Menjauhlah! Bagi orang yang mengubah (ajaran agama) setelahku."" (HR. Al-Bukhari)


Syafa’at dan al-maqam al-mahmud (kedudukan terpuji) diperuntukkan bagi Nabi kita Muhammad bin ‘Abdullah صلى الله عليه وسلم pada hari Kiamat.


Syafa’at beliau صلى الله عليه وسلم yaitu:




* Syafa’at untuk ummat manusia di al-mauqif (tempat dikumpulkannya ummat manusia di Padang Mahsyar) agar diberi keputusan hukum diantara mereka, yaitu yang disebut maqam mahmud (kedudukan terpuji).


* Syafa’at untuk ahli Surga agar mereka masuk Surga, sedang Rasulullah صلى الله عليه وسل adalah orang yang pertama kali memasukinya.


* Syafa’at untuk pamannya, Abu Thalib, agar diringankan adzabnya. Ketiga syafa’at ini khusus untuk Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, tidak ada seorang pun yang memilikinya selain beliau.


* Syafa’at beliau صلى الله عليه وسلم untuk mengangkat derajat sebagian ummatnya yang memasuki Surga ke derajat yang lebih tinggi.


* Syafa’at beliau صلى الله عليه وسلم bagi segolongan dari ummatnya untuk memasuki Surga tanpa hisab.


* Syafa’at beliau صلى الله عليه وسلم untuk beberapa kaum yang antara kebaikan dan kejahatannya sebanding, maka beliau meberikan syafa’atnya kepada mereka agar masuk Surga. Syafa’at beliau untuk beberapa kaum lainnya yang mereka telah diputuskan masuk ke Neraka, namun karena syafa’at beliau meraka tidak jadi memasukinya.


Syafa’at beliau untuk mengeluarkan dari Neraka orang-orang ahli maksiat yang bertauhid. Maka beliau memberikan syafa’atnya kepada mereka sehingga mereka masuk Surga.


Macam sayfa’at terakhir ini juga dapat dilakukan oleh para Malaikat,


Nabi, syuhada, shiddiqun (orang-orang yang teguh memegang kebenaran), shalihin, dan kaum Mukminin. Kemudian Allah Ta’ala mengeluarkan beberapa kaum dari Neraka tanpa melalui syafa’at, akan tetapi berkat karunia dan rahmat-Nya. 


Amalan orang Mukmin pada hari Kiamat juga menjadi syafa’at baginya, sebagaimana yang dikabarkan Nabi صلى الله عليه وسلم tentang hal itu, seraya bersabda (yang artinya) :


"Puasa dan al-Qur-an akan memberikan syafa’at bagi seseorang pada hari Kiamat."


Pada hari Kiamat, kematian akan didatangkan lalu disembelih seperti yang telah dikabarkan Nabi :صلى الله عليه وسلم


"Jika penghuni Surga telah masuk Surga dan penghuni Neraka telah masuk Neraka, akan didatangkan kematian sehingga diletakkan di antara Surga dan Neraka. Kemudian, kematian itu disembelih. Setelah itu, ada seorang yang menyeru: ‘Hai, penghuni Surga, tidak ada kematian (setelah ini)! Hai, penghuni Neraka, tidak ada kematian (setelah ini)!’ Maka dari itu penghuni Surga bertambah gembira, sedangkan penghuni Neraka bertambah sedih." (HR. Muslim)


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 





Rabu, 03 Mei 2017

X.Iman Kepada Para Rasul-Nya

Ahlussunnah wal Jama’ah mengimani dan berakidah dengan pasti bahwa Allah Yang Mahasuci telah mengutus kepada hamba-hamba-Nya rosul-rosul sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, sebagai para penyeru kepada Agama yang hak, untuk memberikan petunjuk kepada manusia, dan mengeluarkan mereka dari kegelapankegelapan menuju cahaya, dakwah mereka waktu itu adalah menyelamatkan manusia dari kesyirikan dan penyembahan berhala, mensucikan masyarakat dari kebiadaban dan kerusakan. Dan bahwa mereka telah menyampaikan pesan, menunaikan amanah, menasehati ummat, dan berjuang di jalan Allah dengan sungguh-sungguh.
Dan sungguh mereka telah datang dengan membawa mukjizat-mukjizat yang nyata yang menunjukkan bahwa mereka itu benar. Siapa saja yang kafir terhadap salah satu dari mereka; maka sungguh dia telah kafir kepada Allah Yang Maha tinggi, dan kafir terhadap seluruh rosul ‘alaihimussalaam.





Allah telah mengutus para Rasul dan Nabi yang sangat banyak, di antara mereka ada yang Allah sebutkan kepada kita dalam kitab-Nya ataupun melalui lisan Nabi-Nya صلى الله عليه وسلم.



