Selasa, 28 Februari 2017

IV. Karakteristik Ahlussunnah

Secara garis besar, Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah manusia yang paling baik akhlaknya, sangat peduli terhadap kesucian jiwa mereka dengan berbuat ketaatan kepada Allah Ta'ala, paling luas wawasannya, paling jauh pandangannya, paling lapang dadanya dengan khilaf (perbedaan pendapat), dan paling mengetahui tentang adab-adab dan prisip-prinsip khilaf.




Ahlussunnah wal Jama'ah bisa dibedakan dari golongan-golongan lainnya; dari sifa-sifat, ciri khas, dan tanda diantaranya :

1. Mereka adalah golongan pertengahan (wasathiyyah) dan sedang; tidak ifroth (berlebih-lebihan) dan tidak tafrith (lalai), tidak ghuluw (melampaui batas) dan tidak jafa' (menyia-nyiakan); baik itu dalam perkara akidah, ataukah hukum, ataukah suluk (akhlak). Maka mereka ini berada pada pertengahan antara berbagai golongan di dalam Umat Islam, sebagaimana Umat Islam adalah pertengahan antara berbagai agama.


2. Di dalam hal masdar at-talaqqi (Sumber dalil) mereka mencukupkan diri dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah, mencurahkan perhatiannya pada keduanya, bersikap menerima kepada nash-nashnya, dan memahaminya sesuai dengan Manhaj Salaf (metode generasi awal Umat Islam).


3. Mereka tidak mempunyai imam yang diagungkan, yang semua perkataannya diambil dan meninggalkan apa yang bertentangan dengannya, kecuali perkataan rasulullah. Ahlus Sunnah itulah yang paling mengerti dengan keadaan rasulullah, perkataan dan perbuatannya. Oleh karena itu, merekalah yang paling mencintai sunnah, yang paling peduli untuk mengikutinya,dan yang paling loyal terhadap para pengikutnya.


4. Mereka meninggalkan persengketaan dan pertengkaran dalam agama sekaligus manjauhi orang-orang yang terlibat didalamnya, serta meninggalkan perdebatan dan pertengkaran dalam permasalahan tentang halal dan haram. Mereka masuk ke dalam dien (Islam) secara total.


5. Mereka mengagungkan para salafush shalih dan berkeyakinan bahwa metode Salaf itulah yang lebih selamat, paling dalam pengetahuannya, dan paling bijaksana.


6. Mereka menolak takwil (Penyelewengan suatu nash dari makna yang sebenarnya) dan menyerahkan diri kepada syari'at dengan mendahulukan nash yang shahih daripada akal (logika) belaka dan menundukkan akal dibawah nash.

7. Mereka memadukan antara nash-nash dalam permasalahan dan mengembalikan (ayat-ayat) yang mutasyabihat (ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian/tidak jelas) kepada yang muhkam (ayat-ayat yang jelas dan tegas maksudnya).

8. Mereka merupakan figure teladan orang-orang shalih yang memberikan petunjuk ke arah jalan yang benar dan lurus dengan kegigihan mereka diatas kebenaran, tidak membolak-balikan urusan 'Aqidah kemudian bersepakat atas penyimpangan. Mereka memadukan antara ilmu dan ibadah, antara tawakkal kepada Allah dan Ikhtiar (berusaha), antara berlebih-lebihan dan wara' dalam urusan dunia, antara cemas dan harap, antara cinta dan benci, antara sikap kasih sayang dan lemah lembut kepada kaum Mukminin dengan sikap keras dan kasar kepada orang kafir, serta tidak ada perselisihan diantara mereka walaupun di tempat dan zaman yang berbeda.

9. Mereka tidak menggunakan sebutan selain Islam, sunnah dan jamaah.

10. Mereka peduli dalam menyebarkan 'aqidah yang benar, agama yang lurus, mengajarkannya kepada manusia, memberikan bimbingan dan nasihat kepada mereka, serta memperhatikan urusan mereka.

11. Mereka adalah orang-orang yang paling sabar atas perkataan, 'aqidah, dan dakwahnya.

12. Mereka sangat peduli terhadap persatuan dan jamaah, menyeru dan mengimbau manusia kepadanya, serta menjauhkan perselisihan, perpecahan, dan memberikan peringatan kepada manusia dari hal tersebut.

13. Allah Ta'ala menjaga diri mereka dari sikap saling mengkafirkan sesama mereka. Mereka menghukumi orang selain mereka berdasarkan ilmu dan keadilan.

14. Mereka saling mencintai dan mengasihi sesama mereka, tolong-menolong di antara mereka, dan saling menutupi kekurangan sebagian lainnya. Mereka tidak bersikap loyal dan memusuhi, kecuali atas dasar agama.

