Rabu, 15 Maret 2017

VII. Pendapat Imam Tentang Sifat Allah

Seperti juga yang dikatakan oleh Imam Sufyan bin ‘Uyainah:
"Semua yang Allah Ta’ala sifatkan untuk diri-Nya dalam al-Qur-an, maka bacaannya adalah tafsirnya, tidak perlu bertanya bagaimana dan tidak boleh menyerupakannya dengan sesuatu."

Imam asy-Syafi’i juga berkata:
"Aku beriman kepada Allah dan apa yang datang dari-Nya sesuai dengan apa yang dimaksudkan Allah. Aku beriman kepada Rasul-Nya dan apa yang datang darinya sesuai dengan apa yang dimaksudkan Rasulullah."

Al-Walid bin Muslim berkata:
"Aku bertanya kepada al-Auza’i, Sufyan bin ‘Uyainah, dan Malik bin Anas tentang hadits-hadits dalam masalah sifat dan ru’yah. Maka mereka menjawab:
"Perlakukanlah sebagaimana apa adanya, tanpa menanyakan bagaimananya."

Imam Malik bin Anas – Imam Darul Hijrah – berkata:
"Waspadalah kalian terhadap perbuatan bid’ah!"
 Beliau ditanya: "Apakah bid’ah itu?"
 Beliau menjawab: "Ahli bid’ah adalah mereka yang memperbincangkan asma’
Allah, sifat-sifat-Nya, kalam-Nya, ilmu-Nya, dan kekuasaan-Nya. Mereka tidak diam seperti diamnya para Sahabat dan Tabi’in yaitu orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik."
Seseorang bertanya kepada Imam Malik bin Anas tentang maksud firman
Allah:
"(Yaitu) Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas 'Arsy."(QS. Thaahaa: 5)

Beliau menjawab:
"Istiwa’-nya Allah tidaklah majhul (diketahui maknanya), kaifiyat-nya tidak dapat dicapai akal (tidak diketahui), beriman kepadanya wajib, dan bertanya tentang hal tersebut adalah perbuatan bid’ah. Sungguh, aku tidak melihatmu, kecuali engkau seorang yang sesat."
Kemudian, beliau menyuruh agar orang tersebut dikeluarkan dari majelis ilmu beliau."(Diriwayatkan oleh Imam al-Baghawi, dalam kitab Syarhus Sunnah).

Imam Abu Hanifah berkata: "Seseorang tidak boleh berbicara sedikit pun tentang Dzat Allah, namun hendaknya ia menyifati-Nya dengan sifat-sifat yang telah Allah sifatkan untuk diri-Nya dan tidak mengatakan dalam hal ini dengan pendapatnya semata. Maha Suci Allah lagi Maha Tinggi, Rabb semesta alam."
Ketika beliau ditanya tentang sifat Nuzuul (turunnya Allah ke langit dunia), beliau berkata: "Dia turun dan (jangan bertanya) ‚bagaimana‛ (Dia turun)?"

Imam al-Hafizh Nu’aim bin Hammad al Khuza’i RA berkata:
"Barang siapa menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka ia telah kafir dan barang siapa mengingkari apa yang telah Allah sifatkan untuk diri-Nya, maka ia telah kafir. Apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya maupun (disifatkan oleh) Rasul-Nya bukanlah tasybih (penyerupaan)."
(Diriwayatkan Imam adz-Dzahabi dalam kitab al-‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffaar).

Sebagian Salaf berkata:
"Pijakan Islam tidak akan kokoh, kecuali di atas jembatan taslim (menerima apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya)."

Oleh karena itu, barang siapa mengikuti metode Salaf dalam berbicara Dzat Allah Ta’ala dan sifat-Nya, maka ia akan konsisten dengan manhaj al-Quran tentang asma’ Allah dan sifat-sifat-Nya, baik orang tersebut hidup pada zaman Salaf maupun pada zaman setelahnya.

Sebaliknya, barang siapa berselisih dengan Salaf dalam manhajnya, maka ia tidak akan konsisten dengan manjhaj al-Qur-an walaupun ia berada di zaman Salaf, bahkan sekalipun ia hidup di antara para Sahabat dan Tabi’in





Tidak ada komentar:

Posting Komentar