Nama-nama mereka yang tersebut dalam al-Qur-anul Karim ada 25 Rasul dan Nabi, yaitu Adam (bapak semua manusia), Idris, Nuh (Rasul yang pertama), Hud, Shalih, Ibrahim, Luth, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Syua’ib, Ayyub, Dzul Kifli, Musa, Harun, Dawud, Sulaiman, Ilyas, al-Yasa’, Yunus, Zakariya, Yahya, ‘Isa, dan Muhammad sebagai penutup para Nabi dan Rasul shalawaatullaahi wa salaamuhu ‘alaihim ajma’iin.




Allah Ta’ala telah memuliakan sebagian para Nabi dan Rasul atas sebagian lainnya. Kaum Muslimin telah sepakat bahwa para Rasul itu lebih utama daripada para Nabi. Setelah itu Rasul pun bertingkat-tingkat derajat keutamaannya. Di antara para Rasul dan Nabi yang paling utama adalah Ulul ‘Azmi, mereka ada lima yaitu Muhammad, Nuh, Ibrahim, Musa, dan ‘Isa shalawaatullahi wa salaamuhu’alaihim ajma’iin.




Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani mereka seluruhnya baik yang disebut oleh Allah maupun tidak, dari yang pertama, yaitu Adam AS sampai Nabi terakhir, penutup, dan termulia, yaitu Muhammad bin ‘Abdullah shalawaatullaahi ‘alaihim ajma’iin.




Beriman kepada seluruh Rasul berarti beriman secara global, sedangkan beriman kepada Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم harus dengan keimanan yang rinci, yang menuntut ummatnya untuk ittiba’ mengikutinya dengan apa yang beliau bawa scara rinci.





· Muhammad Adalah Rasulullah صلى الله عليه وسلم


Beliau adalah Abul Qasim Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Muththalib bin Hasyim bin ‘Abdil Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu-ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan dari anak Nabi Ismail bin Ibrahim – ‘ala nabiyyina wa‘alaihimas salaam (semoga salam terlimpah kepada Nabi kita dan kepada keduanya).






Beliau sebagai penutup para Nabi dan Rasul. Beliau adalah Rasulullah (utusan Allah) kepada semua manusia. Beliau seorang hamba yang tidak berhak diibadahi dan Rasul yang tidak boleh didustakan. Beliau adalah sebaik-baik makhluk, yang paling utama dan paling mulia di antara mereka di sisi Allah Ta’ala, paling tinggi derajatnya serta paling dekat kedudukannya di sisi Allah. Beliau diutus kepada manusia dan jin dengan membawa agama yang haq dan petunjuk. Allah mengutusnya sebagai rahmat bagi alam semesta.






Allah menurunkan al-Qur-an kepadanya, Dia memberikan amanah atas agama-Nya, dan Dia memberikan tugas untuk menyampaikan risalah-Nya. Sungguh, Allah telah memeliharanya dari kesalahan dalam menyampaikan risalah-Nya.






Maka tidak sah iman seorang hamba hingga ia beriman dengan kerasulannya dan bersaksi atas kenabiannya. Barang siapa taat kepadanya, ia akan masuk Surga, dan sebalikna, barang siapa durhaka kepadanya, maka pasti ia masuk Neraka.






Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani bahwa Allah Ta’ala menguatkan Nabi-Nya صلى الله عليه وسلم dengan mukjizat yang nyata dan ayat-ayat yang terang :


· Di antara mukjizat-mukjizat tersebut yang paling agung adalah al-Quran, yang Allah menantang orang-orang (Arab) yang paling fasih, ahli balaghah (sastra Arab), dan yang paling pandai berbicara.


· Mukjizat yang paling besar – setelah al-Qur-an – adalah Allah menguatkan Nabi-Nya صلى الله عليه وسلمdengan mukjizat Isra’ Mi’raj.






Maka Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani bahwa Nabi صلى الله عليه وسلمdinaikkan ke langit dalam keadaan sadar dengan ruhnya dan jasadnya, yang hal tersebut terjadi ketika malam Isra’. Dan beliau telah diperjalankan pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha (Palestina) berdasarkan nash al-Qur-an.


Kemudian, beliau صلى الله عليه وسلم dinaikkan ke langit. Beliau naik sampai langit ketujuh kemudian setelah itu berada di sisi tempat yang Dia kehendaki, yaitu Sidratul Muntaha, dan di dekatnya ada Surga tempat tinggal (bagi kaum Mukminin kelak).






Allah memuliakan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dengan apa yang Dia kehendaki, mewahyukan kepadanya, berbicara dengannya, dan mensyari’atkan shalat lima waktu dalam sehari semalam. Beliau memasuki Surga dan melihat apa yang ada di dalamnya, melihat Neraka, melihat Malaikat, dan melihat Jibril dalam bentuk aslinya sebagaimana yang diciptakan oleh Allah. Hati Nabi صلى الله عليه وسل tidak bisa membohongi terhadap apa yang beliau lihat, bahkan apa yang beliau lihat adalah benar-benar dengan kedua matanya. Hal tersebut sebagai tanda keagungan dan kemuliaan beliau di atas seluruh para Nabi. Hal tersebut juga untuk menunjukkan tingginya kedudukan beliau صلى الله عليه وسلم di atas seluruh para Nabi.