III. Definisi Ahlussunnah Wal Jama’ah

As-Sunnah secara bahasa bisa diartikan sebagai jalan hidup atau metode; Sama saja apakah itu baik ataukah buruk.

Misalnya Sabda Rosulullah Shallallahu 'alaihi Wassalam: "Sungguh kalian akan mengikuti sunnah-sunnah orang yang hidup sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta."
Maknanya : Jalan-jalan/Metode-metode mereka dalam beragama dan urusan dunia.

Bila kita melihat pengertian As-Sunnah secara istilah adalah : Petunjuk yang ditempuh oleh Rasulullah Shollallahu 'Alaihi Wassalam, dan juga pada sahabatnya, Meliputi : Ilmu, Akidah (Keyakinan), Perkataan, Amal perbuatan, dan ketetapan.

Sedangkan Jama'ah adalah sekelompok orang banyak; dikatakan sekelompok manusia yang berkumpul berdasarkan satu tujuan. Jama'ah juga berarti kaum yang bersepakat dalam suatu masalah.
Secara istilah jama'ah yaitu kaum muslimin. Mereka adalah pendahulu ummat ini dari kalangan para sahabat, Tabi'in dan orang - orang yang mengikuti jejak kebaikan mereka sampai hari kiamat; mereka berkumpul berdasarkan al-Qur'an dan as-Sunnah dan berjalan sesuai dengan yang telah ditempuh oleh Rasulullah shallallhu 'alaihi wa sallam baik secara lahir maupun bathin.

Rasulullah shallallhu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Hendaknya kalian bersatu dan janganlah bercerai-berai. Sesungguhnya syaitan itu bersama seorang yang sendirian sedangkan dia dari dua orang akan lebih jauh. Barangsiapa menginginkan di tengah-tengah surga, hendaknya ia berjamaah (bersatu)!"
(HR. Ahmad dalam Musnad-nya dan dishahihkan oleh syaikh al-Albani dalam kitab Sunnah karya Ibnu Abi 'Aslim)

Seorang Sahabat yang mulai bernama ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyanllahu’anhu berkata : "Al-Jama’ah adalah yang mengikuti kebenaran walaupun engkau sendirian."
(Diriwayatkan oleh al-Lalika-i dalam kitabnya, Syarh Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah)



Jadi,
Ahlus Sunnah Wal Jama'ah adalah Mereka yang berpegang teguh pada sunnah Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, para Sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti jejak dan jalan mereka, baik dalam hal 'aqidah, perkataan, maupun perbuatan, juga mereka yang istiqomah (konsisten) dalam ber-ittiba' (Mengikuti sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam) dan menjauihi perbuatan bid'ah. Mereka itulah golongan yang tetap menang dan senantiasa ditolong oleh Allah sampai hari kiamat.
 

 

Sabtu, 25 Februari 2017

II. Definisi Salaf

Secara bahasa Salah dapat di artikan "apa yang telah berlalu dan telah mendahului" dapat kita artikan bahwa salaf adalah jamaah (sekelompok) orang yang telah mendahului, atau suatu kaum yang telah berlalu dalam sejarah.
Siapa saja yang mendahului kita, yaitu bapak/ibu kita, kaum kerabat yang secara umut dan keutamaan berada di atas kita. bisa di artikan salaf secara bahasa. Karena itu, generasi pertama yaitu para sahabat dan tabi'in dinamakan As-Salafush Sholih

Perngertian salaf dalam aqidah semua definisinya berkisar pada Para Sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam; Tabi'in, Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in yang hidup dimasa (Tiga abad pertama) yang dimuliakan dari kalangan para imam yang telah di akui keimanannya, kebaikan nya, kepahamannya terhadap as-sunnah dan keteguhan nya dalam menjadikan as-sunnah sebagai pedoman hidupnya, menjauhi bid'ah, dan dari orang-orang yang telah disepakati ummat tentang keimanan mereka serta kedudukan mereka dalam agama. oleh kerena itu, generasi permulaan islam dinamakan as-salafus shaalih.

"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.‛ QS. At-Taubah:100)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, mereka itulah salaf ummat ini. Setiap Orang yang menyeru seperti apa yang diseur oleh rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, berarti dia bermanhaj salaf.
Pemimpin Salafush Shalih adalah Rasulullah  shallallahu alaihi wasallam. Allah Ta'ala  memerintahkan kita agar mengangkat rasulullah sebagai hakim ( penengah) dalam segala aspek kehidupan dan mengembalikan semua hokum kepada peraturan beliau. Allah menjadikan tindakan mengikuti Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam sebagai tanda kecintaan kepada-Nya.

"Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Ali-‘Imran-31)

Oleh karena itu, Rujukan Salafush Shalih ketika terjadi perselisihan adalah Al-Quran dan sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.

Sebaik - baik Salaf setelah Rasulullah adalah Parasahabat, yaitu mereka yang telah mengambil agamanya dari beliau secara benar dan penuh keikhlasan, Kemudian orang-orang yang dating setelah mereka, dari 3 generasi pertama yang dimuliakan.

Oleh karena itu, Para sahabat dan tabi'in itulah yang berhak untuk diikuti dari pada yang lainnya dikarenakan kejujuran mereka dalam keimanan dan keikhlasan mereka dalam beribadah. merekalah penjaga (kemurnian) Aqidah, pelindung syariat dan pelaksananya, baik dengan perkataan maupun perbuatan.

Siapapun yang mengikuti jejak salafush shalih dan berjalan di atas manhaj mereka di semua zaman dinamakan salafi. Olehkarena itu, seorang muslim sudah seharus nya untuk merasa bangga dengan penisbatan dirinya kepada mereka (Salafush Shalih)






Baiknya keislaman


Imam Al ghazali said


Jumat, 24 Februari 2017

I. Definisi Aqidah

Secara bahasa di lihat dari kata yang terkandung dalam "aqidah" dapat bermakna Mengikat, Menguatkan, Berpegang erat, Menetapkan, Keyakinan dan Lawan kata dari makna tersebut adalah Mengurai,Membuka, Melepas.


Pernah disampaikan oleh seorang ustadz di suatu majelis ilmu, yang sedang mengajar Aqidah islam. Beliau menggambarkan bahwa Aqidah itu ibarat sebuah karet yang mengikat pada sayur, sehingga sayur tersebut menjadi kokoh dan tidak lepas atau terurai.


Aqidah adalah ketetapan yang tidak menerima adanya keraguan bagi yang meyakininya. Aqidah didalam agama maksudnya berkaitan dengan keyakinan, bukan perbuatan, seperti keyakinan keberadaan Allah dan diutusnya Rasul.


dapat disimpulkan, bahwa apa yang diyakini manusia secara pasti di dalam hatinya maka itu adalah Aqidah, baik itu benar ataupun salah.


Secara istilah aqidah merupakan suatu perkara yang harus dibenarkan oleh hati, dan jiwa merasa tenang dengan perkara itu sehingga menjadi keyakinan yang tetap tidak tercampur oleh keraguan. Jika tidak sampai pada tingkat keyakinan yang pasti maka tidak bisa dikatakan aqidah. Dinamakan aqidah karena manusia meyakininya didalam hatinya.

Aqidah Islamiyah adalah keyakinan yang pasti dengan rububiyah Allah, uluhiyah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, takdir baik dan buruk-Nya, dan semua perkara ghaib yang telah ditetapkan. Juga yakin dengan dasardasar agama, dan semua yang telah disepakati oleh para orang shalih terdahulu, dan menyerahkan diri dengan sempurna kepada Allah dalam setiap urusan, di dalam hukum, dalam ketaatan, serta mengikuti rasul Nya.



Aqidah Islamiyah jika disebutkan secara mutlak, ia adalah aqidah ahlus sunnah wal jamaah, karena sesungguhnya ia adalah islam yang diridhai Allah untuk hamba-hamba-Nya, yaitu aqidah tiga generasi terpilih dari para sahabat, tabiin dan orang yang mengikuti mereka dengan baik.


Aqidah Islamiyah memiliki nama lain disisi ahlussunnah waljamaah yang sama maksudnya, diantaranya: "Tauhid", "Sunnah", "Ushuluddin", "Fiqhul akbar", "Syariah", "Iman". Ini adalah istilah-istilah terkenal yang telah dimutlakkan oleh ahlussunnah dalam ilmu aqidah.

Rabu, 22 Februari 2017

Perkataan Imam syamsuddin Ibnul Qayyim


Berkata Imam syamsuddin Ibnul Qayyim رحمه الله:

"dan segala sesuatu yang kosong jika ada sesuatu yang masuk di dalamnya niscaya dia menjadi sempit karenanya, dan setiap kali engkau tuangkan sesuatu di dalamnya niscaya dia menjadi sempit kecuali hati yang lembut, maka setiap kali dituangkan di dalamnya iman dan ilmu niscaya dia menjadi luas dan lapang, dan ini termasuk tanda-tanda kekuasaan Ar Rabb (Allah) تعالى ".