Rabu, 14 Juni 2017

VIII. Definisi Iman Menurut Ahlussunnah

Pengertian Iman :
Dan termasuk prinsip-prinsip / pondasi-pondasi Akidah Salafush Sholih, Ahlussunnah wal Jama'ah : Bahwa Iman menurut mereka adalah :

"Membenarkan dengan kalbu, mengatakan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota-anggota tubuh, bisa bertambah karena ketaatan, dan bisa berkurang karena melakukan kemaksiatan."
Iman adalah : perkataan dan amal perbuatan :

* Perkataan : oleh hati dan lisan
* Amal perbuatan : oleh hati, lisan, dan anggota tubuh

(1) Perkataan oleh hati : yaitu akidahnya, membenarkan, menetapkan, dan meyakini.
(2) Perkataan oleh lisan : yaitu mengikrarkan amal; yaitu : bersyahadatain, dan mengamalkan konsekuensinya.
(3) Amal perbuatan anggota tubuh : melakukan segala perintah dan meninggalkan segala larangan.

"Tidak ada iman, kecuali dengan perbuatan; tidak ada ucapan dan perbuatan, kecuali dengan niat; dan tidak ada ucapan, perbuatan, maupun niat, kecuali dengan tuntunan yang sesuai dengan sunnah."

Allah Ta'ala telah menyebutkan sifat orang-orang Mukmin sejati di dalam Al-Qur-an, Yakni bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih dengan apa yang mereka imani, berupa prinsip-prinsip agama maupun cabangnya, baik yang tercermin dalam 'aqida, ucapan, dan perbuatan mereka, yang zhahir maupun bathin. Allah Ta'ala berfirman :

Yang Artinya :
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman [594] ialah mereka yang bila disebut nama Allah [595] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibackan ayat-ayat Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan sholat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian disisi uhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia. (QS.Al-Anfaal:2-4)
Allah Ta'ala selalu menggandengkan antara iman dengan amal perbuatan dalam banyak ayat Al-Quran Al-karim, seperti dalam firman-Nya :
(yang artinya)
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surge firdaus menjadi tempat tinggal" (QS. Al-Kahfi : 107)


Allah berfirman (yang artinya) :
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan : "Tuhan Kami ialh Allah' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih... ". (QS. Fushilat : 30)

Allah juga berfirman (yang artinya) :
"Dan itulah surge yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan." (QS. Az-Zukhruf : 72)




Nabi صلى الله عليه وسلمbersabda:


"Katakanlah: "Aku beriman kepada Allah kemudian istiqamahlah."


 (HR.Muslim)


 
Nabi bersabda juga :


"Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih. Yang paling tinggi adalh ucapan: ‘Laa ilaaha illallaah’ (Tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar,kecuali Allah) dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan (duri, kotoran,dll.-pent) dari jalan. Adapun sifat malu, itu salah satu dari cabang iman." (HR. Al-Bukhari)


 


Jadi ilmu dan amal itu saling terkait, tidak pernah terpisah antara satu dan yang lainnya. Selain itu, amal merupakan inti dari ilmu.


 


Sesungguhnya iman itu memepunyai beberapa tingkat dan cabang, dapat bertambah dan berkurang, serta orang yang beriman itu mempunyai kelebihan antara satu dengan yang lain, seperti dalam beberapa ayat maupun hadits, diantaranya, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) :


" ...dan supaya orang yang beriman bertambah imannya ..." (QS. Al-Muddatstsir: 31)


 Allah Ta’ala berfirman pula :


"...Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?" Adapun orang-orang yang beriman, Maka surat ini menambah imannya...


(QS. At-Taubah: 124)
 


"..dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan


hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (QS. Al-nfal:2)


 "Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)..."


(QS. Al-Fath:4)


Nabi shallallahu 'alaihi wassalam bersabda :


"Barang siapa mencintai (seseorang) karena Allah dan membenci karena Allah pula, maka telah sempurnalah imannya." (Shahiih Sunan Abi Dawud oleh al-Albani).


 
Nabi juga bersabda :


"Barang siapa diantara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaknya ia mengubahnya dengan tanggannya; jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya (menasehati); dan jika ia tidak mampu-pula, maka dengan hatinya, dan yang demikian itu selemah-lemah iman." (HR. Muslim).


Demikianlah para Sahabat...belajar dan memahami dari Rasulullah..bahwa iman itu adalah i’tiqad, ucapan, amal, dapat bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.


 Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib berkata:


"Sabar adalah bagian dari iman, yang kedudukannya seperti kepala pada badan. Barang siapa yang tidak mempunyai kesabaran, maka tidak sempurna imannya."
 
"Abdullah bin Mas’ud berdo’a :


"Ya Allah, tambahkanlah keimanan, keyakinan, dan pemahaman kami!"


 "Abdullah bin ‘Abbas, Abu Hurairah, dan Abu Darda’ pernah berkata:


"Iman itu bertambah dan berkurang."


Waqi’ bin al-Jarrah berkata :


"Ahlus Sunnah mengatakan bahwa iman itu terdiri dari ucapan dan amal."


Imam Ahlus Sunnah, Ahmad bin Hanbal berkata:


"Iman itu bertambah dan berkurang; bertambah dengan amal (ketaatan) dan berkurang dengan meninggalkan amal (ketaatan)."


 Al-Hasan al-Bashri berkata :


"Bukankah iman itu hanya sekadar hiasan dan angan-angan belaka, tetapi ia adalah apa yang menghukam dalam sanubari dan dibenarkan oleh amal."


 Imam asy-Safi’i berkata :


"Iman itu terdiri dari ucapan dan amal; bertambah dan berkurang; bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan."


Al-Hafizh Abu ‘Umar bin ‘Abdul Barr...berkata dalam kitabnya at-Tamhiid :


"Para ahli fiqih dan hadits sepakat bahwa iman itu terdiri dari ucapan dan amal;


tidak ada amal kecuali dengan niat. Iman itu menurut mereka bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Semua bentuk ketaatan adalah iman."


Inilah paham yang menjadi pijakan para Sahabat, Tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dari kalangan ahli hadits, ahli fiqih dan para Imam. Tiada seorangpun yang berselisih dari kalangan ulama Salaf maupun khalaf, kecuali orang-orang yang telah menyimpang dari kebenaran dalam hal ini.