Kemudian, beliau singgah di Baitul Maqdis, shalat berjamaah bersama para Nabi sebagai imam, lalu kembali ke Makkah sebelum fajar.

 

Di antara mukjizat beliau صلى الله عليه وسلم juga berupa :


· Terbelahnya bulan. Ini merupakan tanda kenabian yang agung, yang Allah telah berikan kepada Nabi-Nya صلى الله عليه وسلمsebagai bukti atas kenabian beliau. Hal itu terjadi di Makkah ketika kaum musyrikin memintanya sebagai bukti atas kenabian beliau.




· Memperbanyak makanan. Sungguh, hal ini terjadi dari beliau صلى الله عليه وسلم lebih dari satu kali.





· Memperbanyak air dan air bercucuran dari jari-jari tangan beliau yang mulia. Selain itu makanan tersebut bertasbih kepada beliau ketika hendak dimakan. Hal tersebut sering terjadi pada diri Rasulullah .صلى الله عليه وسلم





· Menyembuhkan orang sakit dan sebagian para Sahabatnya melalui tangan beliau صلى الله عليه وسلم tanpa obat.





· Hewan (bersikap) sopan di hadapan beliau, patuhnya pepohonan kepadanya, dan ucapan salam dari batu-batu kepada beliau صلى الله عليه وسلم





· Balasan yang disegerakan kepada sebagian orang-orang yang mengkhianati dan menantang beliau صلى الله عليه وسلم





· Beliau menyampaikan kabar tentang sebagian perkara yang ghaib dan perkara yang baru saja terjadi di tempat jauh. Beliau juga menyampaikan kabar tentang perkara yang ghaib yang belum terjadi, kemudian hal tersebut terjadi setelah itu, sebagaimana yang beliau صلى الله عليه وسلم kabarkan.





· Dikabulkan do’a beliau صلى الله عليه وسلمsecara umum.





· Allah menjaga beliau صلى الله عليه وسلم dari gangguan para musuh. Abu Hurairah RA meriwayatkan, seraya berkata: ‚Abu Jahal berkata: ‘Apakah Muhammad menyembunyikan wajahnya di hadapan kalian?’ Dijawab: ‘Ya!’ Abu Jahal berkata lagi: ‘Demi Latta dan Uzza, seandainya aku melihat Muhammad berbuat semacam itu, pasti akan aku injak lehernya atau akan aku kotori wajahnya dengan tanah.
’ Abu Hurairah RA berkata: ‘Maka Abu Jahal mendatangi Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Ketika itu beliau sedang shalat, lalu dia ingin menginjak lehar beliau.’ Abu Hurairah RA




berkata: ‘Maka tidaklah Abu Jahal mendatangi beliau dengan tiba-tiba, melainkan dia segera kembali mundur dan berlindung dengan kedua tangannya.’ Perawi berkata: ‘Abu Jahal ditanya, ‘Apa yang terjadi pada dirimu?’ Abu Jahal menjawab: ‘Sesungguhnya di antara aku dan dia ada

parit dari api, sesuatu yang menakutkan dan sayap-sayap (Malaikat).’‛ Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: "Seandainya dia (Abu Jahal) mendekatiku, pasti Malaikat akan


menyambar satu demi satu organ (tubuhnya)." (HR. Muslim).

Antara Kemaksiatanmu dan Ketaatanmu


Al Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,
"Setiap kemaksiatan yang karenanya engkau mencela saudaramu, maka kemaksiatan itu (dosanya) akan kembali kepadamu".
 
Kemudian beliau rahimahullah berkata,
"Sesungguhnya celaanmu terhadap saudaramu (karena dosa yang dilakukannya), itu lebih besar dosanya daripada dosa yang dilakukan oleh saudaramu dan lebih dahsyat kemaksiatannya, karena terkandung padanya (anggapan bahwa dirimu memiliki) kehebatan untuk melakukan ketaatan, penyucian diri, serta pujian atas dirimu sendiri dan anggapan bahwa dirimu terbebas dari dosa, dalam keadaan (kamu memandang) saudaramu kembali dengan memikul dosa-dosa.

Mungkin saja penyesalan saudaramu atas dosa-dosanya dan segala yang terlahir dari dosa-dosa tersebut seperti : rasa hina, ketundukan, kecaman atas dirinya sendiri, dan selamatnya dia dari penyakit ingin diakui, sombong serta bangga diri dan (ditambah lagi) dengan dia senantiasa mengahadap kepada Allah dengan kepala yang tertunduk, pandangannya yang khusyu, dan hatinya yang luluh lantah (itu semua) adalah lebih bermanfaat dibandingkan dengan kehebatanmu untuk melakukan ketaatan, upaya kerasmu memperbanyak ketaatan, rasa banggamu dengan ketaatan, dan anggapanmu bahwa dirimu telah memberikan nikmat kepada Allah dan makhluknya dengan ketaatan tersebut.

Sungguh alangkah dekatnya pelaku kemaksiatan ini kepada rahmat Allah dan alangkah dekatnya orang yang sombong dengan amalannya ini kepada kemurkaan Allah".